Cerita Anak Buruh, Lulus Kedokteran Undip Lewat Jalur Beasiswa Raih IKP 3,96
Gadis ini rela berangkat kuliah jalan kaki dari Rusunawa Undip ke Kampus Fakultas Kedokteran yang jaraknya hampir 3 kilometer.
Berkat beasiswa Bidikmisi, sekarang Kartu Indonesia Pintar (KIP), Annisa Himmatul. A bisa meraih cita-citanya setelah menyelesaikan gelar Sarjana Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Undip dengan IPK nyaris sempurna 3,96.
Annisa harus melalui perjuangan untuk menggapai cita-citanya. Sebab, latar belakang dari keluarga sederhana membuktikan bahwa butuh kerja keras, dukungan dari lingkungan akademik yang baik dapat mengantarkan mahasiswa seperti dirinya mencapai impian.
Akhirnya dia lulus mengikuti wisuda ke-177 di Gedung Muladi Dome pada 5 Februari 2025. Annisa terlahir dari keluarga ekonomi sangat biasa, ayahnya bekerja sebagai buruh toko meubel, dan ibunya seorang penjahit sempat mengurungkan niatnya untuk menjadi dokter.
Namun impian itu muncul ketika melihat kakak kelasnya bisa mendapat beasiswa kedokteran.
"Saya kelas 10 akhirnya termotivasi mimpi itu. Karena sejak kecil ingin jadi dokter," kata dia.
Seiring waktu berjalan setelah lulus SMA, dia akhirnya diterima di FK UNDIP dan dapat beasiswa Bidikmisi, sekarang Kartu Indonesia Pintar (KIP). Meski uang kuliah, dan biaya hidup sudah ditanggung bukan dia bisa hidup dengan berlebihan.
Jalan Kaki Hampir 3 Km ke Kampus
Bahkan dia rela berangkat kuliah jalan kaki dari Rusunawa Undip ke Kampus Fakultas Kedokteran yang jaraknya hampir 3 kilometer, dan sebelum akhirnya perkuliahan berjalan secara daring karena era covid-19.
Annisa juga merasa sangat bersyukur karena merasakan lingkungan akademik yang inklusif dan suportif. Dia merasa didukung tidak hanya oleh teman-temannya tetapi juga oleh para dosen yang selalu memberikan motivasi.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa kenal dengan banyak teman yang selalu mendukung saya, baik secara emosional maupun dalam hal lain. Tidak ada perbedaan meskipun latar belakang ekonomi saya sangat berbeda dengan teman-temannya. Dosen-dosen juga sangat mendukung, mengajar kami dengan sepenuh hati, dan memotivasi kami untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, baik S2 maupun spesialis,” jelasnya.
Dia juga sudah mendapatkan banyak ilmu dari guru-guru (cadaver/ jenazah yang diawetkan untuk belajar materi kedokteran) dan pasien-pasien yang sudah memperbolehkannya untuk belajar saat koas.
"Tanpa mereka saya tidak akan bisa menjadi dokter,” ungkapnya.
Kini Tunggu Penempatan Internship
Saat ditanya mengenai kunci suksesnya dalam menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran UNDIP, Annisa menekankan pentingnya mengenali kemampuan diri sendiri dan menerapkan strategi belajar yang efektif.
"Harus tahu kemampuan diri sendiri, belajar lebih ekstra sesuai dengan materi, dan pastinya banyak berdoa,” ujarnya.
Dr. Annisa sendiri memang anak yang tekun dan berprestasi sejak SMA serta aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun non akademik. Setelah menyelesaikan studinya, Annisa kini tengah menunggu penempatan internship dari Kementerian Kesehatan.
Program ini merupakan tahap penting bagi lulusan kedokteran sebelum mereka dapat berpraktik secara profesional.
"Setelah internship, rencananya saya ingin bekerja sembari mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi ke jenjang S2,” pungkasnya.