Di tengah hiruk pikuk pasca demonstrasi yang melibatkan penggunaan gas air mata di sekitar Markas Komando (Mako) Brimob, Jalan Kwitang Raya, Jakarta Pusat, sebuah fenomena unik muncul ke permukaan. Selongsong sisa gas air mata yang berserakan di jalanan kini tidak lagi dianggap sebagai sampah semata. Material bekas ini justru menjadi objek buruan utama bagi para pemulung, mengubahnya menjadi sumber penghasilan yang tak terduga.
Seorang pemulung bernama Dedi, pada Minggu lalu, terlihat sibuk memunguti setiap selongsong yang ia temukan di sepanjang Jalan Kwitang Raya. Dengan cekatan, ia menjelaskan bahwa selongsong gas air mata ini memiliki nilai ekonomis yang cukup lumayan di pasar barang bekas. Aktivitas ini menjadi cerminan adaptasi masyarakat dalam mencari rezeki, bahkan dari sisa-sisa peristiwa besar yang awalnya menimbulkan kekacauan.
Fenomena penjualan selongsong gas air mata ini tidak hanya memberikan pendapatan langsung bagi individu seperti Dedi, tetapi juga menyoroti sisi lain dari dampak sebuah peristiwa. Meskipun penggunaan gas air mata menimbulkan ketidaknyamanan dan iritasi bagi sebagian warga, bagi para pemulung, sisa-sisa ini justru membuka peluang ekonomi yang sebelumnya tidak terpikirkan, menunjukkan potensi daur ulang yang tak lazim.
Advertisement
Advertisement
Nilai Ekonomis Tak Terduga dari Selongsong Gas Air Mata Bekas
Dedi mengungkapkan secara rinci bagaimana selongsong gas air mata yang berhasil dikumpulkannya dapat diuangkan. Ia menjelaskan bahwa selongsong tersebut dapat dijual ke pengepul dengan harga yang bervariasi, tergantung pada kondisinya. Untuk setiap kilogram selongsong yang masih berisikan bubuk, pemulung bisa mendapatkan sekitar Rp12.000, sebuah angka yang cukup menarik mengingat statusnya sebagai limbah.
Namun, potensi pendapatan bisa meningkat signifikan jika pemulung melakukan sedikit upaya tambahan. "Kalau isi dalamnya atau bubuk ini dibersihkan bisa dapat Rp18 ribu per kilonya," ujar Dedi, menjelaskan perbedaan harga yang cukup besar. Hal ini mendorong para pemulung untuk membersihkan material tersebut, meningkatkan nilai jual dan keuntungan yang bisa mereka peroleh dari selongsong gas air mata.
Pada hari kejadian, Dedi berhasil mengumpulkan sekitar 10 kilogram selongsong, yang secara langsung menghasilkan pendapatan sekitar Rp120.000 baginya. Jumlah ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan hari sebelumnya, di mana ia hanya mendapatkan sekitar Rp80.000. Peningkatan pendapatan ini mengindikasikan bahwa volume sisa gas air mata yang berserakan pasca demonstrasi cukup melimpah, memberikan peluang rezeki bagi banyak pemulung.
Advertisement
Advertisement
Upaya Pembersihan dan Kondisi Lingkungan Pasca Insiden
Meskipun aktivitas pengumpulan selongsong gas air mata oleh pemulung berlangsung, kondisi umum di kawasan Mako Brimob terpantau tetap kondusif. Tidak ada lagi keramaian massa demonstran yang signifikan di lokasi tersebut, menandakan situasi telah kembali normal. Namun, dampak residu dari penggunaan gas air mata masih menjadi perhatian bagi warga sekitar.
Sejumlah warga yang melintasi area tersebut masih merasakan sisa-sisa gas air mata di udara, yang menyebabkan iritasi. Banyak pengendara motor yang melewati Jalan Kwitang Raya dan sekitarnya terlihat menggosok-gosok mata atau menutupi hidung mereka, sebagai respons alami terhadap sensasi pedih yang masih terasa. Ini menunjukkan bahwa meskipun visualnya bersih, udara masih mengandung partikel iritan.
Menanggapi hal ini, petugas pemadam kebakaran telah melakukan upaya sigap untuk mengurangi dampak tersebut. Mereka menyemprotkan air ke Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun, yang terletak tepat di depan Mako Brimob Kwitang. Tindakan ini bertujuan untuk membilas dan menghilangkan sisa-sisa gas air mata yang menempel di permukaan jalan, serta membantu mengurangi konsentrasi zat iritan di atmosfer sekitar.
Advertisement
Sumber: AntaraNews