Tony Blair ketemu Menteri Meutya Bahas AI dan Adopsi e-SIM
Tujuan pertemuan itu untuk membahas penguatan kerja sama strategis dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), adopsi teknologi e-SIM.
Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, mengunjungi Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) di Jakarta, Senin (21/4).
Tujuan pertemuan itu untuk membahas penguatan kerja sama strategis dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), adopsi teknologi e-SIM, dan percepatan pembangunan talenta digital di Indonesia.
Kunjungan ini menjadi bagian dari kolaborasi jangka panjang antara Kemkomdigi dan Tony Blair Institute (TBI) dalam mendorong transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyambut langsung kedatangan Blair bersama pimpinan TBI Indonesia, Shuhaela Fabya Haqim.
“Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk mempercepat transformasi digital Indonesia. Kami siap menerima masukan dan bekerja sama dengan Tony Blair Institute demi menghadirkan solusi yang konkret dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Meutya dalam rilisnya, Selasa (22/4).
Sementara, Tony Blair menegaskan pentingnya kesiapan digital bagi negara berkembang.
“Infrastruktur digital dan model AI akan memiliki implikasi yang signifikan terhadap bagaimana pemerintah dan masyarakat beroperasi di era modern ini. Situasi ini hampir serupa dengan revolusi industri di abad ke-19,” kata Blair.
Ia menekankan bahwa negara yang berpartisipasi aktif dalam revolusi digital akan tumbuh lebih cepat dari negara lainnya.
Shuhaela Fabya Haqim, Pimpinan TBI Indonesia menambahkan bahwa TBI akan terus mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam digitalisasi layanan publik.
“Kami dari TBI akan terus mendukung peran dari Komdigi dalam mempercepat layanan-layanan pemerintahan yang berbasis digital untuk kemudahan yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Pertemuan ini juga membahas agenda strategis seperti tata kelola AI yang bertanggung jawab, penguatan infrastruktur digital, dan penerapan e-SIM yang terintegrasi dengan verifikasi biometrik dan data kependudukan. Teknologi ini diyakini dapat memperkuat keamanan data dan mempercepat reformasi layanan publik di Indonesia.
“Tadi baru pertemuan awal, dan selanjutnya tim kami bersama tim TBI akan membahas lebih lanjut isu-isu strategis tersebut. Kami akan segera menentukan area prioritas yang dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama nyata,” lanjut Meutya.
Kemitraan antara Kemkomdigi dan TBI sudah terjalin sejak 2024, antara lain dalam penyusunan rencana induk Pusat Data Nasional dan strategi lima tahun untuk Ditjen Aplikasi Informatika.
Kolaborasi tersebut kini diperluas untuk mendukung empat pilar digital Kemkomdigi: infrastruktur, pemerintahan digital, ekonomi digital, dan pengawasan ruang digital.
Dalam waktu dekat, kerja sama teknis akan difokuskan pada tata kelola kabel bawah laut, pengembangan pusat data dan cloud, serta perumusan kebijakan AI yang adaptif.
Selain itu, TBI juga akan dilibatkan dalam mendukung pelaksanaan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang perlindungan anak di ruang digital.