Benarkah Gentle Parenting Bikin Anak Manja? Ini Kata Psikolog!
Gentle parenting sering disalahpahami sebagai penyebab anak manja. Padahal, metode ini menekankan batasan jelas dan komunikasi yang efektif.
Gentle parenting atau pengasuhan lembut menjadi semakin populer di media sosial sebagai alternatif dari disiplin tradisional. Metode ini menekankan pada empati, komunikasi terbuka, dan pemahaman terhadap perasaan anak. Namun, beberapa orang tua khawatir bahwa pendekatan ini justru akan membuat anak menjadi manja dan tidak disiplin. Lantas, benarkah demikian? Apakah gentle parenting benar-benar membuat anak menjadi seenaknya sendiri?
Kritik terhadap gentle parenting seringkali muncul dari generasi yang dibesarkan dengan disiplin yang lebih ketat. Mereka beranggapan bahwa metode ini terlalu permisif, tidak realistis, dan bahkan membuat anak menjadi tidak siap menghadapi dunia nyata. Padahal, gentle parenting bukanlah tentang memanjakan anak tanpa aturan. Metode ini justru membantu anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka melalui dialog dan bimbingan, bukan hukuman atau paksaan.
Para ahli perkembangan anak menjelaskan bahwa kekhawatiran ini muncul dari kesalahpahaman tentang apa itu gentle parenting. Gentle parenting yang diterapkan secara konsisten justru dapat membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional, kemandirian, dan rasa percaya diri. Lantas, apa sebenarnya perbedaan antara gentle parenting dan pengasuhan permisif? Bagaimana cara menerapkan gentle parenting yang efektif?
Perbedaan Gentle Parenting dan Pengasuhan Permisif
Perbedaan utama antara gentle parenting dan pengasuhan permisif terletak pada adanya batasan dan aturan yang jelas. Gentle parenting berfokus pada membesarkan anak yang memiliki emosi stabil dan menghormati orang lain, sambil tetap menerapkan aturan dan struktur yang jelas. Sementara itu, pengasuhan permisif cenderung menghindari penerapan batasan dan aturan, sehingga anak tidak memiliki panduan yang jelas tentang perilaku yang diharapkan.
Dilansir dari Parents, Leigh Spivey-Rita, PhD, Asisten Profesor di bidang Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Duke University, menjelaskan bahwa gentle parenting adalah pola pengasuhan yang hangat dan tegas. Metode ini memprioritaskan koneksi dan empati, memperhatikan kebutuhan emosional anak sambil tetap memegang batasan yang sesuai dengan perkembangan mereka.
"Gentle parenting menggambarkan pola pengasuhan yang hangat dan tegas," jelas Dr. Spivey-Rita. "Metode ini memprioritaskan koneksi dan mengekspresikan empati, memperhatikan kebutuhan emosional anak sambil tetap memegang batasan yang sesuai dengan perkembangan mereka."
Sebaliknya, pengasuhan permisif cenderung kurang dalam menetapkan batasan-batasan penting tersebut. "[Pengasuhan permisif] cukup hangat dan berfokus pada hubungan, tetapi kurang berfokus pada penetapan aturan atau harapan untuk anak," tambahnya.
Berikut adalah beberapa perbedaan utama antara gentle parenting dan pengasuhan permisif:
- Aturan dan Batasan: Dalam gentle parenting, orang tua menetapkan aturan dan batasan yang jelas dan konsisten. Sementara dalam pengasuhan permisif, orang tua seringkali menghindari penetapan atau penegakan batasan sama sekali.
- Konsekuensi: Gentle parenting menggunakan konsekuensi alami sebagai pembelajaran. Pengasuhan permisif cenderung menghindari konflik dengan menyerah atau membantu anak menghindari akibat dari tindakan mereka.
- Pengelolaan Emosi: Gentle parenting membantu anak memproses perasaan yang besar sambil tetap menetapkan batasan. Pengasuhan permisif mungkin lebih fokus pada memberikan kenyamanan saat itu, bahkan jika itu berarti melanggar aturan.
