Sejarah Monumen Simpang Tinju, Simbol Perjuangan Bagindo Aziz Chan di Kota Padang
Kepalan tangan tersebut menjadi simbol perjuangan Bagindo Aziz Chan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kota Padang.
Kepalan tangan tersebut menjadi simbol perjuangan Bagindo Aziz Chan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kota Padang.
Sejarah Monumen Simpang Tinju, Simbol Perjuangan Bagindo Aziz Chan di Kota Padang
Monumen Simpang Tinju
Kota Padang menyimpan banyak cerita saat era kemerdekaan. Di kota ini ada banyak monumen yang dibangun untuk mengenang jasa-jasa pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, salah satunya Monumen Simpang Tinju.
Asal Usul Monumen
Melansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, Monumen Simpang Tinju ini dulunya bernama Tugu Bagindo Aziz Chan. Bentuknya seperti kepalan tangan seorang laki-laki yang penuh semangat perjuangan.
Bagindo Aziz Chan sendiri adalah tokoh penting bagi Kota Padang saat pihak kolonial Belanda menjajah wilayah tersebut.
Gelora Perjuangan
Kepalan tangan tersebut menjadi simbol perjuangan Bagindo Aziz Chan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kota Padang.
Bagindo Aziz Chan dikenal sebagai Wali Kota Padang kedua menggantikan Mr. Abu Bakar Djaar yang diangkat menjadi Residen di Sumatra Timur. Bagindo Aziz Chan terkenal jujur, lembut, luwes, bertekad kuat, dan pantang menyerah.
Selama menjabat sebagai wali kota, Bagindo Aziz Chan terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan baik secara “de facto” maupun “de jure” terhadap kemerdekaan RI di Kota Padang.
Setelah kemerdekaan di proklamasikan, situasi di Kota Padang menjadi panas karena banyak informasi simpang siur yang diterima masyarakat, sehingga memicu terjadinya konflik. Momen ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk merebut kembali wilayah jajahannya.
Namun, pemerintah pusat menginstruksikan bahwa Kota Padang harus dipertahankan.
Hadiri Perundingan
Aziz Chan pun memutuskan untuk bertemu dengan pihak Pemerintah Belanda yang meminta perundingan dengan Kota Padang pada 1947.
Isi perundingan itu membahas penghentian tembak-menembak, garis demarkasi, pembentukan polisi dan status orang tahanan.
Akhir Hayat
Pada sore hari tanggal 19 Juli 1945, Aziz Chan bersama keluarga sedang dalam perjalanan menuju Padang Panjang. Tiba-tiba mobilnya dicegat oleh tentara Belanda.
Ia pun diculik dan dibawa ke daerah Nanggalo. Tentara Belanda menjelaskan jika telah terjadi sebuah insiden di sekitar garis demarkasi sehingga wali kota perlu melakukan inspeksi.
Sesaat turun dari mobil, Aziz Chan tertembak di bagian leher dan tewas di tempat. Namun, informasi ini masih belum pasti, ada yang menyebut Aziz Chan tewas karena benda tumpul. Selain itu ada lubang bekas peluru di belakang telinganya.
Aziz Chan dimakamkan di Bukittinggi, dan terus dikenang sebagai pahlawan.
Tempat pembunuhan Aziz Chan inilah dibangun monumen yang berbentuk kepalan tangan untuk mengenang jasa-jasanya selama hidup.