Mengenang Chatib Sulaiman, Tokoh Perjuangan Kemerdekaan yang Namanya Bak Terlupakan

Tokoh perjuangan kemerdekaan asal Tanah Datar ini mulai dilupakan, bahkan namanya sendiri sudah diajukan sebagai pahlawan nasional sejak lama

Adrian Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Mengenang Chatib Sulaiman, Tokoh Perjuangan Kemerdekaan yang Namanya Bak Terlupakan
Mengenang Chatib Sulaiman, Tokoh Perjuangan Kemerdekaan yang Namanya Bak Terlupakan (Merdeka.com)

Tokoh perjuangan kemerdekaan asal Tanah Datar ini mulai dilupakan, bahkan namanya sendiri sudah diajukan sebagai pahlawan nasional sejak lama.

Nama Chatib Sulaiman mungkin tidak banyak orang ketahui dan terdengar asing di telinga kita sekarang. Namun, dirinya merupakan salah satu dari sekian ratus tokoh pejuang Indonesia di era Kemerdekaan.

Chatib lahir di Sumpur, Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat antara tahun 1906-1907.

 Ia dulu cukup aktif dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berlangsung di bawah pimpinan Syafruddin Prawiranegara pada tahun 1948-1949. (Foto: Wikipedia)

Dihimpun dari beberapa sumber, nama Chatib Sulaiman sendiri sudah diajukan menjadi tokoh pahlawan nasional sejak tahun 1974 silam. Seiring berjalannya waktu, namanya tak kian diumumkan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang ditetapkan oleh presiden.

Meski namanya seakan dilupakan begitu saja, tetapi melalui sejarah ia selalu dikenang dan diingat atas peran dan jasanya yang serahkan kepada ibu pertiwi dalam setiap nafasnya.

Seperti apa profil dari Chatib Sulaiman? Simak informasinya yang dirangkum dari beberapa sumber berikut ini.

Dilansir dari beberapa sumber, kehidupan Chatib sejak kecil sudah berkecukupn dan lahir dari kalangan keluarga mapan. Anak dari pasangan Haji Sulaiman dan Siti Rahma ini sudah ditempa dengan pola budaya ala Minangkabau.

Ia bersekolah di Hollandsch Indiansche School (HIS) Adadiah atau biasa disebut dengan Madrasah Adabiah. Sore harinya ia mengaji dan belajar bela diri silat, malam harinya ia tidur di sebuah surau yang terletak di Pasar Mudik, Kota Padang.

Ditengah kemapamannya, usaha dagang milik ayahnya yang berada di Pasar Gadang mengalami kebangkrutan.

Momen ini bertepatan dengan Chatib sedang menempuh pendidikan di MULO. Namun, ia tetap melanjutkan sekolah setelah mendapat bantuan dari Abdullah Basa.

Melalui Abdullah Basa, sifat-sifat pergerakan di masa revolusi mulai tumbuh di dalam seorang diri Chatib Sulaiman.

Pada tahun 1930, Chatib memutuskan untuk pindah ke Padang Panjang dikarenakan di daerah ini sudah dianggap sebagai pusat modernisasi Islam yang ditandai dengan lahirnya Muhammadiyah dan Sumatra Thawalib.

Pada tahun 1931, ia beserta sahabatnya bernama Leon Salim memutuskan untuk mendirikan Kepanduan Indonesia Muslim (KIM). Di tengah kesibukannya, Chatib selalu menyempatkan membaca buku bernuansa religi, nasionalis, hingga sosialis.

Melalui kebiasannya itulah memicu pola pikir untuk semakin memajukan masyarakat di era gempuran kolonial Belanda. Dengan rasa nasionalisme yang kuat, ia berhasil mendirikan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI).

Tahun 1933, PNI berhasil menggelar konferensi perdana dan Chatib sudah merumuskan pendidikan politik untuk rakyat, taktik, dan strategi yang diarahkan kepada kader PNI.

Akibat membuat kegaduhan, ia sempat dibuang ke Kota Cane, Aceh pada tahun 1942 bersama dengan Leon Salim dan beberapa tokoh lainnya.

Sosoknya yang cerdas itu dilirik oleh pemerintah Jepang sebagai think tank. Melalui prakarsanya, akhirnya terbentuk Gyugun yang menjadi cikal bakal TNI di Sumbar.

Tahun 1949, Chatib Sulaiman sebagai Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah itu menyusun strategi bersama pimpinan pejuang serta puluhan orang pengawal. Dalam rapat itu Kota Payakumbuh yang sudah diduduki Belanda harus direbut kembali.

Pada 15 Januari 1949, keberadaan mereka akhirnya diketahui oleh pihak Belanda. Mereka yang sedang melaksanakan shalat Subuh itu diberondong timah panas oleh tentara Belanda. Chatib bersama pimpinan perjuangan langsung tewas di tempat.

Nama Chatib sudah diajukan menjadi pahlawan nasional sejak tahun 1974. Namun namanya tidak berhasil lolos bersamaan dengan Rahmah El Yunusiyah, dan Bagindo Aziz Chan.

Tahun 2019, namanya kembali diajukan sebagai pahlawan nasional oleh keluarganya. Setahun kemudian, peluangnya semakin terbuka lebar setelah pihak keluarga mengirimkan seluruh berkas Chatib kepada Kemensos.

Pada tahun 2021, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan nama-nama yang masuk sebagai pahlawan nasional, akan tetapi nama Chatib Sulaiman tak kunjung disebut.

Rekomendasi