Wanita di Korea Selatan Ditangkap, Diduga Racuni Dua Orang Berbekal Informasi dari ChatGPT
Seorang wanita asal Korea Selatan diduga memanfaatkan ChatGPT untuk merencanakan tindakan pembunuhan.
Seorang wanita berusia 21 tahun dari Korea Selatan, yang hanya dikenal dengan nama Kim, telah ditangkap dan didakwa terkait dengan kematian dua pria muda.
Ia diduga menggunakan teknologi AI, ChatGPT, untuk mengkaji dosis obat berbahaya sebelum mencampurkannya ke dalam minuman korban.
Kasus ini mengejutkan masyarakat karena menunjukkan bagaimana teknologi canggih dapat disalahgunakan untuk tujuan kriminal.
Menurut pihak kepolisian, Kim memanfaatkan ChatGPT untuk memahami dampak pencampuran alkohol dengan obat psikiatrik yang berpotensi berbahaya, lalu menambahkan dosis tinggi obat penenang yang mengandung benzodiazepin ke dalam minuman setidaknya dua pria, yang akhirnya menyebabkan kematian mereka.
Insiden pertama terjadi pada 28 Januari di sebuah hotel yang terletak di distrik Gangbuk-gu, Seoul.
Rekaman dari CCTV menunjukkan Kim memasuki hotel bersama seorang pria yang berusia sekitar 20-an tahun dan meninggalkan lokasi tersebut sendirian beberapa jam setelahnya.
Korban ditemukan tewas di dalam kamar hotel dengan kadar obat penenang yang sangat tinggi dalam tubuhnya, sebagaimana yang dilaporkan oleh Oddity Central pada hari Kamis, 5 Maret 2026.
Kasus kedua terjadi pada 9 Februari dengan pola yang sama; Kim terlihat check-in di hotel dengan seorang pria muda lainnya dan kemudian meninggalkan hotel sendirian.
Korban kedua juga ditemukan meninggal akibat overdosis obat penenang yang sama.
Kim ditangkap pada 11 Februari dengan tuduhan awal yang lebih ringan, yaitu terkait cedera yang menyebabkan kematian.
Namun, penyelidikan yang lebih mendalam mengungkap bukti adanya niat jahat, termasuk penggunaan ChatGPT untuk merencanakan dosis obat yang mematikan.
Meskipun Kim mengaku mencampurkan obat-obatan tersebut, ia mengklaim tidak menyadari bahwa tindakannya akan berujung pada kematian korban.
Penyidik menekankan bahwa bukti yang ada menunjukkan bahwa tindakan Kim bersifat sengaja dan terencana, sehingga membuka kemungkinan untuk dikenakan tuntutan pidana yang lebih berat. Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan teknologi AI untuk keperluan kriminal.
Polisi Selesaikan Laporan
Setelah melakukan pemeriksaan terhadap ponsel seorang wanita berusia 21 tahun, penyidik menemukan bahwa ia telah menggunakan ChatGPT untuk mengajukan berbagai pertanyaan seperti, "Apa yang terjadi jika Anda meminum pil tidur dengan alkohol?", "Berapa banyak yang perlu diminum agar berbahaya?", dan "Bisakah ini membunuh seseorang?".
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian digunakan untuk merencanakan tindakan pembunuhan.
Selain itu, polisi juga mengungkap bahwa percobaan pertama yang dilakukan oleh Kim terjadi pada bulan Desember tahun lalu.
Dalam insiden tersebut, ia mencampurkan obat ke dalam minuman pacarnya di sebuah tempat parkir kafe di Namyangju, yang menyebabkan pacarnya kehilangan kesadaran.
Bukti-bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa wanita muda ini menggunakan kejadian tersebut sebagai percobaan awal.
Ia kemudian menggandakan dosis benzodiazepin pada percobaan berikutnya, yang menunjukkan niatnya untuk membunuh korban.
Kasus Kim pun menjadi viral di media sosial, di mana banyak pengguna mengecam tindakan kejamnya.
Namun, kontroversi semakin meningkat ketika foto-foto Kim menyebar di berbagai akun media sosial.
Meskipun banyak yang mengkritiknya, beberapa orang menunjukkan ketertarikan pada penampilannya, bahkan ada yang menyarankan perlakuan istimewa.
Sementara itu, sebagian lainnya mengaku tertarik untuk minum bersamanya, yang memicu perdebatan sengit mengenai respons publik terhadap tindakan kriminal yang dilakukan oleh seorang selebriti atau figur muda.