Mengapa Heartburn Semakin Sering Terjadi Seiring Usia? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya
Heartburn makin sering seiring bertambahnya usia? Simak penyebab utamanya dan cara mencegahnya menurut para ahli.
Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami berbagai perubahan yang tak selalu menyenangkan dan sering kali datang tanpa peringatan. Dilansir dari huffpost, salah satunya adalah kecenderungan mengalami heartburn atau rasa panas seperti terbakar di dada yang semakin sering terjadi. Jika dahulu menyantap seporsi pizza atau kari pedas tak menimbulkan masalah, kini Anda mungkin harus menelan antasida setelah makan untuk meredakan rasa tidak nyaman.
Meski heartburn dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang usia, kondisi ini memang cenderung lebih sering muncul pada usia lanjut. Menurut para ahli gastroenterologi, terdapat tiga alasan utama mengapa hal ini bisa terjadi. Memahami penyebabnya adalah langkah awal untuk mencegah atau meminimalkan kejadiannya. Selain itu, mengetahui tips dari para dokter tentang cara mengatasinya dapat membantu Anda menikmati hidup tanpa harus terus-menerus terganggu oleh sensasi terbakar di dada.
Apa Itu Sebenarnya Heartburn?
Sebelum membahas cara mencegah heartburn, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saat kondisi ini muncul. Dr. Vivek Lal, seorang ilmuwan mikrobioma dan pendiri Resbiotic, menjelaskan bahwa heartburn terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, saluran yang menghubungkan mulut dan lambung. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh pelemahan atau relaksasi otot sfingter esofagus bawah (lower esophageal sphincter), yaitu otot berbentuk cincin yang berfungsi sebagai katup pengaman.
Dr. Mikhail Yakubov, seorang gastroenterolog dari Manhattan Gastroenterology, menggambarkan heartburn sebagai sensasi terbakar yang tidak nyaman di dada (itulah sebabnya disebut heartburn). Biasanya kondisi ini muncul setelah makan. Menurutnya, dalam keadaan normal, otot sfingter bekerja menjaga agar asam lambung tetap berada di dalam lambung. Namun jika otot ini melemah atau terlalu rileks, asam bisa naik ke kerongkongan dan menyebabkan heartburn.
Mengapa Heartburn Lebih Sering Terjadi Seiring Usia?
1. Melemahnya Otot Kerongkongan Seiring Waktu
Salah satu penyebab utama heartburn yang lebih sering terjadi pada usia lanjut adalah melemahnya otot-otot kerongkongan, termasuk sfingter esofagus bawah. Hal ini merupakan proses alami yang terjadi seiring penuaan. Seperti dijelaskan sebelumnya, otot ini bertugas mencegah asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Ketika fungsinya melemah, asam akan lebih mudah bergerak ke atas dan menimbulkan rasa terbakar.
Selain itu, proses pencernaan juga cenderung melambat pada usia lanjut. Dr. Yakubov menjelaskan bahwa melambatnya pencernaan memberikan waktu lebih lama bagi asam lambung untuk bergerak ke arah yang salah. Kombinasi dari kedua faktor ini menjadikan heartburn lebih sering terjadi pada orang yang lebih tua.
2. Penggunaan Obat-obatan Tertentu
Seiring bertambahnya usia, risiko tekanan darah tinggi juga meningkat. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebanyak 52,5% orang dewasa berusia antara 40 hingga 59 tahun dan 71,6% orang dewasa berusia 60 tahun ke atas mengalami hipertensi. Untuk mengatasi kondisi ini, banyak yang mengonsumsi obat-obatan penurun tekanan darah.
Namun, Dr. Ali Kazemi, seorang gastroenterolog dari Gastro Health, mengingatkan bahwa beberapa jenis obat hipertensi khususnya nitrat dan penghambat saluran kalsium dapat meningkatkan risiko heartburn. Obat untuk disfungsi ereksi, yang juga lebih sering digunakan oleh pria lanjut usia, memiliki efek samping serupa.
