Hati-hati! Kebiasaan Harian yang Sering Dianggap Remeh Bisa Sebabkan Diabetes
Penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan, tidur larut malam, serta konsumsi makanan cepat saji secara rutin dapat meningkatkan risiko diabetes.
Diabetes, yang sering disebut sebagai penyakit gula oleh masyarakat awam, memiliki nama tersebut karena dianggap terkait dengan konsumsi gula yang berlebihan.
Namun, sebenarnya, bukan hanya konsumsi gula yang berlebih yang dapat menyebabkan diabetes; beberapa kebiasaan yang umum dilakukan oleh masyarakat modern juga dapat memicu terjadinya penyakit ini.
"Banyak pasien yang tidak sadar bahwa kebiasaan sederhana seperti sering makan fast food, kurang bergerak, hingga tidur larut malam karena gadget bisa memicu terjadinya diabetes," ujar dokter spesialis penyakit dalam, Timoteus Richard, dari Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Timoteus menjelaskan bahwa fast food atau makanan cepat saji yang banyak tersedia di sekitar kita umumnya mengandung kalori, gula, garam, dan lemak jenuh yang tinggi, tetapi rendah serat dan nutrisi penting.
"Jika dikonsumsi secara berlebihan, tubuh akan menyimpan energi yang berlebih sebagai lemak, terutama di area perut, yang dapat memicu resistensi insulin, yang merupakan awal mula diabetes tipe 2," tambah Timoteus dalam keterangan tertulisnya.
Selain itu, konsumsi makanan cepat saji juga menyebabkan lonjakan kadar gula darah setelah makan, yang membuat pankreas bekerja lebih keras dan lama-kelamaan mengalami kelelahan. Akibatnya, risiko untuk terkena diabetes pun meningkat.
Penggunaan gawai yang berlebihan dapat menyebabkan rasa malas
Berapa lama Anda telah menghabiskan waktu hari ini untuk scrolling media sosial atau menonton serial kesukaan, baik sambil duduk maupun berbaring? Hati-hati, jangan sampai terlalu lama. Penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan dapat membuat seseorang lebih banyak duduk. Hal ini berakibat pada berkurangnya aktivitas fisik dan melambatnya metabolisme tubuh.
"Kurangnya aktivitas fisik ini bisa menyebabkan penumpukan lemak tubuh, yang pada akhirnya meningkatkan risiko resistensi insulin, salah satu penyebab diabetes," ujar seorang lulusan Ilmu Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.
Selain mengurangi aktivitas fisik, melihat layar gadget sebelum tidur juga dapat mengganggu kualitas tidur.
"Tidur yang kurang memadai dapat meningkatkan hormon stres, yang berdampak pada kestabilan kadar gula darah, memperburuk risiko diabetes," jelas Timoteus. Oleh karena itu, penting untuk mengatur waktu penggunaan gawai agar tidak mengganggu kesehatan tubuh dan pola tidur Anda. Dengan mengurangi waktu di depan layar, Anda dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan secara keseluruhan.
Perhatikan gejala diabetes yang sering terabaikan
Timoteus menjelaskan bahwa gejala diabetes biasanya muncul secara bertahap dan sering kali diabaikan. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan sebagai indikasi diabetes, yaitu:
- rasa haus yang berlebihan
- sering buang air kecil di malam hari
- kelelahan meskipun tidak melakukan aktivitas berat
- perubahan berat badan yang signifikan, baik penurunan maupun peningkatan
- penglihatan yang menjadi kabur
- luka yang sulit untuk sembuh.
"Jika mengalami gejala-gejala di atas, segera periksa kadar gula darah. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti kerusakan ginjal atau masalah jantung," pesan seorang dokter yang berpraktik di Klinik Penyakit Dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Gaya hidup yang sehat merupakan kunci untuk mencegah diabetes
Kabar baiknya, diabetes dapat dicegah. Kunci utama untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengelola gaya hidup sehat. Timoteus mengingatkan masyarakat untuk melakukan beberapa langkah berikut agar terhindar dari diabetes, yaitu:
- Membatasi asupan makanan cepat saji.
- Mengatur waktu layar dan memberikan jeda untuk bergerak.
- Melakukan olahraga ringan secara rutin, minimal jalan kaki selama 30 menit setiap hari.
- Mendapatkan tidur yang cukup, yaitu 7 hingga 8 jam setiap malam.
- Secara teratur memeriksakan kadar gula darah.
Timoteus juga menekankan pentingnya deteksi dini, mengingat diabetes sering kali berkembang tanpa gejala yang jelas. Jika terdeteksi sejak awal, penanganan yang tepat dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius akibat diabetes.
"Pemeriksaan rutin sangat penting agar kadar gula darah bisa dipantau sejak dini. Dengan pola hidup sehat dan deteksi dini, risiko komplikasi serius seperti gangguan jantung, ginjal, atau saraf dapat ditekan secara signifikan," jelas Timoteus.