Jensen Huang, Bos NVDIA yang Mengaku Bingung saat Awal Bikin Perusahaan dan Nyaris Bangkrut
Pendiri dan CEO Nvidia Jensen Huang mengungkap bahwa ketidaktahuan justru menjadi kekuatan awal dalam membangun Nvidia menjadi raksasa chip global.
Kadang, ketidaktahuan justru jadi kunci keberhasilan. Hal itu dibuktikan langsung oleh Jensen Huang, pendiri dan CEO Nvidia yang kini menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi.
Bersama dua insinyur lainnya, Chris Malachowsky dan Curtis Priem, Huang mendirikan Nvidia dari sebuah bilik restoran Denny’s pada 1993.
“Sejujurnya, saya tidak tahu harus mulai dari mana. Kami semua tidak tahu apa-apa,” ujar Huang dikutip dari CNBC, Minggu (23/3).
Kini, lebih dari tiga dekade kemudian, Nvidia telah menjadi perusahaan chip senilai US$2,2 triliun yang memainkan peran penting dalam ledakan kecerdasan buatan (AI).
Namun di awal perjalanan, Huang yang kala itu baru berusia 30 tahun, tidak memiliki pengalaman menjalankan bisnis. Ia hanya punya keyakinan bahwa mereka bisa menciptakan GPU (graphics processing unit) yang akan merevolusi industri gim dan grafis komputer.
Nyaris Bangkrut di Awal
Perjalanan Nvidia tidak selalu mulus. GPU pertama mereka gagal di pasaran dan hampir membuat perusahaan bangkrut pada 1996.
Huang terpaksa memecat lebih dari separuh karyawannya dan meminta perusahaan gim Sega agar tetap membayar kontrak mereka, meskipun chip yang dikirim “secara teknis buruk”.
Dana dari kontrak Sega menjadi nafas kedua Nvidia. Mereka mengembangkan RIVA 128, chip baru yang akhirnya meledak di pasar—terjual lebih dari 1 juta unit hanya dalam waktu empat bulan di tahun 1997. Keberhasilan ini jadi titik balik Nvidia menuju puncak kejayaan.
Namun, Huang mengakui, jika ia tahu beratnya tantangan yang akan dihadapi saat itu, mungkin ia tidak akan pernah memulai.
“Kalau sejak awal saya menyadari betapa menyakitkan dan memalukan semua prosesnya, saya mungkin mundur,” ungkapnya dalam podcast “Acquired”. “Tak seorang pun yang waras akan memulainya kalau tahu semua risiko dan rasa malu yang akan datang.”
Optimisme Naif yang Jadi Senjata
Dalam pidato wisuda di Universitas Nasional Taiwan, Mei 2023, Huang berbagi bahwa kegagalan besar yang ia alami telah menjadi pelajaran berharga. “Saya telah mengalami kegagalan besar di Nvidia. Memalukan dan menyakitkan,” katanya.
Namun justru karena ketidaktahuan dan rasa optimis berlebihan itulah ia mampu terus melangkah. “Saya menipu otak saya sendiri untuk berpikir, ‘Seberapa sulit sih?’,” ujar pria kelahiran Taiwan tersebut.
Hingga kini, ia masih memakai “trik” yang sama setiap menghadapi tantangan besar. “Itulah kekuatan super dari seorang pengusaha,” kata Huang. “Mereka tidak tahu seberapa sulitnya, dan hanya bertanya pada diri sendiri: ‘Seberapa sulit bisa jadi?’”