Komputer Berbasis Otak Manusia Muncul: Terobosan atau Ancaman Baru?
Meskipun tahap pengembangannya belum final dan masih dalam fase eksperimen, para peneliti menilai terobosan ini berpotensi membawa perubahan besar.
Teknologi biokomputer berbasis sel otak manusia mulai menarik perhatian dunia. Meski masih bersifat eksperimen, para peneliti menilai perkembangan ini bisa mengubah masa depan komputasi sekaligus memunculkan dilema moral baru.
Terlebih, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mulai menunjukkan batas kemampuan membuat para ilmuwan mencari pendekatan alternatif.
Contoh Penggunaan Jaringan Otak Manusia
Salah satu yang paling gila adalah penggunaan jaringan otak manusia hidup sebagai perangkat komputasi.
Puncaknya terjadi pada 2022 ketika Cortical Labs, perusahaan berbasis di Melbourne, mempublikasikan studi yang menunjukkan neuron hasil kultur dapat belajar memainkan Pong dalam sistem closed-loop.
Penelitian tersebut memantik perdebatan luas. Sebagian media memberikan label sensasional, sementara banyak ahli saraf menilai klaim tersebut berlebihan.
“Bahasanya terlalu melebih-lebihkan kemampuan sistem, sehingga menimbulkan miskonsepsi dan potensi masalah etika,” kritik sejumlah peneliti sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Istilah “kecerdasan organoid” kemudian diperkenalkan oleh konsorsium ilmuwan pada 2023 untuk merangkum potensi penggunaan organoid dalam sistem komputasi.
Dari Laboratorium ke Industri
Perlombaan menuju biokomputer komersial kini semakin terlihat. Perusahaan seperti FinalSpark di Swiss sudah menawarkan akses jarak jauh ke organoid saraf.
Sementara Cortical Labs bersiap meluncurkan biokomputer desktop CL1 yang ditargetkan untuk peneliti AI dan institusi riset.
Beberapa tim peneliti bahkan merencanakan penggunaan organoid untuk memprediksi jalur tumpahan minyak di Amazon pada 2028, sebuah langkah yang dianggap ambisius.
Meski potensi aplikasinya luas mulai dari pengujian obat hingga model alternatif untuk penelitian neurologi para pakar menegaskan bahwa kemampuan organoid saat ini masih jauh dari bentuk kecerdasan kompleks atau kesadaran.
“Teknologinya masih bayi. Namun laju perkembangannya menunjukkan bahwa perbincangan tentang kesadaran, kepribadian, dan etika harus segera dimulai,” ujar Bram Servais, kandidat PhD Teknik Biomedis dari University of Melbourne, di lansir dari sciencealert
Reporter Magang: Mochamad Aidil Akbar