Diancam Dibunuh, ini Cara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Hindari Pelacakan Israel
Israel terus memburu Ayatollah Ali Khamenei pasca serangan RS Soroka di Be'er Sheva, Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kabarnya berada di bunker untuk bersembunyi dan menghindari ancaman pembunuhan dari Israel.
Selain itu, Khamenei juga melarang semua komunikasi elektronik dan memilih berbicara kepada para komandan militer melalui "ajudan terpercaya" untuk menghindari penyadapan.
Dikutip dari New York Times yang diberitakan Jerusalem Post, Senin (23/6) kebijakan ini dilakukan menyusul adanya ancaman pembunuhan kepadanya seperti yang beredar belakangan ini.
Tiga pejabat Iran yang dikatakan mengetahui rencana perang darurat Khamenei membenarkan kabar tersebut. Mereka mengatakan bahwa kekhawatiran atas infiltrasi Israel ke Iran dan eselon keamanannya telah mengguncang struktur kekuasaan Iran, bahkan Ayatollah Khamenei.
Kebijakan tersebut dilakukan saat media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran mulai memperingatkan penduduk setempat agar waspada dengan pelacakan ponsel.
Mereka menuduh Israel telah menggunakan pelacakan telepon seluler untuk mengidentifikasi dan melakukan rencana pembunuhan di Iran, termasuk pembunuhan ilmuwan nuklir.
Israel-AS 'Buru' Khamenei
Khamenei menjadi sosok yang paling dicari oleh Israel pasca serangan rudal ke Rumah Sakit Soroka di Be'er Sheva, Israel pada Kamis (19/6) lalu.
Dikutip dari AFP, Senin (23/6) Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Kartz mengancam akan membunuh pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Kartz menyebut Khamenei 'tidak boleh lagi dibiarkan hidup' beberapa waktu setelah laporan Amerika Serikat (AS) memveto rencana Israel untuk membunuhnya.
"Orang semacam itu tidak boleh lagi dibiarkan untuk hidup," ucap Katz.
Tuduhan lain dilontarkan Katz yang menyebut Khamenei ingin menghancurkan Israel sehingga menyerang rumah sakit.
"Khamenei secara terbuka menyatakan bahwa dia ingin Israel dihancurkan dan secara pribadi memberikan perintah menyerang rumah sakit," jelas Katz kepada wartawan di kota Holon, Kamis (19/6).
Selain Israel, ancaman pembunuhan Khamenei juga sempat dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (17/6/2025).
Dalam sebuah unggahan di akun Truth Social miliknya, Trump mengklaim tahu di mana Ali Khamenei bersembunyi selama konflik Israel-Iran. Trump tegas meminta Khamenei menyerah tanpa syarat sebelum AS bertindak lebih tegas.
"Kami tahu persis di mana yang disebut 'Pemimpin Tertinggi' itu bersembunyi."
"Dia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana, kami tidak akan menghabisinya (membunuhnya!), setidaknya tidak untuk saat ini. Tetapi kami tidak ingin rudal ditembakkan ke warga sipil, atau tentara Amerika. Kesabaran kami menipis," ujar Trump.
Rusia Pasang Badan Lindungi Khamenei
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) pada Jumat (20/6) memberikan komentar terkait ancaman pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei oleh Israel.
Putin berharap isu tersebut hanya sebatas "retorika" politik. Lebih lanjut, ia memastikan Rusia akan selalu mendukung terjaminnya keselamatan dan keamanan negara manapun tanpa merusak negara lain.
Pernyataan itu menyambung ucapan juru bicara Putin, Dmitry Peskov yang menganggap ancaman pembunuhan Khamenei oleh Menhan Israel sangat tak bisa diterima. Menurutnya, serangan Israel ke Iran akan berisiko pada kehancuran nuklir di wilayah tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan juga mengutuk keras penyerangan situs nuklir di Iran oleh Amerika Serikat. Ia menyebut serangan itu "tidak bertanggung jawab" dan pelanggaran berat hukum internasional.
"Sudah jelas bahwa eskalasi yang berbahaya telah dimulai, yang penuh dengan perusakan lebih lanjut terhadap keamanan regional dan global."
"Keputusan yang tidak bertanggung jawab untuk menjadikan wilayah negara berdaulat sebagai sasaran serangan rudal dan bom. Apa pun argumen yang diajukan, secara mencolok melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata kementerian tersebut.