Di balik tren menyeduh kopi sendiri di rumah (home brewing), industri kopi lokal kini tengah mengalami lompatan besar. Tidak lagi sekadar mengandalkan gerai fisik, para pelaku usaha kopi Nusantara sukses mengamankan pertumbuhan bisnis yang signifikan lewat integrasi konten kreatif dan perdagangan digital.
Bagi sebuah usaha kopi dan roastery lokal asal Bekasi yang dirintis sejak 2018, transisi ke ranah digital telah mengubah peta bisnis secara drastis. Melalui edukasi karakter rasa kopi lewat video pendek dan LIVE Shopping, usaha ini berhasil menjadikan platform teknologi seperti Tokopedia dan TikTok Shop sebagai penopang utama bisnis, dengan kontribusi penjualan mencapai 40 persen dari keseluruhan omzet.
Dampak dari kehadiran digital ini kian terasa nyata, usaha yang ikut berpartisipasi dalam program khusus 'Beli Lokal', membuat volume penjualan harian melonjak hingga 60 persen dibandingkan hari biasa. Bahkan, lewat pemasaran berbasis konten yang interaktif, varietas kopi Excelsa asal Sumedang yang tergolong sangat langka karena hanya menyumbang 2 persen dari total produksi dunia berhasil terjual habis dalam waktu singkat.
Pendiri roastery, Teuku Andi Nova Reza, menjelaskan bahwa LIVE Shopping memungkinkannya menceritakan asal-usul setiap biji kopi secara langsung kepada konsumen.
"Ketika masyarakat memahami cerita di balik produknya, nilai apresiasi mereka terhadap kopi lokal pun meningkat pesat," ucap dia di Jakarta, Selasa (14/7).
Peningkatan penjualan di hilir secara otomatis menciptakan dampak domino yang luar biasa bagi penyerapan tenaga kerja dan sektor hulu. Usaha yang awalnya hanya beranggotakan 5 orang ini kini telah berkembang pesat dan membuka lapangan kerja bagi lebih dari 100 orang, mulai dari tim produksi, pengemasan, hingga pemandu belanja daring.
Pertumbuhan ini juga memperluas jaringan kemitraan langsung dengan petani lokal di berbagai wilayah penghasil kopi terbaik, seperti Mandailing, Karo, Lampung, Jawa Barat, Temanggung, Ijen, Flores, Bali, Toraja, hingga Papua.
Advertisement
Rangkul 20.000 Penjual Lokal
Kisah sukses dari industri kopi ini hanyalah satu dari ribuan potret UMKM yang berhasil naik kelas lewat digitalisasi. Berdasarkan data nasional hingga kuartal I 2026, program pemberdayaan 'Beli Lokal' telah merangkul lebih dari 20.000 penjual lokal pilihan di seluruh Indonesia, atau meningkat 30 persen secara tahunan.
Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk dalam negeri juga tercermin dari jumlah etalase berlabel 'Buatan Indonesia' yang melonjak 44 persen hingga mendekati angka 2 juta produk.
Di sisi lain, upaya pemerataan digitalisasi terus menunjukkan hasil positif melalui program pelatihan taktis yang telah mengedukasi lebih dari 4.800 UMKM, kreator, dan afiliator, di mana 77 persen di antaranya berasal dari luar wilayah Jabodetabek.
Senior Director of Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Vonny Ernita Susamto, menegaskan bahwa kemudahan akses konsumen terhadap produk lokal memberikan dampak sosial yang luas. Ketika produk dalam negeri semakin mudah ditemukan, manfaat ekonominya tidak berhenti pada angka penjualan saja, melainkan ikut menciptakan lapangan kerja baru, menyejahterakan petani, dan memperkuat rantai pasok dalam negeri secara berkelanjutan.
"Ketika produk lokal semakin mudah ditemukan, manfaat ekonominya tidak berhenti pada angka penjualan saja. Di baliknya, ada lapangan kerja baru yang tercipta, petani yang sejahtera, dan rantai pasok dalam negeri yang semakin solid," tutup Vonny Ernita Susamto.