Ayahnya Korbankan Setahun Gaji Demi Sundar Pichai Bisa Berangkat ke AS
Sundar Pichai, CEO Google, meniti kariernya dari kesederhanaan. Ayahnya menghabiskan setahun gaji untuk tiket pesawatnya ke Stanford.
Sundar Pichai, CEO Google, tidak lahir dalam kemewahan. Ia tumbuh di Chennai, India, dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang insinyur listrik, sementara ibunya seorang stenografer. Mereka tinggal di apartemen kecil dua kamar, di mana Pichai dan adiknya tidur di lantai ruang tamu.
Teknologi bukan sesuatu yang mudah diakses dalam hidupnya. "Kami baru memiliki telepon ketika saya berusia 10 tahun, dan saya baru memiliki komputer saat kuliah di Amerika," ungkap Pichai.
Bahkan, ketika keluarganya akhirnya memiliki televisi, mereka hanya bisa menonton satu saluran. Namun, keterbatasan itu tidak menghentikannya untuk bermimpi besar.
Tiket Pesawat Seharga Setahun Gaji
Saat diterima di Stanford University, Pichai dihadapkan pada tantangan besar: biaya perjalanan ke Amerika. Ayahnya rela menghabiskan setahun gaji hanya untuk membelikannya tiket pesawat.
"Itu pertama kalinya saya naik pesawat," kenang Pichai dikutip dari HindustanTimes, Senin (3/2).
Keberanian dan pengorbanan keluarganya menjadi motivasi utama dalam perjalanan akademis dan kariernya.
Setelah meraih gelar sarjana teknik metalurgi dari IIT Kharagpur, ia melanjutkan studi ke Stanford untuk mendalami Material Science and Engineering.
Tak berhenti di situ, ia juga menyelesaikan MBA dari Wharton School, University of Pennsylvania.
Meniti Karier di Google hingga Jadi CEO
Sundar Pichai bergabung dengan Google pada 2004. Perjalanannya di perusahaan ini dimulai dari pengembangan Google Toolbar dan kemudian Chrome, yang sukses besar.
Kemampuannya dalam memimpin proyek-proyek strategis membawanya naik ke posisi CEO Google pada 2015, menggantikan Larry Page.
Saat ini, Pichai memiliki kekayaan lebih dari USD1 miliar (sekitar Rp 8,3 triliun), menjadikannya salah satu CEO teknologi terkaya di dunia meskipun bukan pendiri perusahaan.
Dalam berbagai kesempatan, Pichai selalu menekankan pentingnya keberanian dan inovasi.
"Buka pikiran, jangan mudah puas, dan selalu berharap. Jika bisa melakukan itu, sejarah akan mengenangmu bukan karena apa yang kamu kehilangan, tetapi karena apa yang kamu ubah," pesannya.