Daftar Negara yang Pernah Dilanda Wabah Virus Nipah Sejak 1998
Virus Nipah telah menginfeksi sejumlah negara di Asia sejak tahun 1998.
Virus Nipah kembali menarik perhatian setelah terdeteksinya dua kasus di negara bagian West Bengal, India, sejak bulan Desember lalu.
Meskipun jumlah kasus yang dilaporkan masih terbatas, kemunculan virus ini memicu kewaspadaan di berbagai negara Asia.
Hal ini wajar, mengingat Nipah dikenal sebagai salah satu penyakit zoonosis yang paling mematikan di dunia, dengan tingkat kematian yang dapat mencapai 40 hingga 75 persen, dan hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat khusus yang tersedia.
Malaysia dan Singapura: Awal Mula Wabah Nipah
Wabah virus Nipah pertama kali terdeteksi pada tahun 1998 di Malaysia, khususnya di kalangan peternak babi. Virus ini kemudian menyebar ke Singapura melalui distribusi ternak antar negara, sebagaimana yang dilaporkan oleh BBC pada Rabu, 28 Januari 2026.
Akibat wabah ini, lebih dari 100 orang kehilangan nyawa, dan sekitar satu juta babi harus dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran virus.
Selain menimbulkan korban jiwa, wabah ini juga berdampak besar pada ekonomi, terutama bagi para peternak dan pelaku usaha di sektor peternakan. Dari sebuah desa bernama Sungai Nipah, virus ini akhirnya dikenal dengan nama Nipah.
Bangladesh: Negara dengan Dampak Terberat
Sejak tahun 2001, Bangladesh telah menjadi negara yang paling sering mengalami wabah virus Nipah. Tercatat lebih dari 100 kematian akibat penyakit ini.
Pola penularan di Bangladesh sering kali dikaitkan dengan konsumsi nira kurma mentah yang terkontaminasi oleh kelelawar buah, yang merupakan reservoir alami virus Nipah.
Penularan dari manusia ke manusia juga dilaporkan beberapa kali, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan, sehingga membuat pengendalian wabah menjadi semakin sulit.
India Berulang Kali
Wabah virus Nipah pernah melanda India, khususnya di West Bengal pada tahun 2001 dan 2007. Dalam beberapa tahun terakhir, negara bagian Kerala di bagian selatan India telah menjadi pusat penyebaran virus ini.
Pada tahun 2018, Kerala mencatatkan 19 kasus infeksi, di mana 17 di antaranya berakhir dengan kematian. Kemunculan kembali wabah ini terjadi pada tahun 2023, dengan enam kasus yang terkonfirmasi dan dua pasien dilaporkan meninggal dunia.
Lebih lanjut, pada bulan Desember yang lalu, dua kasus baru terdeteksi di West Bengal, yang melibatkan tenaga kesehatan.
Hal ini menunjukkan bahwa virus Nipah masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di India. Upaya pencegahan dan penanganan yang lebih baik diperlukan untuk mengatasi wabah ini agar tidak meluas dan menyebabkan lebih banyak korban jiwa.
Apa yang membuat Nipah menarik perhatian global?
Hingga saat ini, belum ada laporan kasus virus Nipah di luar India, namun beberapa negara di Asia telah meningkatkan langkah-langkah pencegahan.
Thailand, misalnya, mulai melakukan skrining kesehatan di bandara internasional untuk penumpang yang datang dari wilayah yang terdampak, sedangkan Nepal memperketat pengawasan di bandara dan pos perbatasan darat dengan India.
Di sisi lain, Taiwan mengusulkan agar virus Nipah dikategorikan sebagai penyakit Kategori 5, yang mencakup infeksi baru atau langka dengan risiko besar terhadap kesehatan masyarakat, serta memerlukan pelaporan dan penanganan yang khusus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencantumkan virus Nipah dalam daftar 10 penyakit prioritas global, sejajar dengan Covid-19 dan Zika.
Virus Nipah dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar buah dan babi, serta dapat menyebar antar manusia melalui kontak dekat atau makanan yang terkontaminasi.
Dengan tingkat kematian yang tinggi dan potensi terjadinya wabah lintas negara, catatan panjang wabah Nipah sejak tahun 1998 menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan deteksi dini adalah kunci utama dalam mencegah krisis kesehatan global.