Bukan Minyak Bumi, Ini Cairan Termahal di Dunia dengan Harga Fantastis Bisa Tembus Rp588 Miliar Per Galon

Cairan termahal ternyata bukan minyak bumi ataupun minuman, melaikan racun.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Bukan Minyak Bumi, Ini Cairan Termahal di Dunia dengan Harga Fantastis Bisa Tembus Rp588 Miliar Per Galon
Ilustrasi galon air minum dalam kemasan. (© Shutterstock/nikkytok)

Cairan paling mahal di dunia ternyata bukanlah air atau minyak bumi yang menjadi sumber komoditas banyak negara. Cairan termahal ini ternyata berasal dari bisa kalajengking.

Namun, perlu perjuangan yang berbahaya untuk mendapatkan bisa kalajengking yang siap pakai, bisa ini perlu diekstraksi dan diolah dengan cara khusus dan sangat berbahaya.

Dilansir Greek Reporter, Deathstalker menjadi kalajengking paling berbahaya di dunia yang mencapai harga Rp588 miliar rupiah per galon karena dapat digunakan untuk pengobatan medis.

\Alasan dibalik mahalnya cairan ini adalah karena kalajengking perlu diperah dengan tangan dan satu persatu sehingga perlu kehati-hatian dan ketelitian.

Seekor kalajengking hanya menghasilkan paling banyak dua milligram bisa dalam satu waktu.

Meskipun penelitian mengenai racun kalajengking ini masih terus dieksplorasi, beberapa komponen racun menunjukan hasil yang menjanjikan dalam pengelolaan nyeri kronis. Bisa kalajengking juga telah digunakan oleh beberapa kebudayaan selama berabad-abad sebagai pereda nyeri alami.

Klorotoksin merupakan salah satu komponen dalam racun atau bisa kalajengking yang memiliki manfaat untuk terobosan pengobatan medis.

Komponen klorotoksin mampu mengikat sel kanker tertentu di otak dan tulang belakang yang membantu mengidentifikasi ukuran dan lokasi tumor secara spesifik.

Para peneliti telah menggunakan kalajengking untuk membasmi malaria pada nyamuk. Komponen lain seperti kaliotoksin juga telah diberikan pada tikus untuk melawan penyakit tulang, dengan adanya itu para ilmuwan berharap hal ini juga dapat berhasil pada manusia.

Komoditas racun kaljengking di kancah dunia

Metode tradisional untuk mengekstrak racun kalajengking adalah dengan memerahnya secara manual menggunakan tangan.

Tapi, baru-baru ini para peneliti berhasil menggunakan sistem pemerah otomatis yang dipasang menggunakan robot untuk memaksimalkan hasil racun dan meminimalisir campur tangan manusia.

Afrika Utara dan Timur Tengah seperti Mesir, Maroko, dan Iran merupakan pemain utama dalam ekstraksi racun kalajengking karena keberadaan spesies yang beragam dan penting secara medis seperti Androctonus mauretanicus.

India dan Asia Tenggara menjadi peminat global akan racun kalajengking, dengan spesies seperti Heterometrus swammerdami yang dibesarkan secara komersial untuk pengumpulan racun.

Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti

Rekomendasi