Buka Puasa Bersama Ternyata Membantu Perkembangan Karakter Anak, Ini Penjelasannya
Buka puasa bersama dapat berkontribusi pada pembentukan karakter anak. Mari kita lihat penjelasan ilmiah mengenai pentingnya ritme makan.
Selama ini, buka puasa sering kali dipahami sebagai momen yang sarat dengan nilai spiritual dan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Namun, dari perspektif kesehatan serta ilmu perilaku komunitas, kebiasaan buka puasa di bulan Ramadan memiliki dampak yang lebih mendalam.
Hal ini termasuk dalam pembentukan pola makan dan karakter anak sejak usia dini. Berbagai studi mengenai family meals atau makan bersama keluarga menunjukkan hasil yang konsisten.
Salah satu penelitian yang banyak dijadikan rujukan adalah karya Jerica Berge, yang menemukan bahwa anak-anak yang rutin berbuka puasa bersama keluarga, terutama pada waktu-waktu tertentu, memiliki pengaturan porsi makan yang lebih baik, lebih jarang ngemil berlebihan, dan pola makan yang lebih stabil dalam jangka waktu panjang.
Temuan ini juga diperluas dalam konteks bulan Ramadan, menunjukkan bahwa anak-anak yang sering berbuka puasa bersama keluarga memiliki perilaku mindful eating yang dua hingga tiga kali lebih dominan dibandingkan dengan anak-anak yang berbuka secara terpisah dari keluarga inti.
Buka Puasa dan Pembentukan Ritme Tubuh
Menurut dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, seorang dokter dan peneliti di bidang kedokteran komunitas serta pendiri Health Collaborative Center (HCC), momen buka puasa dan sahur bersama memiliki dampak fisiologis yang signifikan.
"Tubuh pada dasarnya menyukai keteraturan. Hormon lapar seperti ghrelin berfungsi mengikuti jam biologis. Ketika anak terbiasa makan pada waktu yang jelas dan konsisten, dorongan untuk makan impulsif di luar jam tersebut cenderung berkurang," jelas Ray kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat pada Rabu, 18 Februari 2026.
Menurutnya, bulan Ramadan adalah kesempatan yang sangat baik untuk membangun ritme tersebut. Dengan adanya sahur dan berbuka yang dilakukan pada waktu yang relatif sama setiap hari, "Jika dimanfaatkan dengan baik melalui buka puasa dan sahur bersama orang tua, pola ini dapat meningkatkan memori tubuh dan otak anak agar mengikuti kebiasaan makan yang teratur. Pola makan yang teratur juga terbukti memengaruhi kualitas istirahat dan pola belajar anak," tambahnya.
Ini menunjukkan bahwa disiplin sederhana di meja makan dapat berdampak positif pada performa anak di sekolah dan aktivitas sehari-hari mereka.
Anak Belajar dari Teladan Orang Tua
Selain ritme, faktor modeling atau keteladanan juga memainkan peran yang sangat penting. Dalam ilmu perkembangan anak, perilaku makan sangat dipengaruhi oleh contoh yang diberikan oleh orang tua. Penelitian klasik yang dilakukan oleh Birch dan Fisher sejak akhir tahun 1990-an menunjukkan bahwa anak-anak belajar tentang pola makan melalui pengamatan. Jika orang tua secara konsisten berbuka puasa dan sahur bersama, anak akan melihat keteraturan dan kebersamaan tersebut sebagai hal yang normal.
"Anak belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua memberikan contoh disiplin dalam waktu makan dan kebersamaan, hal itu akan tertanam sebagai kebiasaan jangka panjang," ungkap Ray.
Analisis lebih lanjut dari berbagai studi bahkan menunjukkan bahwa anak yang terbiasa dengan struktur makan yang konsisten cenderung lebih disiplin dalam aspek kehidupan lainnya, termasuk dalam belajar dan mengelola emosi.
Kecepatan saat makan.
Aspek lain yang juga sangat penting adalah kecepatan saat makan. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang makan sambil menonton televisi atau menggunakan perangkat elektronik, mereka cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih banyak. Hal ini terjadi karena otak tidak dapat dengan baik menangkap sinyal kenyang yang dikirimkan oleh lambung.
Tubuh manusia memerlukan waktu sekitar 15 hingga 20 menit untuk benar-benar merasakan kenyang. Apabila proses makan dilakukan terlalu cepat, sinyal kenyang tersebut akan datang terlambat, yang dapat meningkatkan risiko makan berlebihan.
"Berbuka bersama dengan percakapan ringan dan suasana hangat secara alami memperlambat tempo makan. Ini membantu anak lebih sadar terhadap rasa lapar dan kenyang," tambah Ray.
Kebiasaan ini mendukung mindful eating, yaitu kemampuan untuk makan dengan kesadaran penuh, bukan hanya mengikuti dorongan yang bersifat sementara.
Jadikan buka puasa sebagai tradisi selama Ramadan 2026
Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari buka puasa, orang tua sebaiknya menjadikannya sebagai ritual rutin, bukan sekadar acara mendadak. Beberapa langkah mudah yang dapat diterapkan antara lain:
- Menentukan waktu sahur dan berbuka yang tetap setiap harinya.
- Duduk bersama setidaknya selama 15 hingga 20 menit.
- Menghindari makan sambil berdiri atau bergerak kesana-kemari.
- Memastikan asupan gizi yang seimbang, termasuk susu pertumbuhan yang mengandung serat pangan seperti FOS, GOS, dan inulin untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan.
"Disiplin lahir dari ritme. Ketika waktu makan jelas dan konsisten, anak belajar kontrol diri bukan hanya dalam makan, tetapi juga dalam aktivitas lain," ungkap Ray. Pada akhirnya, buka puasa lebih dari sekadar menghilangkan rasa lapar dan haus. Di balik momen berbuka puasa di bulan Ramadan, terdapat proses pembentukan regulasi diri, kedisiplinan, dan karakter yang dapat terbawa hingga anak dewasa. Jika momen sederhana ini dilakukan dengan kesadaran dan konsistensi, maka bisa menjadi investasi jangka panjang untuk kualitas generasi mendatang.