WorldCoin sebut Token Tak Digunakan sebagai Imbalan Verifikasi Iris Mata
WorldCoin menegaskan bahwa token yang diterbitkan bukanlah bentuk imbalan untuk verifikasi biometrik.
WorldCoin saat ini menjadi bahan pembicaraan hangat, menegaskan bahwa distribusi token yang diberikan tidak dimaksudkan sebagai bentuk imbalan atas proses verifikasi identitas yang dilakukan melalui teknologi biometrik.
Dalam pernyataan resmi yang diterima pada hari Senin (5/5/2025), Tools for Humanity mengungkapkan bahwa token WorldCoin bersifat opsional dan hanya bertujuan sebagai insentif bagi pengguna untuk mengeksplorasi layanan yang ditawarkan oleh jaringan World.
"Token ini merupakan insentif bagi pengguna untuk menjelajahi dan memanfaatkan jaringan World, yang menyediakan berbagai layanan bermanfaat," tulis perusahaan tersebut.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa token tersebut dapat digunakan untuk mengakses serta berinteraksi dengan layanan yang disediakan oleh para pengembang melalui platform World.
Dalam pernyataan itu, Tools for Humanity juga menegaskan bahwa mereka tidak menyimpan data pribadi atau biometrik dari pengguna.
Teknologi yang digunakan hanya berfungsi untuk memverifikasi keunikan individu tanpa menyimpan informasi tersebut.
Menurut Tools for Humanity, verifikasi dilakukan dengan menggunakan perangkat khusus bernama Orb, yang merupakan kamera canggih yang bertugas mengambil gambar mata pengguna untuk menghasilkan iris code, sebuah representasi numerik unik dari pola iris mata seseorang.
Kode tersebut tidak disimpan dalam bentuk data mentah, melainkan dikonversi secara kriptografis menjadi serangkaian angka anonim menggunakan teknologi canggih. Angka-angka ini tidak dapat dihubungkan kembali ke identitas individu mana pun.
Selanjutnya, angka anonim tersebut disimpan secara terpisah dalam basis data yang dikelola oleh pihak ketiga independen dan terpercaya, seperti universitas. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa tidak ada satu aktor pun yang mengontrol data, serta untuk menjaga anonimitas pengguna sepenuhnya.
Sementara itu, gambar mata dan iris code asli hanya disimpan sementara di Orb, kemudian dienkripsi dan dikirim ke perangkat pengguna. Setelah itu, data akan secara otomatis dihapus dari kamera.
"Dengan skema ini, kendali penuh atas data ada di tangan pengguna," tutup Tools for Humanity dalam pernyataannya.
Setop Sementara
Sebelumnya, Tools for Humanity, perusahaan yang mengembangkan platform dan layanan verifikasi World, mengeluarkan pernyataan terkait pembekuan layanan verifikasi WorldID dan Worldcoin oleh Komdigi beberapa waktu lalu. Dalam keterangan resmi yang diterima oleh media pada Senin (5/5/2025), pihak World menginformasikan bahwa mereka telah menghentikan sementara layanan verifikasi di Indonesia secara sukarela.
World kini sedang berupaya untuk mendapatkan kejelasan mengenai persyaratan izin dan lisensi yang diperlukan. Dalam pernyataan tersebut, mereka menyatakan, "Kami berharap terus melanjutkan dialog konstruktif dan suportif yang telah terjalin selama setahun terakhir dengan pihak pemerintah terkait. Jika terdapat kekurangan atau kesalahpahaman terkait perizinan kami, kami tentu akan menindaklanjutinya," kata perwakilan dari Tools for Humanity.
Pihak perusahaan juga menyoroti bahwa kehadiran teknologi baru sering kali disambut dengan skeptisisme dan kekhawatiran, tetapi pada akhirnya dapat diterima oleh masyarakat serta pemangku kepentingan. Mereka memberikan contoh bahwa saat ponsel, mobil, dan komputer pertama kali diperkenalkan, juga terdapat reaksi yang sangat keras dari masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi-teknologi tersebut mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi kehidupan sehari-hari.
"Hal ini menjadi alasan Tools for Humanity sebagai perusahaan yang membangun protokol World, sangat berhati-hati dalam memperkenalkan World di Indonesia," tambah mereka. Dengan pendekatan yang hati-hati ini, diharapkan teknologi yang diperkenalkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan memberikan manfaat yang optimal.
Tak Simpan Data
Pada saat itu, pihak Tools for Humanity terlibat dalam diskusi yang mendalam dan berkelanjutan dengan pemerintah. Mereka mengklaim berusaha untuk memastikan kepatuhan terhadap semua regulasi yang berlaku serta memberikan informasi kepada masyarakat melalui berbagai cara, seperti konferensi pers, acara publik, dan kampanye edukatif sebelum layanan mereka diluncurkan.
"Perlu kami tegaskan kembali, kami memanfaatkan teknologi untuk memverifikasi individu di era AI, terlebih ketika misinformasi dan disinformasi, termasuk pencurian identitas dan deepfake merajalela," ungkap pihak Tools for Humanity. Selain itu, World juga menegaskan bahwa proses pemindaian dan pengumpulan data biometrik dilakukan tanpa menyimpan data pribadi dari siapa pun.
"Kami menyerahkan kendali penuh atas informasi tersebut kepada sang pengguna. Informasi ini tidak bisa diakses oleh World maupun pihak kontributor seperti Tools for Humanity," tambah mereka menutup pernyataan tersebut.