Kisruh Politik Berlarut-larut, DPR Filipina Akhirnya Lengserkan Wakil Presiden Sara Duterte
Serangkaian tuduhan kejahatan diarahkan kepada Sara Duterte mulai dari penyalahgunaan dana publik hingga merencanakan pembunuhan terhadap Marcos.
Wakil Presiden Filipina Sara Duterte dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat setelah para anggota parlemen, banyak di antaranya adalah sekutu Presiden Ferdinand Marcos Jr, menandatangani petisi untuk mencopotnya dari jabatan.
Meskipun rincian spesifik belum diungkapkan, pemungutan suara pemakzulan pada hari ini dilakukan setelah serangkaian keluhan yang menuduh Duterte melakukan berbagai kejahatan, mulai dari penyalahgunaan dana publik hingga merencanakan pembunuhan terhadap Marcos.
Duterte secara konsisten membantah semua tuduhan dan menggambarkan langkah-langkah terhadapnya sebagai balas dendam politik.
"Dengan telah diajukannya pemakzulan oleh lebih dari sepertiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat, atau total 215 dari 306 anggota, … maka mosi ini disetujui," kata Ketua DPR Martin Romualdez kepada para anggota parlemen, seperti dilansir laman Aljazeera, Rabu (5/2).
Nasib Duterte kini berada di tangan 24 senator. Dua pertiga dari mereka harus menyetujui pemakzulan agar dia resmi dicopot dari jabatan. Meskipun tanggal persidangan belum ditetapkan, ia akan tetap menjabat sebagai wakil presiden selama proses pemakzulan berlangsung.
Duterte menjadi pejabat keempat di Filipina yang dimakzulkan setelah mantan Presiden Joseph Estrada, seorang ombudsman, dan mantan Ketua Mahkamah Agung.
Di Filipina, pejabat tinggi dapat dimakzulkan atas dasar pelanggaran berat terhadap konstitusi, pengkhianatan, suap, korupsi, kejahatan berat lainnya, atau pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.
Pemungutan suara di Dewan Perwakilan terjadi beberapa hari sebelum dimulainya kampanye untuk pemilu paruh waktu, yang diperkirakan akan menjadi ajang persiapan menuju pemilihan presiden 2028.
Dari Sekutu Menjadi Rival
Marcos sebelumnya mendesak Kongres untuk tidak melanjutkan pemakzulan Duterte, menyebutnya sebagai "badai dalam cangkir teh" yang hanya akan mengalihkan perhatian legislatif dari tugas utamanya.
Namun, pada hari Senin, Sekretaris Eksekutif Marcos, Lucas Bersamin, mengatakan Kantor Kepresidenan tidak akan ikut campur dalam proses pemakzulan.
Selama bertahun-tahun, Duterte dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya yang kontroversial, Rodrigo Duterte, sebagai presiden. Namun, ia akhirnya mengalah dan mendukung Marcos, maju sebagai calon wakil presiden. Bersama-sama, mereka meraih kemenangan telak pada tahun 2022.
Namun, aliansi tersebut kini hancur, memicu perseteruan publik selama berbulan-bulan yang diwarnai dengan berbagai tuduhan liar.
Pada November lalu, Duterte menyampaikan pidato penuh sumpah serapah ketika ia mengatakan telah memerintahkan seseorang untuk membunuh Marcos jika dirinya sendiri terbunuh.
Ia juga menuduh Marcos dan istrinya terlibat dalam korupsi, memiliki kepemimpinan yang lemah, serta berusaha membungkamnya karena adanya spekulasi bahwa ia mungkin mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.
Sementara itu, Duterte dituduh menyalahgunakan dana publik sebesar 612,5 juta peso ($10,3 juta), yang menyebabkan pengunduran dirinya pada bulan Juni dari kabinet Marcos, di mana ia sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pendidikan.