Perempuan Pelaku UMKM Jadi Kunci Penguatan Ekonomi Keluarga dan Nasional
Anggota DPR RI Siti Mukaromah menyoroti peran vital Perempuan Pelaku UMKM dalam menggerakkan ekonomi keluarga, di tengah tantangan kenaikan harga energi dan bahan baku.
Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah menegaskan bahwa perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memegang peranan kunci dalam upaya penguatan ekonomi. Peran strategis ini terutama terasa di tingkat keluarga, didukung oleh berbagai kegiatan pemberdayaan seperti bazar dan promosi produk lokal yang aktif.
Pernyataan tersebut disampaikan Siti Mukaromah usai meninjau Bazar UMKM dalam rangka Fatayat Fest yang diselenggarakan oleh Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyumas. Acara ini berlangsung di kompleks Menara Teratai, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, pada hari Jumat.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi perempuan untuk berdaya dan memberikan dampak positif, khususnya dalam penguatan ekonomi keluarga. Banyak UMKM di bazar tersebut didirikan dan dikelola oleh perempuan, menunjukkan potensi besar mereka.
Peran Strategis Perempuan dalam UMKM untuk Ekonomi Keluarga
Pemberdayaan perempuan melalui sektor UMKM tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan rumah tangga secara langsung. Lebih jauh, inisiatif ini juga berkontribusi signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi serta pendidikan anak dan keluarga secara lebih optimal.
Kegiatan seperti bazar dan acara serupa sangat penting untuk terus diperluas dan diperbanyak. Hal ini bertujuan menyediakan ruang bagi para pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha mereka, memperluas jaringan pemasaran, dan menciptakan nilai tambah dari produk yang dihasilkan.
Inisiatif ini dapat menjadi salah satu solusi efektif untuk penguatan ekonomi nasional. Terlebih lagi, dalam kondisi saat ini, UMKM masih sangat memerlukan dorongan dan dukungan maksimal dari berbagai pihak agar dapat terus berkembang.
Tantangan UMKM: Kenaikan Harga Energi dan Bahan Baku
Di balik potensi besar tersebut, perempuan pelaku UMKM juga menghadapi sejumlah tantangan serius yang perlu diatasi. Anggota DPR Siti Mukaromah menyoroti kenaikan harga energi dan bahan baku sebagai masalah utama yang berdampak langsung pada biaya produksi UMKM.
Sebagai contoh, kenaikan harga elpiji nonsubsidi kemasan tabung 12 kilogram cukup signifikan, dari sekitar Rp192 ribu menjadi lebih dari Rp228 ribu per tabung. Kondisi ini sangat memberatkan pelaku usaha, terutama yang sangat bergantung pada penggunaan kompor gas dalam proses produksinya.
Selain itu, kenaikan harga bahan kemasan seperti plastik dan material pendukung lainnya juga menambah beban biaya operasional bagi pelaku UMKM. Hal ini pada akhirnya berdampak pada peningkatan harga jual produk di tingkat konsumen, yang bisa mengurangi daya saing.
Solusi dan Sinergi untuk Keberlanjutan UMKM
Guna menyiasati kondisi kenaikan harga tersebut, Siti Mukaromah mengimbau pelaku UMKM agar lebih kreatif dan efisien dalam penggunaan bahan baku. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah memanfaatkan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti daun pisang atau kertas bersih sebagai pengganti plastik untuk produk tertentu.
Selain itu, masyarakat sebagai konsumen juga diajak untuk turut berkontribusi aktif dalam mendukung keberlanjutan UMKM. Kebiasaan sederhana seperti membawa wadah atau kantong belanja sendiri saat berbelanja dapat mengurangi penggunaan plastik dan membantu menekan biaya operasional pelaku usaha kecil.
Dengan adanya sinergi yang kuat antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan UMKM, khususnya yang digerakkan oleh perempuan, dapat terus berkembang. Kolaborasi ini menjadi pilar penting dalam penguatan ekonomi daerah di tengah berbagai tantangan global dan nasional yang terus berubah.
Sumber: AntaraNews