Ternyata Ini yang Bisa Pengaruhi Kualitas Daging Hewan Kurban, dari Penurunan Kualitas hingga Daya Simpan Daging
Stres sebelum disembelih turunkan kualitas dan daya simpan daging kurban. Kenali penyebab dan cara penanganan sesuai standar.
Menjelang Idul Adha, umat Muslim di seluruh dunia bersiap untuk melaksanakan ibadah kurban. Namun, di balik prosesi ini, ada satu aspek yang kerap terabaikan: kondisi stres yang dialami hewan kurban sebelum disembelih.
Stres bukan hanya berdampak pada kesejahteraan hewan, tapi juga berimbas pada kualitas dan keamanan daging yang dikonsumsi seperti memengaruhi memengaruhi pH daging, menjadikannya lebih gelap, alot, dan mudah rusak. Daging yang tidak layak konsumsi bisa terbuang, niat ibadah menjadi kurang sempurna, dan masyarakat justru menghadapi risiko kesehatan akibat kontaminasi bakteri.
Melalui wawancara bersama Anita Rahmadewi seorang mahasiswi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, artikel ini mengulas pemahaman dampak stres pada hewan kurban terhadap kualitas daging yang dihasilkan.
Stres Sebelum Disembelih: Pengaruh Fisiologis dan Perilaku Hewan Kurban
Stres pada hewan kurban bukan sekadar soal ketakutan atau kegelisahan sesaat. Dampaknya bisa sangat signifikan terhadap kondisi tubuh dan kualitas daging. Menurut praktisi kesehatan hewan, tanda-tanda hewan yang mengalami stres sebelum disembelih bisa diamati dari perilaku dan respon fisiologisnya.
“Kalau tanda-tanda hewan kurban ini mengalami stres sebelum disembelih itu bisa dilihat dari frekuensi pernapasannya jadi lebih cepat,” ujar Anita. Selain itu, jika memungkinkan, pemeriksaan dengan stetoskop bisa membantu memantau heart rate atau parameter kesehatan lainnya.
Namun, jika tidak ada alat bantu, pengamatan perilaku pun cukup efektif. Hewan yang berusaha melawan, mencoba kabur, atau mengeluarkan suara meringik merupakan indikator stres. “Sama kayak ikut merintih atau ya jadi rame lah pokoknya si hewannya,” tambah Anita. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis hewan sangat terpengaruh oleh lingkungan dan perlakuan sebelum penyembelihan.
Secara fisiologis, stres menyebabkan peningkatan hormon kortisol dalam tubuh hewan. Kortisol ini memicu metabolisme anaerob yang menurunkan pH daging. “Apabila pH-nya turun itu bisa nanti pengaruhnya ke kualitas dari dagingnya bisa lebih alot dan juga warnanya jadi lebih gelap,” jelas Anita. Tidak hanya mengganggu tampilan dan tekstur, tetapi juga memperpendek daya simpan daging karena kondisi pH yang rendah merupakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri.
Transportasi dan Praktik Penanganan yang Sering Diabaikan
Masalah stres hewan kurban tidak hanya muncul di tempat penyembelihan, tetapi sudah dimulai sejak proses transportasi. Praktik buruk yang masih sering terjadi adalah overcrowding atau kepadatan hewan dalam kendaraan. “Biasanya ini nih yang sering itu overcrowding atau kayak kepadatan atau jumlah hewan yang diangkut itu enggak dikondisikan kayak berdempet-dempetan,” ungkap Anita. Kepadatan ini menimbulkan gesekan fisik antar hewan, menyebabkan cedera, dan memicu stres.
Masalah lain yang sering terjadi selama perjalanan adalah urinasi. Air seni hewan yang mengandung amonia bisa menimbulkan gangguan pernapasan ketika bercampur di ruang yang sempit dan tidak berventilasi baik. Ditambah lagi, banyak hewan tidak diberikan air minum selama perjalanan, yang makin memperparah kondisi fisiologis mereka.
Saat proses penurunan dari kendaraan, hewan kerap tergelincir atau terjatuh. “Biasanya hewannya kadang kepleset atau jatuh sehingga bisa menimbulkan cedera di otot dari hewannya yang bisa otomatis meningkatkan risiko dari stres,” tambah Anita. Luka otot tidak hanya menyakitkan bagi hewan, tapi juga menyebabkan perubahan warna dan tekstur daging yang signifikan.
Kesejahteraan Hewan dan Tanggung Jawab Kolektif
Menjaga kesejahteraan hewan kurban bukan hanya soal etika, tetapi juga bagian dari ibadah yang berkualitas. Pelanggaran terhadap prinsip animal welfare—seperti memperlakukan hewan secara kasar atau mengabaikan kebutuhan dasar mereka—bisa berujung pada kerugian besar. “Untuk risiko jangka panjang, kalau stres hewan kurban itu sering diabaikan setiap penyembelihan, itu di antaranya ya terutama di kualitas dagingnya tadi,” jelas Anita.
Selain menurunkan kualitas dan keamanan, stres juga bisa menyebabkan pemborosan. Daging yang terlalu gelap, alot, dan terlihat kurang segar bisa membuat sebagian penerima kurban enggan mengonsumsinya. “Itu juga mungkin ada beberapa orang yang lebih memilih untuk membuang,” tutur Anita. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat kurban itu sendiri yang mengedepankan berbagi dan meminimalisir kemubaziran.
Sebagai solusi, penyelenggaraan kurban perlu melibatkan petugas yang terlatih dan memahami prinsip penyembelihan halal serta kesejahteraan hewan. Pemeriksaan antemortem oleh dokter hewan, pengaturan transportasi, serta penanganan yang lembut dan penuh empati merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku kurban, mulai dari panitia hingga masyarakat umum.
Iduladha bukan hanya tentang penyembelihan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan makhluk hidup dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Memahami bahwa stres hewan kurban berdampak nyata terhadap kualitas dan keamanan daging menjadi penting dalam pelaksanaan kurban yang tidak hanya sah secara agama, tetapi juga berkualitas secara kemanusiaan dan kesehatan. Karena kurban yang baik dimulai dari niat yang baik, dan diwujudkan melalui tindakan yang penuh tanggung jawab—termasuk pada makhluk yang dikurbankan.