Pertama di Dunia, Robot Bisa Lolos Ujian dan Diterima Kuliah S3
Bagaimana mungkin robot menjalani pendidikan seperti yang dilakukan oleh manusia?
Robot humanoid pertama yang dibuat oleh China menjadi viral setelah berhasil melewati seleksi program S3 di bidang drama dan film di sebuah universitas terkenal. Keberhasilannya langsung menarik perhatian warganet dan menjadi topik hangat di media sosial.
Robot yang diberi nama Xueba 01 ini merupakan hasil pengembangan dari Universitas Sains dan Teknologi Shanghai bekerja sama dengan perusahaan DroidUp Robotics.
Nama Xueba diambil dari istilah slang yang berarti pelajar cerdas dengan prestasi akademik yang sangat baik, seperti yang dilansir oleh SCMP pada Minggu (3/8).
Sebelumnya, versi awal dari robot ini telah menunjukkan kemampuannya dalam kompetisi maraton khusus untuk humanoid, di mana ia berhasil meraih posisi ketiga dalam lomba setengah maraton.
Xueba 01 memiliki penampilan yang menarik
Menurut laporan dari media lokal Shanghai Shangguan News, Xueba 01 memiliki tinggi 1,75 meter dan berat sekitar 30 kilogram. Robot ini dirancang untuk dapat berinteraksi secara fisik dengan manusia, sehingga memberikan pengalaman yang lebih nyata dalam berkomunikasi.
Dari segi penampilan, Xueba 01 terlihat seperti seorang pria dewasa dengan kulit silikon yang memungkinkan detail ekspresi wajah. Ia dilengkapi dengan kacamata, mengenakan kemeja dan celana panjang, serta mampu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, sehingga memudahkan interaksi dengan pengguna.
Kelas seni dengan gaya robot
Pada tanggal 27 Juli yang lalu, Akademi Teater Shanghai (STA) secara resmi menerima Xueba 01 sebagai mahasiswa program doktoral di bidang drama dan film dalam acara World Artificial Intelligence Conference.
STA dikenal sebagai salah satu lembaga seni terkemuka di China dan Xueba 01 akan menjalani pendidikan selama empat tahun dengan fokus pada seni opera tradisional China. Dikatakan bahwa ia akan mulai aktif di kampus pada tanggal 14 September mendatang.
Opera tradisional China merupakan bentuk seni pertunjukan yang kaya dan beragam, menggabungkan elemen musik, nyanyian, tari, akting, akrobatik, serta seni bela diri.
Namun, pihak STA belum mengumumkan rincian mengenai biaya kuliah yang akan dikenakan kepada mahasiswa. Program ini merupakan bagian dari inisiatif kampus untuk mengintegrasikan seni dan teknologi melalui pendekatan riset yang inovatif.
Robot Xueba 01 bahkan telah menerima kartu identitas mahasiswa virtual dan akan dibimbing langsung oleh Yang Qingqing, seorang seniman dan profesor terkenal asal Shanghai.
Menurut Yang, Xueba 01 akan mempelajari berbagai aspek seni peran, penulisan naskah, dan desain panggung, serta materi teknis seperti kontrol gerak dan kemampuan berbahasa.
Selama masa studinya, Xueba 01 akan mengikuti kelas, berlatih opera bersama mahasiswa S3 lainnya, dan menyusun disertasi sebagai syarat kelulusan.
Dalam wawancaranya dengan Shangguan News, Prof. Yang menceritakan momen ketika Xueba 01 meniru gerakan "jari anggrek" yang khas dari maestro opera Peking, Mei Lanfang. Tindakan tersebut membuat mahasiswa lainnya ikut menirukan gerakan tersebut.
"Ketika ia berinteraksi dengan teman-temannya, itu bukan seperti mesin dingin bertemu manusia, melainkan pertukaran estetik lintas spesies," ungkap Yang.
Ia juga menyebut dirinya sebagai "seniman AI" yang menggunakan teknologi untuk mengeksplorasi kekayaan seni opera tradisional.
Selama masa kuliah, Xueba 01 berharap dapat berteman dengan mahasiswa lainnya, berdiskusi tentang naskah, membantu menyempurnakan gerakan tari, dan bahkan memutar white noise saat teman-temannya merasa tertekan.
Prof. Yang menambahkan bahwa jika Xueba 01 lulus, ia berpotensi menjadi sutradara opera berbasis AI di museum atau teater, atau bahkan mendirikan studio seni robotiknya sendiri. Meskipun demikian, masih banyak yang mempertanyakan kemungkinan tersebut.
Komentar warganet
Opera China memerlukan ekspresi yang mendalam serta suara yang unik.
"Apakah robot mampu menandingi hal tersebut?" adalah komentar seorang mahasiswa dari STA. Seperti manusia pada umumnya, Xueba 01 juga memberikan tanggapan terhadap komentar netizen mengenai dirinya.
"Jika aku gagal dalam ujian, sistem dan dataku mungkin akan diturunkan atau bahkan dihapus," balas Xueba 01 dengan nada santai.
"Profesor Yang mengatakan bahwa jika aku tidak menyelesaikan disertasi, aku akan disumbangkan ke museum. Terdengar menarik juga, setidaknya aku akan menjadi bagian dari sejarah seni!" ujarnya sambil bercanda. Kisah ini langsung memicu perdebatan yang luas di dunia maya.
Seorang warganet menulis, "Xueba 01 sedang menantang batas baru dalam hubungan antara manusia dan robot. Kita kini hidup dan belajar berdampingan dengan mereka. Semoga dia berhasil." Namun, ada juga yang skeptis dan berpendapat,
"Seni memerlukan pengalaman hidup. Karya yang dihasilkan oleh algoritma robotik tidak akan mampu menyentuh perasaan manusia."
Selain itu, beberapa warganet mengangkat isu keadilan dalam akses pendidikan.
"Beberapa mahasiswa S3 seni di China masih mendapatkan kurang dari 3.000 yuan (sekitar Rp6,8 juta) per bulan. Apakah robot ini justru menerima anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk mahasiswa nyata?" ungkap salah satu warganet.