Nyeri menstruasi sering dialami oleh perempuan selama periode haid. Ada beberapa jenis nyeri yang dianggap wajar, namun ada juga yang terasa berlebihan.
Jika nyeri saat menstruasi sudah sangat mengganggu, hal ini tidak boleh diabaikan karena bisa menandakan adanya masalah pada organ reproduksi.
Dokter spesialis obstetri dan ginekolog, Fita Maulina, menjelaskan bahwa menstruasi adalah proses alami yang terjadi ketika dinding rahim meluruh akibat tidak terjadinya pembuahan. Siklus menstruasi yang normal berlangsung antara 21 hingga 35 hari, dengan durasi antara 2 hingga 7 hari. Rasa kram atau ketidaknyamanan di perut masih dalam batas normal, tetapi jika nyeri yang dirasakan sangat berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, maka itu seharusnya tidak dianggap sepele.
"Kalau sampai mengganggu aktivitas, sakitnya luar biasa sampai enggak bisa sekolah enggak bisa masak itu tidak normal," ungkap Fita.
Pada perempuan yang mengalami nyeri haid yang berlebihan, hal ini bisa menjadi indikasi adanya gangguan kesehatan reproduksi, seperti endometriosis, adenomiosis, mioma uteri, polip, dan lain-lain. "Endometriosis ini yang paling sering sampai membuat tidak bisa beraktivitas. Seringkali bisa terjadi sejak usia remaja," tambahnya.
Sayangnya, banyak perempuan yang menganggap rasa nyeri berlebihan ini sebagai hal biasa. Banyak di antara mereka memilih untuk diam dan menahan rasa sakit tanpa mencari tahu penyebabnya, padahal penting untuk mengatasi masalah tersebut dari akarnya.
"Intinya, saat mengalami nyeri harus dibuat nyaman. Obat bukan menjadi jalan utama," kata Fita saat temu media pada Minggu, 26 April 2026, bersama Beurer di Jakarta. Dengan memahami pentingnya mengenali gejala yang tidak wajar, perempuan diharapkan lebih proaktif dalam mencari solusi untuk masalah kesehatan reproduksi yang dialami, agar kualitas hidup mereka tetap terjaga.
Advertisement
Fita menekankan pentingnya informasi mengenai kesehatan menstruasi bagi remaja, khususnya bagi mereka yang baru pertama kali mengalaminya. Hal ini penting agar mereka tidak menganggap rasa nyeri haid yang berlebihan sebagai hal yang wajar, melainkan memahami penyebabnya.
"Perempuan perlu merasa bahagia karena itu membutuhkan dukungan keluarga," jelas Fita.
Edukasi yang tepat bagi remaja putri dapat membantu mereka mengetahui langkah-langkah yang perlu diambil saat menstruasi, seperti mencatat siklus haid, durasi, dan frekuensi mengganti pembalut. Dengan melakukan hal tersebut, mereka dapat mendeteksi lebih awal adanya gangguan kesehatan reproduksi.
Apa Stres Bisa Bikin Jadwal Menstruasi Kacau? Dalam kesempatan itu, Fita juga menjelaskan tentang penyebab ketidakaturan jadwal menstruasi. Ia menegaskan bahwa kesibukan sehari-hari bukanlah faktor utama yang mengganggu siklus menstruasi. Sebaliknya, masalah kesehatan mental seperti stres atau masalah dalam keluarga dapat menyebabkan siklus haid menjadi tidak teratur.
Selain itu, kurangnya asupan nutrisi juga dapat memengaruhi jadwal menstruasi. Gangguan siklus menstruasi dianggap signifikan jika terjadi dalam rentang waktu sekitar tiga bulan.
"Jika terlambat satu hingga dua bulan, belum tentu dianggap gangguan. Namun, kondisi mental yang baik sangat berperan dalam menjaga siklus tetap teratur," ungkap dokter yang praktik di RSIA Tambak Jakarta ini.
Selain nyeri, ada tanda lain yang sering diabaikan, seperti menstruasi yang berlangsung lebih dari tujuh hari atau perdarahan yang berlebihan, misalnya pembalut yang penuh dalam satu jam.
Kondisi ini seharusnya menjadi alarm untuk segera melakukan pemeriksaan.
Advertisement
Pada kasus endometriosis remaja, operasi tidak selalu menjadi solusi utama. Keputusan mengenai tindakan ini bergantung pada ukuran endometriosis, intensitas nyeri saat menstruasi, dan tingkat stres yang dialami pasien.
"Misalnya masih 5 cm, pertama, mungkin bukan dengan obat tapi kompres dengan yang hangat-hangat," kata Fita.
Selanjutnya, pasien disarankan untuk kembali ke dokter pada bulan berikutnya untuk kontrol dan menanyakan kondisi kesehatan mereka.
Jika setelah melakukan kompres hangat dan mengatur pikiran dengan baik, dokter mungkin akan meresepkan obat penghilang rasa sakit. Namun, jika nyeri saat menstruasi masih berlanjut, maka pengobatan bisa ditingkatkan ke langkah berikutnya.
"Pengobatan endometriosis pada remaja harus step by step, enggak bisa langsung kasih-kasih obat," tutur Fita, yang juga merupakan dosen di Universitas Yarsi Jakarta. Dalam kesempatan yang sama, Managing Director PT Beurer Healthcare and Wellbeing Indonesia, Aria Verdin, menjelaskan bahwa Beurer memiliki solusi tanpa obat untuk membantu mengurangi nyeri haid, yaitu melalui Menstrual Relax tipe EM50 dan EM55.
"Solusi ini menggabungkan teknologi Tens untuk mengurangi rasa nyeri serta terapi panas yang memberikan rasa hangat dan efek relaksasi. Solusi ini dapat digunakan kapan saja saat dibutuhkan, dengan waktu penggunaan maksimal 30 menit," kata Aria.
Dengan pendekatan yang lebih holistik dan bertahap, diharapkan pasien remaja dapat menemukan cara yang tepat untuk mengatasi gejala endometriosis tanpa harus langsung bergantung pada obat-obatan.