Louis Pasteur, Ilmuwan Pemberani yang Suntik Vaksin Rabies ke Manusia
Seorang ahli kimia yang telah mengubah dunia dengan temuannya, vaksin rabies.
Paris, musim panas 1885. Di sebuah laboratorium sederhana yang bau formalin dan bangkai kelinci kerap menyelimuti udara. Laboratorium itu adalah milik Louis Pasteur.
Seorang ahli kimia yang telah mengubah dunia dengan temuannya tentang mikroorganisme. Di tempat itu, ia sedang berjibaku dengan sesuatu yang lebih menakutkan dari penyakit biasa: rabies.
Rabies, atau yang dikenal sebagai “penyakit anjing gila,” bukan sekadar penyakit. Ia adalah vonis mati yang menunggu di ujung penderitaan brutal: kejang, halusinasi, takut air, lalu kematian yang menyiksa. Tidak ada obat. Tidak ada ampun.
Namun Pasteur percaya, seperti penyakit lain yang disebabkan oleh mikroorganisme, rabies bisa dilawan. Ia dan rekannya, Émile Roux, mulai mengembangkan metode yang belum pernah dicoba.
Melemahkan virus rabies dari jaringan saraf hewan, terutama sumsum tulang belakang kelinci yang terinfeksi, lalu mengeringkannya dalam botol steril selama beberapa hari. Hasilnya: virus tetap aktif, namun lebih lemah. Inilah cikal bakal vaksin rabies pertama.
Selama bertahun-tahun, Pasteur melakukan uji coba pada hewan. Ia menyuntikkan vaksin bertahap, dari virus paling lemah hingga yang lebih kuat. Fungsinya untuk melatih sistem imun bertahan. Hasilnya menjanjikan. Tapi pada manusia? Tak ada yang berani.
Sampai suatu hari, seorang ibu datang membawa anaknya yang tergigit anjing. Bocah itu bernama Joseph Meister, usia 9 tahun. Ia digigit belasan kali oleh anjing rabies. Dokter menyerah. Ibu itu menangis memohon pada Pasteur.
Pasteur ragu. Ia bukan dokter. Jika eksperimennya gagal, ia bisa dipenjara karena dianggap menyuntik manusia tanpa izin. Tapi jika ia tak bertindak, bocah itu pasti akan mati. Dalam tekanan etis dan emosional, Pasteur mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya.
Pada tanggal 6 Juli 1885, ia menyuntikkan dosis pertama vaksin rabies ke tubuh Joseph Meister.Hari demi hari berlalu. Bocah itu menerima total 13 suntikan selama 10 hari. Tidak ada gejala rabies muncul. Joseph Meister hidup.
Dunia medis terkejut. Dunia umum bersorak. Pasteur dinobatkan sebagai pahlawan ilmiah. Temuannya menyelamatkan ribuan, lalu jutaan nyawa. Vaksin rabies menjadi terobosan besar dalam dunia imunologi, dan membuka jalan bagi vaksin modern lainnya.
Tapi bagi Pasteur, keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah. Itu adalah kemenangan akal sehat atas ketakutan, keberanian atas keraguan, dan cinta kemanusiaan atas ketidakpedulian. Seperti yang pernah ia katakan:
“Keberuntungan berpihak pada pikiran yang siap," ujar dia.
Joseph Meister hidup hingga dewasa, bekerja sebagai penjaga di Institut Pasteur, lembaga riset yang didirikan untuk mengenang dan melanjutkan warisan ilmuwan yang menyelamatkan nyawanya.