Selain itu, Dr. Lal menambahkan bahwa beberapa antibiotik, obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan aspirin, serta opioid, juga bisa menyebabkan heartburn. Meski obat-obatan ini dapat dikonsumsi oleh orang dari berbagai usia, mereka lebih sering digunakan oleh kelompok usia yang lebih tua karena meningkatnya masalah kesehatan.
3. Kenaikan Berat Badan
Pertambahan berat badan adalah hal yang umum terjadi seiring bertambahnya usia. Rata-rata, pria dan wanita usia 40 hingga 66 tahun mengalami kenaikan berat badan antara 0,5 hingga 1 pon (sekitar 0,2 hingga 0,5 kg) setiap tahun. Ketiga dokter yang diwawancarai HuffPost menyatakan bahwa ada kaitan erat antara kenaikan berat badan dan heartburn.
Dr. Kazemi menjelaskan bahwa lingkar pinggang yang lebih besar dapat meningkatkan tekanan di dalam perut dan lambung, yang pada akhirnya mendorong terjadinya refluks asam. Selain itu, obesitas juga dikaitkan dengan lambatnya proses pencernaan, sehingga makanan berada lebih lama di lambung dan memperbesar peluang heartburn.
Kazemi juga menambahkan bahwa obat-obatan seperti GLP-1 receptor agonists yang digunakan untuk mengatasi diabetes dan menurunkan berat badan, seperti Ozempic dan Mounjaro dapat memperlambat pengosongan lambung dan pada akhirnya memicu refluks asam.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Sering Mengalami Heartburn?
Setelah mengetahui penyebabnya, pertanyaan besarnya adalah: Bagaimana cara mengatasinya? Memang, kita tidak bisa menghentikan melemahnya otot esofagus seiring waktu itu adalah proses alami. Namun, kabar baiknya: Ketiga dokter sepakat bahwa pola hidup tertentu bisa mengurangi risiko heartburn, berapa pun usia Anda.
1. Evaluasi Obat-Obatan
Jika Anda mengonsumsi obat yang berpotensi memicu heartburn, bicarakan dengan dokter tentang kemungkinan menggantinya dengan alternatif lain.
2. Jaga Berat Badan Sehat
Yakubov dan Kazemi menekankan pentingnya menjaga berat badan ideal untuk mengurangi tekanan pada perut.
3. Kenali Pemicunya
"Penyebab umum antara lain makanan pedas, kopi, buah sitrus, cokelat, dan alkohol. Coba hindari selama dua minggu, lalu perkenalkan kembali satu per satu untuk mengidentifikasi pemicu," saran Lal.
4. Makan dalam Porsi Kecil & Jangan Langsung Tidur Setelah Makan
Lal menyarankan untuk makan dalam porsi kecil tapi lebih sering, serta menghindari makan setidaknya 2-3 jam sebelum tidur. Kazemi juga merekomendasikan meninggikan kepala sekitar 30 derajat dengan bantal saat tidur untuk mencegah asam naik.
5. Konsultasi ke Dokter Jika Gejala Menetap
Jika perubahan gaya hidup tidak membantu, Yakubov dan Kazemi menyarankan untuk memeriksakan diri. "Jangan abaikan gejala yang sering atau parah, karena bisa jadi tanda GERD atau masalah serius lainnya," tegas Yakubov.
Heartburn bukanlah hal yang harus dianggap enteng, apalagi jika sudah menjadi keluhan rutin. Mengelolanya membutuhkan kesadaran akan kondisi tubuh dan pola hidup. Dengan memperhatikan makanan yang dikonsumsi, menjaga berat badan ideal, serta lebih bijak dalam penggunaan obat-obatan, Anda dapat menikmati hidup yang lebih nyaman tanpa rasa terbakar di dada.
Tidak ada kata terlambat untuk mulai menerapkan kebiasaan sehat. Ingatlah bahwa setiap perubahan kecil bisa memberikan dampak besar. Dan yang paling penting, jangan ragu untuk mencari bantuan medis jika Anda merasa gejala heartburn semakin sering atau mengganggu aktivitas harian.
Tubuh memang berubah seiring bertambahnya usia, namun itu tidak berarti Anda harus menyerah pada rasa tidak nyaman. Anda tetap berhak menikmati makanan favorit tanpa rasa sakit tidak peduli berapa pun usia Anda.