Robot Lulus Doktor Seni di China, Pertama dalam Sejarah Dunia
Apa saja kelebihan yang dimiliki oleh robot humanoid yang baru saja mendapatkan gelar doktor di bidang seni?
Dengan tinggi 1,75 meter dan berat 32 kilogram, robot Xueba 01 baru-baru ini diakui sebagai mahasiswa doktoral robot pertama di Shanghai Theatre Academy (STA).
Dalam waktu empat tahun ke depan, robot ini akan mengikuti program studi desain pertunjukan digital di Departemen Desain Panggung.
Program yang diluncurkan oleh STA dan Universitas Shanghai untuk Sains dan Teknologi (University of Shanghai for Science and Technology/USST) ini bertujuan untuk menciptakan metode pelatihan eksperimental bagi generasi baru agen tertanam (embodied agent), dengan fokus pada interaksi multimedium, ekspresi artistik, dan perkembangan kognitif.
Selama empat tahun, Xueba 01 akan mempelajari gerakan dasar, rutinitas, dan teknik pertunjukan opera tradisional China secara sistematis, sebagaimana dikutip dari laman Antara News, Selasa (23/9).
Tim dari USST akan bertanggung jawab atas pelatihan teknis dan pengetahuan dasar, sementara tim dari STA akan mengembangkan aspek artistiknya.
Robot ini merupakan versi yang telah ditingkatkan dari Xingzhe No. 2, yang berhasil meraih posisi ketiga dalam lomba setengah maraton robot humanoid di Beijing tahun ini, menurut penjelasan Li Qingdu, Direktur Eksekutif Institut Kecerdasan Mesin di USST dan pembimbing bersama Xueba 01.
Xueba 01 dilengkapi dengan struktur bionik berbasis tendon ultr ringan serta teknologi wajah yang menyerupai manusia, menjadikannya salah satu yang terdepan di dunia.
Robot ini mampu melakukan gerakan halus dan lebih dari 100 ekspresi yang mirip dengan manusia serta berinteraksi secara real-time.
Li menjelaskan bahwa robot ini dapat dengan fleksibel menyesuaikan ketinggian dan penampilannya, beroperasi terus-menerus selama lebih dari enam jam, bahkan dalam kondisi dengan intensitas tinggi.
Selain itu, robot ini juga dapat menyesuaikan kinerjanya secara real-time berdasarkan umpan balik dari audiens, menawarkan berbagai gaya pertunjukan yang hampir tidak terbatas.
"Pada tahap ini, Xueba 01 dapat 'menyanyikan' lagu-lagu dari Opera Henan, Opera Shanghai, dan Opera Peking, namun gerakannya masih kurang halus dan estetis. Kami telah membuatnya dapat belajar dari penampil profesional," ungkapnya.
Mereka memanfaatkan teknologi motion capture untuk merekam gerakan, ekspresi, dan gestur dari penampil manusia, serta untuk membangun dataset pelatihan, tambah Li.
Ke depannya, robot ini akan dapat belajar langsung dari rekaman video, yang akan memberikan data yang lebih kaya dan membantu menghasilkan performa yang lebih alami.
Gabungan antara seni dan teknologi
Menurut Huang Changyong, Presiden STA, tujuan utama dari robot ini adalah untuk mengeksplorasi kombinasi antara seni dan teknologi.
Fokus khususnya adalah menyelidiki bagaimana seni tradisional China dapat diintegrasikan dengan kecerdasan buatan (AI).
"Model pengajaran kami menggabungkan keahlian teknis dan inspirasi humanis," ungkap Yang Qingqing, seorang profesor di STA dan salah satu pembimbing Xueba 01.
"Secara teknis, kami bekerja sama dengan tim USST untuk menyempurnakan kinerja robot," tambahnya.
"Dari segi humanis, kami lebih fokus pada diskusi dan inspirasi," ujar dia.
Yang menjelaskan bahwa dia mungkin akan memberikan latar belakang, motivasi, dan lapisan emosional karakter kepada Xueba 01, yang kemudian akan menggunakan teknologi pemrosesan bahasa untuk menginterpretasikan panduan tersebut dan menghasilkan proposal kinerja yang sesuai.
Lebih lanjut, Yang menegaskan bahwa inisiatif ini memberikan wawasan berharga bagi pendidikan seni di China.
Hal ini juga menghilangkan batasan antardisiplin dan menekankan pentingnya seniman kontemporer untuk menggabungkan literasi teknologi serta pemikiran interdisipliner dengan keterampilan tradisional dan pengetahuan humanistik.
Dia juga menyoroti peran proyek ini dalam melestarikan dan menginovasi seni teater secara digital.
Dengan menggunakan teknologi canggih, proyek ini berupaya melindungi dan mempromosikan warisan budaya, seperti opera China.
"Teknologi berfungsi sebagai media baru dan mitra kreatif dalam seni," tutupnya.