Klaim Bjorka Kantongi Data Nasabah BCA, Pengamat sebut itu Cuma Omong Kosong
Pengamat menilai akun X Bjorka yang menyebut telah memegang akses dan mengantongi data base nasabah BCA itu hanya bualan saja.
Tagar RansomwareBCA ramai di X, penyebabnya gara-gara klaim Bjorka. Ia menyebut Bank BCA terkena serangan ransomware. Namun menariknya, sebuah data yang disajikan oleh pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi membongkar ramai tagar tersebut.
“Ini kenapa @BankBCA digoreng bot-bot yang serempak pake tagar #RansomwareBCA? Kalau hacker yang kredibel menemukan ransomware, harusnya ndak perlu bikin postingan pake bot. Mainan bot seperti ini biasanya bukan gaya hacker. Tapi..,” tulisnya di X.
Menurut analisisnya, total sebanyak 1200-an akun digunakan untuk mengangkat tagar. Dan sebanyak 70 persen akun followernya kurang dari 100.
“Ini nampaknya ada indikasi gerakan yang terkoordinir dan niat yang disengaja. Entah itu mengarah ke BCA atau siapapun. Saya tidak tahu,” ujar Ismail saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu (8/2).
Sementara itu, Alfons Tanujaya, pakar keamanan digital Vaksincom, memastikan cuitan Bjorka jika BCA terkena serangan ransomware adalah klaim kosong.
“Kalau datanya akurat berarti memang benar data bank tetapi yang jelas bukan didapatkan dari server database bank. Soal datanya valid itu bisa didapat dari berbagai sumber seperti phishing, data pinjol dan lainnya,” ungkap Alfons.
Hal senada juga disampaikan oleh Heru Sutadi, Executive Director Indonesia ICT Institute. Menurutnya muncul tagar ransomware BCA terbilang anomali dengan kebiasaan komunikasi Bjorka selama ini.
“Biasanya Bjorka mengumumkan di breachforum kalau data perusahaan atau pemerintahan sudah diretas dan akan dijual atau ada upaya negosiasi dengan pemilik data sejumlah uang dengan besaran tertentu. Atau pakai akun Bjorxanism tapi ini pakai akun Bjorkanesiaaa,” ungkap Heru.
“Sepertinya akun ini hanya bikin kehebohan saja,” tambah Heru.
Pemerintah Harus Turun Tangan
Heru merasa Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kepolisian dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) harus segera bertindak melacak siapa yang menggunakan akun tersebut dan motifnya.
“Sebab jika propaganda mengarah ke black campaign terhadap perusahaan, yang bisa menjatuhkan reputasi perusahaan dan saham, maka bisa bikin kacau ekonomi dan politik Indonesia,” ujar dia.
Heru pun mengingatkan pada kejadian 1998. Di mana saat itu ekonomi, politik, dan keamanan Indonesia terguncang. Salah satunya didorong terjadinya rush money. Kondisi ketika banyak nasabah menarik uangnya dari bank secara bersamaan.