Perjuangan Hidup Anak Gadis Tukang Bangunan Hidup Melarat Sampai Pernah Kelaparan, Kini Sukses Jadi Dokter
Berikut perjuangan hidup anak gadis tukang bangunan yang sempat hidup melarat dan kini sukses menjadi dokter.
Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Apalagi jika diiringi oleh kerja keras, usaha dan doa tiada henti. Seperti halnya yang dirasakan oleh wanita satu ini.
Menjadi putri dari tukang bangunan membuatnya hidup begitu sederhana. Bahkan, Ia sampai pindah-pindah tempat tinggal lantaran orangtuanya tak lagi bekerja.
Segala rintangan pun dihadapi olehnya. Hingga akhirnya Ia berhasil menjadi orang sukses saat ini. Kini, Ia telah sukses menjadi seorang dokter berkat usaha dan doa kedua orang tuanya.
Lantas bagaimana kisah perjuangan hidup anak gadis tukang bangunan yang sempat hidup melarat dan kini sukses menjadi dokter? Melansir dari akun TikTok dr.nila.ps, Rabu (11/6), simak ulasan informasinya berikut ini.
Hidup Sederhana Sering Pindah Tempat Tinggal
Di balik kesuksesan seseorang, sering kali tersimpan kisah perjuangan yang inspiratif. Salah satunya adalah dokter cantik bernama dokter Nila.
Siapa sangka, Ia bukanlah anak dari keluarga kaya raya. Ia merupakan anak dari seorang tukang bangunan. Saking sederhananya, Ia dulu sempat pindah-pindah tempat tinggal lantaran keluarganya hidup susah.
"Memang anak tukang bangunan bisa jadi dokter? Alhamdulillah bisa berkat doa kedua orang tua," tulis dokter Nila.
"Saat sudah mulai SD, bapak bahkan tidak bekerja lagi. Jadi doknil hampir tidak pernah tinggal dengan orang tua semasa sekolah. Hidup berpindah-pindah dari satu saudara ke saudara lain karena mereka juga susah," jelasnya.
"Orang tua pun bernasib sama, mereka juga hidup berpindah-pindah dari satu anak ke anak yang lain," sambungnya.
Sekolah Sambil Jualan
Meskipun hidup kesusahan, Ia tetap ingin berjuang demi masa depannya. Dengan keinginan kuat, dokter Nila melakukan apapun untuk bisa bersekolah. Bahkan, Ia tak malu berjualan sembari bersekolah.
"Jadi dari mana bisa sekolah? Dari keinginan yang kuat dan semestapun akan mendukung. Yang ada dipikiran dari dulu hanyalah belajar-belajar dan belajar. Kelaparan di sekolah gak masalah. Gak bisa beli buku, fotokopi saja. Sepatu robek, baju lusuh, untung ada guru yang berbaik hati memberi seragam," ungkapnya.
Dokter Nila tidak ingin putus sekolah meski dia tahu oenuh dengan keterbatasan. Namun dengan kerja keras dan perjuangannya, dia selalu menjadi juara umum di sekolah.
"Sekolah sambil jualan juga dikerjakan. Apapun yang penting gak putus sekolah. Walaupun sekolah dengan keterbatasan, kekurangan dan penuh perjuangan. Alhamdulillah selalu menjadi juara umum," tambahnya.
Dapat Beasiswa di Kampus Top Indonesia
Setelah lulus SMA, nasibnya tidak bisa sama seperti teman-teman lainnya. Di saat mereka sibuk ujian masuk kuliah, dokter Nila saat itu justru harus sibuk mencari uang demi bisa bertahan hidup.
"Lulus SMA disaat teman-teman lain sibuk ke sana ke mari ikut ujian masuk kuliah, Doknil sibuk cari uang untuk bertahan hidup dengan kerja di minimarket. Di depan minimarket tersebut ada UNIBA (Universitas Batam), sambil bekerja dan bergumam dalam hati 'Alangkah bahagianya aku kalau bisa kuliah di sana'. Doknil gak ada biaya sama sekali untuk lanjut kuliah," jelasnya.
Namun memang nasib baik masih berpihak kepadanya. Di tengah-tengah bekerja, Ia dikabarkan jika lulus masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia (UI). Tidak tanggung-tanggung, Ia juga mendapatkan beasiswa penuh.
"Allah menjawab lebih dari harapan Doknil. Saat sedang bekerja di minimarket, abang ipar Doknil datang beli rokok dan menyampaikan berita bahwa Doknil keterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan beasiswa penuh. Bagaimana bisa?," lanjutnya.
Berkat Doa Orang Tua
Keberhasilan yang mulai menghampirinya ini rupanya berkat doa dari kedua orang tuanya. Luar biasanya, kedua orang tuanya juga berjuang mencari pinjaman agar Ia bisa berangkat ke Jakarta.
"Semua berkat doa mereka. Jadi saat sebelum kelulusan, Doknil sempat mengikuti seleksi beasiswa full untuk FKUI. Dan ternyata Alhamdulillah rupanya lulus. Tapi masih ada kendala waktu itu doknil tidak ada biaya untuk berangkat ke Jakarta karena uang beasiswa belum keluar di awal. Jadilah mamak dan bapak ke sana ke mari mencari pinjaman untuk berangkat ke Jakarta," paparnya.
"Awal-awal kuliah adalah masa yang berat karena uang beasiswa belum keluar. Jadi doknil bertahan hanya dengan makan roti dan air putih berhari-hari untuk menghemat bekal yang yang dibawa. Tak jarang pulang kuliah pun sering menggigil kelaparan. Di saat yang sama doknil juga harus memikirkan nasib keluarga di Batam," sambung dokter Nila.
Rela Tahan Lapar
Perjuangannya pun belum berhenti di sana. Saat kuliah, Ia juga masih terus berjuang dan kerja keras. Alih-alih bisa menikmati masa-masa kuliah dengan tenang, Ia justru harus menhadapi rintangan yang tak kalah sulit.
Belum memiliki uang yang banyak, dokter Nila sampai rela menahan lapar. Bahkan, Ia sempat menggigil kelaparan usai pulang kuliah.
"Kekurangan dan kemiskinan tak menjadi penghalang. Doknil fokus dan gigih belajar. Doknil mampu menahan semua penderitaan. Doknil terbiasa menahan lapar. Tapi doknil tak tahan kalau mendengar keluarga kesusahan di Batam. Doknil berusaha menyisihkan sebagian uang beasiswa untuk dikirim ke keluarga," paparnya.
"Alhamdulillah semua terlewati. (Ia) lulus tepat waktu dengan nilai memuaskan. Ujian kedokteran one shoot. Bahkan sempat mengikuti lomba penelitian tingkat dunia di Jerman. Ini semua karena doknil mempunyai motivasi yang kuat yaitu orang tua dan keluarga," tutupnya.