- Konsistensi: Orang tua yang menerapkan gentle parenting bersikap tenang tetapi tegas dan biasanya tetap konsisten. Orang tua permisif seringkali kurang memiliki tindak lanjut, atau aturan dapat berubah tergantung pada hari (atau perilaku anak).
Apakah Gentle Parenting Benar-Benar Membuat Anak Manja?
Kekhawatiran bahwa gentle parenting dapat membuat anak manja bukanlah hal baru, terutama dalam diskusi pengasuhan online di mana video orang tua dengan tenang menceritakan tantrum atau bernegosiasi dengan anak prasekolah cenderung menjadi viral. Kritikus berpendapat bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini tidak cukup sering mendengar kata "tidak", tidak belajar untuk mengatasi kekecewaan, dan mungkin tumbuh menjadi manja. Tetapi apakah ada bukti nyata bahwa ini terjadi?
Menurut spesialis perkembangan anak dan kesehatan perilaku serta psikolog berlisensi, Kate Norwalk, PhD, sulit untuk mengatakan secara pasti apakah gentle parenting memengaruhi seberapa manja anak-anak, karena tidak ada penelitian empiris tentang pendekatan khusus ini.
“Banyak strategi yang digunakan dalam gentle parenting sangat efektif untuk membantu anak mengelola emosi dan perilaku mereka serta membangun ketahanan dan kecerdasan emosional,” kata Kate Norwalk, PhD.
Meskipun demikian, "Gentle parenting meminjam banyak idenya dari pendekatan pengasuhan lain, seperti pengasuhan otoritatif dan pelatihan emosi, yang telah banyak diteliti karena efek positifnya pada perkembangan sosial, emosional, dan perilaku anak," jelasnya. “Jadi, dalam hal itu, banyak strategi yang digunakan dalam gentle parenting sangat efektif untuk membantu anak mengelola emosi dan perilaku mereka serta membangun ketahanan dan kecerdasan emosional.”
Dr. Spivey-Rita menambahkan bahwa, jika ada, gentle parenting mempersiapkan anak-anak untuk sukses: “Ini memberi mereka alat yang mereka butuhkan untuk dapat menavigasi dunia secara efektif,” katanya. “Ini membantu mereka belajar tentang diri mereka sendiri. Ini membantu mereka belajar tentang orang lain [dan] mendapatkan pemahaman tentang bagaimana dunia bekerja.”
Perbedaan utama, Dr. Norwalk menekankan, adalah bagaimana pendekatan itu diterapkan. Gentle parenting melibatkan batasan, harapan, dan tindak lanjut—tetapi melalui lensa empati dan dukungan emosional. Meski begitu, Dr. Norwalk menunjukkan bahwa gentle parenting bukanlah pendekatan terbaik untuk semua anak, terutama mereka yang memiliki kebutuhan emosional dan perilaku yang lebih intens.
Hubungan Antara Praktik Gentle Parenting dan Keterikatan yang Aman
Salah satu kekhawatiran utama yang diajukan kritikus adalah bahwa gentle parenting dapat menyebabkan anak-anak kesulitan mengatur emosi mereka. Jika orang tua terus-menerus turun tangan untuk menenangkan atau menjelaskan, pemikirannya adalah, anak-anak mungkin tidak belajar untuk mengelola perasaan mereka atau mentolerir ketidaknyamanan. Tetapi argumen itu tidak berlaku ketika kita melihat bagaimana gentle parenting benar-benar mendukung perkembangan emosional—terutama ketika dipraktikkan secara konsisten dan dengan cara yang sesuai dengan usia.
Karena gentle parenting melibatkan empati, perhatian, dan responsif emosional, itu mengatur panggung untuk keterikatan yang aman antara anak-anak dan orang tua mereka, yang penelitian menunjukkan datang dengan berbagai manfaat.
“Ada banyak penelitian yang menunjukkan efek positif dari keterikatan yang aman untuk anak-anak,” kata Dr. Spivey-Rita. “Ini membantu mereka dengan regulasi emosi mereka, membantu perkembangan keterampilan sosial mereka [dan] membantu mereka menjadi lebih percaya diri [dan] tangguh. Ada daftar panjang efek positif dari keterikatan yang aman, yang menurut saya adalah tujuan dari gentle parenting.”
