Dokter Sarankan: Buka Puasa dengan Protein Lebih Banyak daripada Nasi bagi Pasien Diabetes
Saat berbuka puasa, pasien diabetes disarankan untuk lebih banyak mengonsumsi lauk yang kaya protein dibandingkan nasi. Dokter menjelaskan pentingnya hal ini.
Pengidap diabetes yang telah mendapatkan izin dari dokter untuk menjalani puasa perlu memperhatikan asupan gizi saat sahur dan berbuka. Dokter spesialis penyakit dalam, Wirawan Hambali, menyatakan bahwa berbuka dengan makanan manis, seperti kurma, satu hingga tiga biji, masih diperbolehkan. Sementara itu, untuk menu buka puasa yang lebih berat, disarankan untuk memilih karbohidrat kompleks dan lebih banyak protein.
"Jadi jangan kenyang oleh nasi tapi kenyang oleh protein. Kenyang protein itu enggak akan sekenyang kita makan nasi tapi percayalah memang akan kenyang lebih lama," ujar dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah -- Puri Indah dalam temu media di Jakarta, Kamis (26/2).
Dengan demikian, dia merekomendasikan agar saat makan, lebih banyak mengonsumsi lauk. Lauk tersebut dapat meliputi daging, sayur, tahu, dan tempe, sedangkan porsi nasi sebaiknya sedikit.
"Kalau ada nasi merah lebih bagus lagi," terang Wirawan. Untuk takjil, Wirawan tidak menyarankan pasien diabetes untuk mengonsumsi kolak, karena hidangan ini cenderung tinggi gula dan umumnya mengandung tepung.
"Kolak biji salak itu kan tepung semua, enggak boleh." Oleh karena itu, penting bagi pengidap diabetes untuk memiliki kesadaran, kemampuan, dan pengetahuan dalam menata makanannya.
"Saya rasa ini menjadi salah satu kelengkapan dasar bagi pasien diabetes belajar soal konsumsi makanan," katanya.
Tidak semua pasien diabetes dianjurkan untuk berpuasa
Sebelumnya, Wirawan menjelaskan bahwa tidak semua orang yang menderita diabetes dianjurkan untuk berpuasa. Pasien diabetes sebaiknya menghindari puasa jika kadar gula darahnya tidak terkontrol, terutama jika mereka juga mengalami gejala sakit yang parah.
"Tapi untuk mereka yang sudah minum obat, bagus, terkontrol dipersilakan untuk berpuasa, cuman sering kali kita lakukan penyesuaian obat," katanya.
Oleh karena itu, penting bagi pasien diabetes untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk melakukan puasa, agar kesehatan mereka tetap terjaga. Penyesuaian obat dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah selama periode puasa.
Berpuasa saat gula darah tidak terkontrol dapat berisiko bagi kesehatan
Wirawan menjelaskan bahwa ada beberapa risiko yang dihadapi pasien diabetes jika mereka memaksakan diri untuk berpuasa saat kadar gula darah tidak terkontrol. Risiko tersebut termasuk hipoglikemi, yaitu kondisi di mana kadar gula darah menurun, serta hiperglikemi, yang merupakan kondisi di mana kadar gula darah meningkat.
"Bisa pula terjadi pengentalan darah hingga dehidrasi," ungkap Wirawan.
Oleh karena itu, sangat penting bagi pengidap diabetes untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka dan berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani puasa.
“Jadi, sebelum puasa orang-orang diabetes sering kali memang kita undang untuk kontrol dulu. Kita sesuaikan, jangan sampai obatnya terlalu keras, makannya terbatas, yang terjadi ya siang-siang dia kleyengan (pusing) darah rendah bisa enggak sadar (pingsan),” tambahnya.
Dengan demikian, tidak semua pasien diabetes diperbolehkan untuk berpuasa; ada yang bisa melakukannya dan ada pula yang sebaiknya menunda puasa demi kesehatan mereka.