Lebaran: Momen Emas Membentuk Mental Anak Tangguh dan Berakhlak Mulia
Lebaran bukan sekadar perayaan, namun juga peluang emas bagi orang tua untuk membentuk mental anak tangguh. Simak bagaimana momen istimewa ini dapat menjadi sarana edukasi karakter dan akhlak mulia.
Lebaran, yang identik dengan kegembiraan dan kebersamaan, ternyata menyimpan potensi besar sebagai sarana edukasi karakter anak. Menurut Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta, Prof. Susanto, momen Lebaran dapat dimanfaatkan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan membentuk mental anak tangguh. Pendekatan ini melampaui sekadar perayaan, menjadikannya waktu yang berharga untuk pertumbuhan pribadi buah hati.
Prof. Susanto, yang juga merupakan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017-2022, menekankan bahwa pembiasaan sederhana namun konsisten adalah kunci utama. Orang tua memiliki peran sentral dalam mengarahkan dan membiasakan nilai-nilai positif ini. Dengan demikian, Lebaran dapat menjadi fondasi kuat bagi perkembangan mental dan spiritual anak di masa mendatang.
Melalui berbagai tradisi dan kegiatan khas Lebaran, anak-anak diajak untuk belajar banyak hal. Mulai dari pentingnya meminta dan memberi maaf, berbagi dengan sesama, hingga mengelola keinginan pribadi. Semua aspek ini berkontribusi pada pembentukan mental yang kuat, matang, serta berakhlak mulia, sesuai dengan ajaran agama dan norma sosial.
Mengajarkan Ketulusan Melalui Maaf dan Empati Berbagi
Salah satu pembiasaan utama yang dapat diajarkan saat Lebaran adalah meminta dan memberi maaf dengan tulus. Prof. Susanto menjelaskan bahwa hal ini bukan sekadar mengucapkan kata 'maaf', tetapi juga memahami makna di baliknya. Orang tua diharapkan menjadi teladan dalam sikap rendah hati dan pemaaf, meniru akhlak Nabi Muhammad SAW.
Lebaran juga menjadi momen tepat untuk menumbuhkan empati melalui kegiatan berbagi. Ketika anak dilibatkan dalam zakat atau sedekah, mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya tentang menerima, tetapi juga memberi. Nilai ini akan membentuk kepekaan sosial dan menjauhkan anak dari sikap egois, menjadikan mereka pribadi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Membangun Pengendalian Diri dan Kemandirian
Di tengah suasana penuh hadiah dan kesenangan, orang tua perlu melatih anak agar tidak selalu menuruti keinginan. Mengajarkan anak untuk memilih, menunda, dan bahkan menabung dari apa yang mereka terima akan membantu membangun pengendalian diri. "Inilah fondasi penting dari mental tangguh, mampu mengelola keinginan, bukan dikuasai oleh keinginan," kata Prof. Susanto.
Selain itu, anak perlu dilibatkan dalam tanggung jawab kecil, seperti membantu di rumah atau menyambut tamu. Dari kebiasaan sederhana ini, tumbuh rasa mandiri dan tanggung jawab yang menjadi bagian dari ketangguhan mental. Keterlibatan aktif dalam tugas-tugas rumah tangga dan sosial akan melatih mereka menjadi individu yang lebih bertanggung jawab.
Memperkuat Karakter Sosial dan Spiritual
Tradisi silaturahmi saat Lebaran memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Anak belajar menyapa, bersikap sopan, dan berinteraksi dengan berbagai orang. "Dari sini tumbuh rasa percaya diri sekaligus kemampuan sosial yang baik. Nilai adab seperti ini sangat ditekankan dalam ajaran Al Quran dan Hadist sebagai bagian dari akhlak mulia," ujar Ketua Umum Asosiasi Akademisi Pendidikan Tinggi Seluruh Indonesia (Asadiktisi) itu.
Penting juga bagi orang tua untuk menanamkan sikap sederhana dan rasa syukur. Di tengah kemeriahan Lebaran, anak perlu diajak memahami bahwa tidak semua orang memiliki hal yang sama. Dengan begitu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah iri dan lebih stabil secara emosi. Lebaran juga sebaiknya menjadi waktu refleksi, di mana orang tua dapat mengajak anak mengingat kembali pengalaman selama Ramadhan, melatih mereka belajar dari pengalaman.
Hal tak kalah penting adalah menjaga konsistensi ibadah setelah Lebaran. "Ketika anak tetap dibiasakan menjalankan ibadah secara rutin, mereka belajar tentang Istiqomah, sebuah kekuatan karakter yang sangat penting dalam kehidupan," jelas Prof. Susanto. Konsistensi ini akan menjadi pilar utama dalam membangun mental anak tangguh yang berlandaskan spiritualitas.
Sumber: AntaraNews