Beberapa penelitian yang paling terkenal termasuk studi yang diterbitkan dalam The Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment yang meneliti hubungan antara keamanan keterikatan dan regulasi emosi pada anak-anak muda, yang menemukan bahwa anak-anak yang terikat secara aman lebih siap untuk menangani emosi.1 Selain itu, penelitian di Emotion Review menemukan bahwa keterikatan yang aman dikaitkan dengan reaktivitas emosional yang lebih rendah dan pemulihan emosional yang lebih cepat.2
Dr. Spivey-Rita menambahkan bahwa praktik gentle parenting juga dapat mendorong regulasi bersama, atau bagaimana orang tua membantu anak-anak mereka mengelola emosi yang besar. Anda tidak hanya memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan—Anda mencontohkan bagaimana melakukannya, apakah itu mengambil napas dalam-dalam, membicarakannya, atau menghadapi konsekuensi alami. Seiring waktu, anak-anak mulai belajar bagaimana mengatur emosi itu sendiri.
Jadi, meskipun mungkin tampak seperti gentle parenting memberi emosi terlalu banyak waktu tayang, kenyataannya adalah itu membantu anak-anak belajar untuk menyebutkan, memahami, dan mengelola emosi mereka—keterampilan yang penting untuk ketahanan jangka panjang.
Menemukan Keseimbangan dalam Gentle Parenting
Bahkan di antara pendukung gentle parenting, ada pengakuan yang berkembang bahwa itu bisa sulit untuk dilakukan dengan benar—dan bahkan lebih sulit untuk dipertahankan, terutama ketika hidup menjadi stres.
Kunci keberhasilan gentle parenting, kata Dr. Norwalk, adalah untuk memvalidasi emosi anak sambil tetap menetapkan batasan dan konsekuensi untuk perilaku mereka.
“Batasan membantu anak-anak merasa aman dengan membuat hal-hal lebih konsisten dan dapat diprediksi,” katanya. “Saya mendorong orang tua untuk berkomunikasi kepada anak-anak mereka bahwa semua emosi, tetapi tidak semua perilaku, itu ok. [Misalnya], ‘Tidak apa-apa untuk marah, tetapi tidak apa-apa untuk memukul atau melempar mainan ketika kamu marah.’”
Dr. Spivey-Rita menjelaskan, “Tidak realistis bagi orang dewasa untuk mengharapkan seorang anak kecil untuk dapat memperhatikan emosi mereka dan kemudian secara efektif mengatur [mereka] karena mereka belum mempelajari itu. Jadi gentle parenting masuk dengan perancah keterampilan itu.”
Misalnya, dia mengatakan bahwa jika seorang anak tampak frustrasi, Anda dapat mengatakan, “Saya dapat mengatakan bahwa tubuh Anda terlihat sangat tegang sekarang; Anda terdengar seperti Anda frustrasi.” Dengan memberikan nama dan mengakui sensasi itu, Anda membantu anak Anda belajar dan memahami apa yang mereka rasakan. Dari sana, Anda dapat mengajari anak Anda apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dalam hal mengekspresikan emosi tertentu.
Akhirnya, anak akan belajar bagaimana mengatur emosi sendiri, yang mengharuskan Anda untuk mundur sedikit—bahkan selama tantrum. “Salah satu contoh paling umum yang saya lihat dalam praktik saya adalah ketika orang tua mencoba untuk berinteraksi dengan atau menenangkan anak mereka ketika mereka mengalami tantrum atau meltdown,” kata Dr. Norwalk. “Tidak hanya ini sering menyebabkan peningkatan perilaku, tetapi juga menghilangkan kesempatan bagi anak untuk berlatih mengatur emosi mereka sendiri.”
Gentle parenting adalah pendekatan pengasuhan yang menekankan pada empati, komunikasi terbuka, dan pemahaman terhadap perasaan anak. Metode ini bukan berarti memanjakan anak tanpa aturan, melainkan membantu anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka melalui dialog dan bimbingan. Dengan menerapkan gentle parenting secara konsisten dan memahami perkembangan anak, orang tua dapat membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional, kemandirian, dan rasa percaya diri.