Cara Efektif Redakan Efek Gas Air Mata Tanpa Odol
Apakah mengoleskan pasta gigi di bawah mata dapat mengurangi efek gas air mata?
Umumnya, para demonstran menggunakan pasta gigi atau odol di area bawah mata untuk mengurangi rasa perih akibat tembakan gas air mata. Ini juga terlihat pada aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jakarta, yang berlangsung pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Menurut Gitalisa Andayani, seorang dokter spesialis mata konsultan, metode ini tidak efektif dalam mengatasi dampak gas air mata.
"Penggunaan pasta gigi atau sunblock justru dapat menyerap gas, sehingga tidak memberikan manfaat," ungkap Gitalisa dalam pesan singkatnya dikutip dari Liputan6.com beberapa waktu lalu.
Alih-alih mengurangi risiko dari paparan gas air mata, penggunaan bahan-bahan tersebut bisa memperburuk efek yang dirasakan.
"Zat-zat kimia yang terdapat dalam pasta gigi atau sunblock dapat bereaksi dengan komponen kimia dalam gas air mata," tambah dokter yang lebih dikenal dengan panggilan Gita.
Jadi, apa solusi terbaik untuk mengurangi dampak dari paparan gas air mata?
Gita menjelaskan bahwa perlindungan yang paling efektif adalah dengan menggunakan topeng gas (gas mask). Alat ini sangat baik untuk melindungi mata serta saluran pernapasan.
"Jika tidak tersedia, alternatif lainnya adalah menggunakan 'escape hood'. Atau setidaknya, gunakan goggle yang dapat menutup rapat," sarannya.
Jika tidak ada alat pelindung mata dan telah terpapar gas air mata, Gita merekomendasikan untuk segera membilas atau mengirigasi mata. Ini bisa dilakukan dengan air mengalir atau menggunakan cairan fisiologis seperti NaCl.
"(Jika tidak dibilas) efeknya mungkin akan mereda, tetapi sebaiknya segera ditangani dengan pembilasan. Jika dibiarkan, ada risiko gangguan mata yang lebih serius, seperti infeksi kornea," jelas Gita.
Gas air mata biasanya tidak menyebabkan masalah serius
Jika Anda masih merasakan ketidaknyamanan pada mata setelah terpapar gas air mata, segera konsultasikan kepada dokter spesialis mata untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Umumnya, efek samping dari paparan gas air mata tidak parah dan fungsi mata dapat kembali normal seperti sebelumnya.
Meskipun demikian, sangat jarang terjadi kasus di mana paparan gas air mata dapat mengakibatkan perdarahan pada bola mata, peradangan kornea, glaukoma, katarak, atau bahkan kebutaan.
Gas air mata kedaluwarsa
Namun, bagaimana jika gas air mata sudah melewati tanggal kedaluwarsa?
Menurut penjelasan dari farmakolog, Prof. Zullies Ikawati, PhD, Pharm, untuk memahami efek dari gas air mata tersebut, penting untuk mengetahui terlebih dahulu kandungan yang terdapat di dalamnya.
"Senyawa aktif yang paling sering digunakan adalah CS gas (2-chlorobenzylidene malononitrile) itu paling umum. Ada juga yang menggunakan OC (oleoresin capsicum)," ungkap Zullies.
Gas air mata sebenarnya memiliki masa kedaluwarsa
Zullies mengakui bahwa produk gas air mata dalam tabung memiliki masa kedaluwarsa.
Hal ini disebabkan oleh pelarut dan bahan pendorong (propelan) yang dapat mengalami penurunan tekanan, serta senyawa kimianya yang mungkin terdegradasi seiring waktu.
"Bila sudah lama, mungkin terjadi perubahan kimia, bisa terbentuk produk samping yang lebih iritan atau bahkan beracun (misalnya degradasi CS bisa menghasilkan senyawa klorinasi lain)," ujarnya.
Meskipun demikian, efek yang ditimbulkan pada tubuh masih serupa dengan gas air mata yang belum kedaluwarsa, seperti iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, sesak napas, batuk, dan mual.
Namun, Zullies juga menekankan bahwa jika terjadi degradasi pada produk tersebut, hal ini dapat menyebabkan iritasi yang lebih parah pada kulit dan paru-paru.
"Tetapi jika ada produk degradasi, bisa menimbulkan iritasi kulit/paru lebih berat," jelasnya.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan masa kedaluwarsa produk gas air mata guna menghindari risiko kesehatan yang lebih serius.
Dengan memahami aspek ini, pengguna dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan produk tersebut dan mengurangi kemungkinan dampak negatif yang mungkin timbul.
Kekuatan merusak gas air mata yang sudah kedaluwarsa
Gas air mata yang sudah kedaluwarsa tidak selalu dapat dianggap memiliki efek merusak yang lebih rendah, kata Zullies.
"Tidak selalu demikian, jika yang dimaksud adalah daya iritasi, maka efek tersebut bisa berkurang seiring dengan menurunnya potensi zat aktifnya," jelas dia.
Ia juga menjelaskan bahwa dari segi keamanan, gas air mata yang kedaluwarsa dapat berpotensi lebih berbahaya. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa produk kimia yang telah rusak sering kali menjadi tidak stabil atau bahkan lebih toksik.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tabung gas air mata yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa dapat mengalami risiko kegagalan dalam proses peledakan yang tepat atau malah meledak secara tidak terkontrol.
"Oleh karena itu, menggunakan gas air mata kedaluwarsa tidak otomatis berarti lebih aman. Meskipun efek iritasinya mungkin berkurang, tetapi risiko terhadap tubuh justru menjadi lebih sulit untuk diprediksi. Ini adalah pemahaman saya," tutupnya.