Kekuatan Sound Horeg Setara Mesin Jet, Ini Batasan Bahaya untuk Telinga
Sound horeg, fenomena suara keras di Indonesia, dapat merusak pendengaran manusia yang tidak dirancang untuk menahan suara ekstrem.
Fenomena sound horeg atau parade sound system super keras di sejumlah wilayah Indonesia menuai pro kontra. Meski banyak yang menilai seru dan menghibur, fenomena ini menuai kekhawatiran dari sisi medis. Pasalnya, kekuatan suara yang dihasilkan sound horeg bisa merusak pendengaran secara permanen, bahkan hanya dalam hitungan detik.
Telinga manusia memiliki batas toleransi terhadap paparan suara keras, dan sound horeg adalah salah satu contoh ekstrem dari suara tersebut. Intensitas suara yang dihasilkan sound horeg diketahui dapat mencapai lebih dari 135 desibel (dB), jauh di atas batas aman paparan suara bagi manusia yang hanya 85 dB selama 8 jam per hari.
Perbandingan Kekuatan Suara
Untuk memberikan gambaran tentang seberapa kuat suara sound horeg, berikut adalah perbandingan intensitas suara dari berbagai sumber:
Sumber Suara I Kekuatan Suara (dB) I Keterangan
Percakapan biasa | 60 dB | Aman untuk pendengaran
Konser musik live | 110–120 dB | Wajib pakai earplug jika lebih dari 30 menit
Sound horeg | ±135 dB | Setara suara mesin jet dari jarak 30 meter
Mesin jet saat lepas landas | 130–140 dB | Melebihi ambang nyeri manusia (Biasa menggunakan earplug)
Suara tembakan senjata api | 140–160 dB | Bisa memekakkan telinga dalam 1 detik
Sound Horeg dan Dampaknya pada Pendengaran
Meskipun dianggap menghibur, suara yang dihasilkan dapat mencapai lebih dari 135 dB, yang berpotensi merusak pendengaran. Mengingat, suara dengan intensitas di atas 120 dB sudah berada di zona berbahaya dan dapat merusak pendengaran hanya dalam waktu singkat.
Gejala awal yang mungkin muncul setelah terpapar suara keras antara lain telinga berdengung (tinnitus), rasa penuh atau tekanan di telinga, dan kehilangan pendengaran sementara. Jika paparan suara keras terus berlanjut, kerusakan yang terjadi bisa bersifat permanen.
Beberapa gejala yang sering muncul akibat paparan suara keras adalah:
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Rasa penuh atau tekanan di telinga
- Kehilangan pendengaran sementara
Tips Melindungi Telinga dari Paparan Suara Keras
Untuk menjaga kesehatan pendengaran, berikut adalah beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Gunakan earplug atau earmuff di dekat speaker.
- Hindari berdiri dekat langsung dengan sumber suara.
- Batasi durasi paparan: idealnya tidak lebih dari 15 menit pada suara ≥100 dB.
- Jika telinga terasa sakit atau berdenging setelah acara, segera konsultasikan ke dokter THT.
Dengan memahami dampak dari suara keras, kita dapat lebih bijak dalam menikmati hiburan tanpa mengorbankan kesehatan pendengaran.