Agenda Terselubung AS-Israel di Balik Gencatan Senjata dengan Hamas di Gaza
Amerika Serikat dan Israel punya misi terselubung di balik gencatan senjata dengan Hamas.
Calon penasihat keamanan Nasional Amerika Serikat, Mike Waltz, angkat bicara soal kesepakatan gencatan senjata Israel dan Hamas. Waltz memuji kesepakatan tersebut.
Waltz mengatakan pemerintahan baru AS di bawah Presiden Donald Trump yang segera dilantik tidak akan menghentikan pasokan senjata kepada Israel. Bahkan, AS di bawah Trump akan siap mendukung Israel jika masih perlu untuk menginvasi Gaza.
Selain itu, Waltz juga mendorong agar adanya normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi ketika peperangan antara Israel dan Hamas berakhir. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.
Amerika Serikat Tetap Pasok Senjata ke Israel
Mengutip dari Times of Israel, anak buah Trump yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR Florida, Mike Waltz mengatakan AS di bawah Trump akan mendukung Israel dan memberi pasokan senjata jika negeri zionis itu 'kembali' ke Gaza.
“Kami telah menjelaskannya dengan sangat jelas kepada Israel, dan saya ingin rakyat Israel mendengarkan saya tentang hal ini: Jika mereka perlu kembali, kami akan mendukung mereka,” katanya.
Hamas telah menuntut agar peperangan sesegera mungkin diakhiri seutuhnya. Namun, Israel berdalih bahwa mereka harus terus mempertahankan peperangan. Alasannya untuk memastikan lawannya tidak lagi menjadi ancaman besar.
Padahal, selama ini, pihak yang melakukan serangan hingga mengakibatkan kehancuran dan 46 ribu lebih warga Palestina di Gaza wafat adalah Israel. Mereka telah membunuh puluhan ribu perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah di Gaza.
Setelah terpilih, Trump berkali-kali mengancam bahwa akan ada "neraka yang harus dibayar" jika tidak ada kesepakatan yang dicapai pada saat ia menjabat. Ancaman itu ditujukannya buat Hamas.
Pemerintahan Joe Biden memainkan peran penting dalam membantu pembicaraan sehingga hampir mencapai kesepakatan beberapa kali, tetapi belum sempat mencapai kesepakatan akhir.
Misi Terselubung
Menurutnya, Trump memiliki pengaruh lebih besar atas PM Benjamin Netanyahu daripada Biden. Waltz dalam sebuah wawancara mengatakan jika hubungan pemerintahan yang akan datang dengan Israel akan jauh lebih suportif ketimbang era Biden.
“Saya pikir kita berada dalam posisi yang sangat baik karena pemerintah Israel terkadang tidak mendengarkan nasihat yang tidak begitu baik yang keluar dari pemerintahan ini,” kata Waltz.
Seperti diketahui, Biden sempat menahan pasokan bom seberat 2.000 pon ke Israel, dan Waltz mengatakan jika pemerintahan Trump tidak akan menghentikan pasokan tersebut dengan dalih untuk memastikan Israel dapat mempersenjatai diri.
“Anda tidak akan melihat pemerintahan ini mengerem untuk memastikan Israel dapat mempersenjatai dirinya sendiri.” katanya.
Selain itu, menurut Waltz, AS akan mulai mendorong Arab Saudi untuk menormalisasi hubungan dengan Israel setelah perang berakhir. Ia mengatakan kepada Senor bahwa proses tersebut merupakan prioritas besar.
Pungkasnya, di balik pujian Waltz terhadap gencatan senjata antara Israel dan Hamas, ia tetap akan mendukung Israel jika serangan ke Gaza kembali dilakukan. Selain itu, ia juga bertekad untuk menghancurkan Hamas yang dipropagandakannya sebagai teroris dan memastikan mereka pergi dari Gaza, tanah air mereka sendiri.
"Kita perlu mengeluarkan orang-orang kita, kita perlu menghancurkan Hamas sebagai organisasi teroris militer dan kita 100 persen mendukung itu, dan kemudian kita dapat kembali menyusun kesepakatan damai di Timur Tengah," katanya.