Ajarkan Anak Supaya Menang Lomba Makan Kerupuk, Alif Jebolan ITB Bongkar Pakai Rumus Ini
Alif Hijriah (29), alumni Magister Matematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), membagikan strategi unik kepada anaknya.
Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, berbagai lomba tradisional kembali semarak, termasuk lomba makan kerupuk.
Namun, siapa sangka, ada pendekatan ilmiah yang bisa diterapkan untuk meningkatkan peluang menang dalam lomba ini.
Alif Hijriah (29), alumni Magister Matematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), membagikan strategi unik kepada anaknya untuk menaklukkan lomba makan kerupuk menggunakan prinsip-prinsip fisika.
Dalam penjelasannya dalam video Tik Tok aliftowew yang dikutip merdeka.com, Selasa (5/8), Alif memaparkan tiga strategi utama berdasarkan teori osilasi, momentum, dan kelembapan mulut.
"Pertama, usahakan tali kerupuk yang digunakan paling panjang," jelas Alif.
Menurutnya, tali yang lebih panjang membuat ayunan kerupuk memiliki periode lebih besar, sehingga ayunannya menjadi lebih lambat dan stabil. Dengan demikian, peserta memiliki lebih banyak waktu untuk menggigit kerupuk dengan tepat.
Strategi kedua adalah memilih momen yang tepat untuk menggigit kerupuk.
"Kecepatan kerupuk paling rendah terjadi di titik tertinggi ayunan. Jadi lebih mudah menggigit saat kerupuk berada di ujung atas," ujarnya.
Pada posisi ini, kerupuk nyaris diam, sehingga risiko meleset saat menggigit menjadi lebih kecil.
Strategi terakhir berkaitan dengan kondisi mulut. Berdasarkan penjelasan ilmiah yang disederhanakan, Alif menyebut bahwa kerupuk akan lebih cepat lunak dan mudah dikunyah jika mulut dalam keadaan lembap.
"Kalau mulut kering, butuh waktu sekitar 900 detik untuk melumat kerupuk. Tapi kalau lembap, cukup sekitar 22 detik," katanya.
"Dede harus menang ya, juara ke satu oke? tos dulu. Tas dulu dong," ujar dia.
Oleh karena itu, disarankan untuk minum atau membasahi mulut sebelum lomba dimulai.
Tips-tips ini disambut antusias oleh warganet dan peserta lomba tujuh belasan, yang menyebut pendekatan ini sebagai cara cerdas dan lucu untuk menghadapi permainan tradisional.
"Tapi emang kalau paham konsep fisika dlm kehidupan sehari" lbh mempermudah pekerjaan kita," tulis akun @kishana_jn.
"Kalau pake pelatih gini, sdh bukan tingkat kelurahan atau kecamatan, tapi tingkat negara ini mah 😌😌," timpal akun@user12345678.