Pria Ini Sengaja Membiarkan Dirinya Digigit Ular Berbisa Peliharaannya 202 Kali, Hasilnya Tak Terduga
Pria ini juga secara sukarela menyuntik dirinya sendiri dengan bisa dari 16 spesies ular.
Kegemaran aneh sekaligus ekstrem yang dilakukan seorang pria dengan menyuntikkan racun ular ke tubuhnya sendiri telah membuka jalan bagi pengembangan penangkal bisa. Hal tersebut memiliki potensi besar menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun.
Dalam contoh ekstrem dari "jangan coba ini di rumah", upaya seorang pria yang dengan sengaja mengekspos dirinya terhadap bisa beberapa ular paling mematikan di dunia telah menghasilkan antibisa berspektrum luas. Hingga kini, antibisa tersebut hanya diuji pada tikus (sebagian besar subjek manusia lebih menghindari risiko daripada donor asli).
Sekitar 100.000 orang meninggal setiap tahun akibat gigitan ular. Banyak yang selamat, namun kehilangan anggota tubuh atau menderita cedera permanen lainnya. Antibisa sebenarnya mampu mencegah sebagian besar tragedi akibat gigitan ular, namun hingga kini belum tersedia untuk lebih dari 600 spesies ular berbisa. Bagi klinik-klinik kecil, menyediakan stok antibisa untuk berbagai jenis ular sekaligus adalah tantangan besar.
Tim peneliti dari Centivax berhasil menciptakan antibisa yang memberikan perlindungan penuh pada tikus terhadap racun dari 13 spesies ular keluarga Elapidae, serta perlindungan parsial terhadap enam spesies lainnya. Target utama mereka adalah seluruh ular dengan racun neurotoksik, seperti kobra, taipan, mamba hitam, dan beberapa ular laut, yang mewakili sekitar setengah dari semua spesies ular berbisa.
Tim Centivax yang dipimpin oleh Dr Jacob Glanville Friede, menjadi landasan penelitian ini. Friede menyuntikkan dirinya sendiri sebanyak 24 kali selama empat bulan, sebelum akhirnya siap menerima racun langsung dari mulut ular.
"Anda harus mulai dengan pengenceran kecil dan meningkatkannya hingga menjadi racun murni," kata Friede seperti dikutip IFL Science, Senin (5/5).
Menariknya, Friede ingin memastikan tidak ada yang mengartikan "Anda" secara harfiah. Hal tersebut dikarenakan tidak boleh ada seorang pun yang meniru hal tersebut.
"Tim ini melakukan sesuatu yang luar biasa, namun karena itu sudah pernah dilakukan, tidak perlu ada orang lain yang mengulang eksperimen sekali-seumur hidup tersebut,” ujarnya.
Ia juga secara sukarela menyuntik dirinya sendiri dengan bisa dari 16 spesies ular, bahkan membiarkan dirinya digigit sebanyak 202 kali. Ia menyuntikkan dirinya sendiri sebanyak 654 kali selama beberapa tahun, hingga mencapai kondisi hiperimunitas. Pada puncaknya, darah Friede mengandung antibodi terhadap banyak jenis bisa ular.
Meskipun darah Friede tidak bisa diproduksi massal sebagai antibisa, tim Centivax bekerja sama dengan para ilmuwan akademis untuk mempelajari antibodi dalam darahnya. Mereka menemukan satu antibodi, yakni ‘LNX-D09’, yang mampu memblokir aktivitas banyak racun. Antibodi ini digabungkan dengan molekul kecil varespladib—yang menonaktifkan racun PLA2—dan kemudian ditambahkan antibodi lain bernama SNX-B03. Kombinasi tiga komponen ini berhasil memberikan perlindungan dramatis pada tikus terhadap sebagian besar racun yang diuji.
Bisa Neurotoksik
Uji coba dilakukan terhadap racun dari 19 spesies Elapidae yang berbeda secara evolusioner, dan hasilnya menunjukkan bahwa perlindungan dari antibisa ini dapat meluas ke banyak spesies lain yang terkait. Meski masih dalam tahap uji coba pada tikus, hasilnya menjanjikan karena jalur biologis racun serupa antara tikus dan manusia.
Produksi antibisa ini lebih efisien dibanding metode konvensional yang menyuntikkan racun ke kuda, karena menggunakan antibodi monoklonal yang dapat diproduksi dalam bioreaktor besar dan mengurangi risiko efek samping.
Namun, antibisa ini baru efektif untuk ular dengan racun neurotoksik. Ular keluarga Viperidae seperti ular derik dan ular berbisa skala kecil, yang sering kali menyebabkan kerusakan jaringan dan pembekuan darah, membutuhkan jenis antibisa berbeda. Penelitian terhadap kelompok ular ini masih dalam tahap awal.
Selain ular, pendekatan ini juga berpotensi diterapkan untuk racun dari kalajengking dan laba-laba, meski memerlukan formula berbeda. Walaupun kontribusi Friede sangat penting, para ilmuwan menekankan bahwa tidak seorang pun boleh meniru metode berbahaya ini.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey