Bumi Disebut Berputar Lebih Cepat, Apa Penyebabnya?
Berikut penjelasan ilmuwan mengapa Bumi tiba-tiba berputar cepat.
Bumi berputar pada porosnya membutuhkan waktu sekitar 86.400 detik atau 24 jam. Namun, jumlah tersebut tidak konstan.
Mengutip ScienceFocus, Senin (30/6), biasanya, rotasi Bumi cenderung melambat sehingga panjang hari bertambah sekitar 1,8 milidetik per abad. Artinya, sekitar 600 juta tahun lalu, satu hari hanya berlangsung 21 jam.
Fenomena ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari efek pasang surut Bulan dan Matahari, interaksi antara inti dan mantel Bumi, hingga distribusi massa di planet. Aktivitas seismik, glasiasi, cuaca, lautan, bahkan medan magnet Bumi juga turut memengaruhi panjang hari.
Pada 2020, ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Alih-alih melambat, Bumi justru mulai berputar lebih cepat. Bahkan, 28 hari terpendek yang pernah tercatat dalam sejarah modern semuanya terjadi pada tahun itu.
Fenomena ini menandai kecepatan rotasi tercepat dalam 50 tahun terakhir. Meski demikian, para ilmuwan belum sepenuhnya yakin apa yang memicu percepatan ini.
Beberapa hipotesis menyebutkan pencairan gletser pada abad ke-20 yang mengubah distribusi massa di permukaan Bumi, atau penumpukan air dalam jumlah besar di waduk-waduk belahan utara.
Apakah Percepatan ini Permanen?
Para ahli memperkirakan percepatan rotasi ini hanyalah efek sementara. Dalam jangka panjang, Bumi diprediksi akan kembali melambat seiring waktu.
Hal ini sesuai dengan tren historis perlambatan akibat interaksi pasang surut dengan Bulan, yang secara bertahap menjauh dari Bumi dan menarik energi rotasi dari planet kita.
Bagi kehidupan sehari-hari, perubahan ini hampir tak terasa. Namun, percepatan rotasi Bumi dapat berdampak signifikan pada sistem yang membutuhkan presisi waktu ekstrem, seperti satelit GPS, smartphone, komputer, dan jaringan komunikasi global.
Sistem penentuan waktu di seluruh dunia bergantung pada pengukuran yang sangat akurat dari panjang hari. Ketika rotasi Bumi berubah, sinkronisasi waktu universal juga bisa terganggu.
Misalnya, selama beberapa dekade terakhir, kita terbiasa menambahkan leap second untuk menyesuaikan waktu dunia dengan perlambatan Bumi.
Namun, jika Bumi terus berputar lebih cepat, ilmuwan mungkin justru harus mengurangi satu detik kabisat di masa depan—a langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya.