Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini menyatakan bahwa Rusia dan China secara konsisten memberikan dukungan politik kepada Teheran. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dan operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat serta Israel di kawasan Timur Tengah.
Menurut Araghchi, dukungan dari kedua negara adidaya itu tidak hanya bersifat politik, tetapi juga mencakup aspek-aspek lain yang tidak dapat diungkapkan secara publik. Hal ini disampaikan kepada NBC sebagai respons atas pertanyaan mengenai posisi Iran dalam konflik. Ia menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan strategi di tengah situasi perang.
Situasi di Timur Tengah memanas setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Serangan itu menargetkan berbagai lokasi di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan signifikan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei turut tewas dalam insiden tersebut.
Advertisement
Advertisement
Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, mengonfirmasi bahwa Rusia dan China tetap menjadi sekutu penting bagi Teheran. "Mereka mendukung kami secara politik, dan dalam hal lainnya," kata Araghchi kepada NBC sebagai tanggapan atas pertanyaan terkait. Dukungan ini dianggap krusial mengingat eskalasi operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran.
Ketika ditanya mengenai detail kerja sama, Araghchi memilih untuk tidak membeberkannya secara terbuka kepada publik. "Saya tidak akan memberikan rincian kerja sama kami dengan negara lain, tepat di tengah-tengah perang," kata Araghchi. Ia beralasan bahwa mengungkapkan rincian tersebut tidak strategis di tengah kondisi perang yang sedang dihadapi Iran. Sikap ini menunjukkan adanya kerja sama yang mendalam namun dirahasiakan antara Iran dengan Rusia dan China.
Pernyataan Araghchi menggarisbawahi kompleksitas aliansi geopolitik di Timur Tengah. Dukungan dari kekuatan global seperti Rusia dan China memberikan Iran posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Ini juga menyoroti pergeseran dinamika kekuatan di kancah internasional.
Advertisement
Advertisement
Konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Serangan ini menargetkan berbagai sasaran di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan korban jiwa sipil dan kerusakan infrastruktur. Insiden paling mengejutkan adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut.
Iran tidak tinggal diam dan segera melancarkan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di seluruh kawasan Timur Tengah. Aksi saling serang ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas dan tidak terkendali di wilayah tersebut. Dunia internasional pun menyoroti perkembangan situasi ini dengan serius.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam keras pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, menyebutnya sebagai pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel, menyerukan deeskalasi segera dan penghentian permusuhan demi menjaga stabilitas kawasan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews