3 Ciri Anak Manja dan 5 Cara bagi Orangtua agar Anak Tidak Manja
Seorang anak manja memiliki berbagai ciri yang bisa dikenali oleh orangtua.
3 Ciri Anak Manja dan 5 Cara bagi Orangtua agar Anak Tidak Manja
Memiliki anak yang disebut manja merupakan salah satu hal yang tidak menyenangkan bagi orangtua. Kondisi anak yang manja atau perilaku memanjakan anak ini kerap tidak disadari oleh orangtua dan baru disadari oleh orang lain.
"Bayi menangis saat mereka membutuhkan sesuatu, dan sulit untuk memanjakan mereka karena mereka tidak berusaha untuk memanipulasi atau berusaha. Pada masa bayi, Anda benar-benar perlu membangun perasaan bahwa dunia adalah tempat yang aman," terang Elkind.
Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang orangtuanya merespons lebih cepat terhadap kebutuhan mereka, termasuk tangisan mereka, akan lebih bahagia dan mandiri pada ulang tahun pertama mereka, kata Peter A. Gorski, MD, direktur Lawton and Rhea Chiles Center for Healthy Mothers and Babies. Mereka belajar untuk percaya bahwa Anda akan berada di sana ketika mereka membutuhkan Anda.Pilih-pilih Makanan
Salah satu tanda anak yang mulai manja adalah permintaan khusus dalam hal makanan. Dr. Elkind mengatakan bahwa jika seorang anak selalu menuntut makanan khusus setiap kali makan, ini bisa menjadi pertanda bahwa anak tersebut merupakan anak manja.
Patut dipahami bahwa perilaku pilih-pilih makanan yang tergolong manja ini jika dilakukan dan tidak terkait dengan kesukaan, alergi, atau intoleransi makanan. Meskipun anak dengan kebutuhan diet khusus perlu diakomodasi, jika permintaan khusus ini terlalu sering terjadi, hal ini bisa mengarah pada perilaku manja.
Sering Marah Berlebihan
Amukan pada anak-anak merupakan bagian dari perkembangan normal, terutama pada balita. Namun, jika seorang anak yang sudag berusia 5 atau 6 tahun, sering mengamuk karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ini bisa menjadi tanda perilaku manja.
Dr. Elkind menjelaskan bahwa amukan pada anak yang lebih tua cenderung bersifat manipulatif, yang berbeda dengan amukan balita yang masih belajar mengungkapkan emosinya. Hal ini bisa membuat perilaku marah pada anak ini terbawa hingga usia dewasa dan berdampak buruk bagi perkembangan mereka.
Terlalu Tergantung pada Orangtua
Anak yang manja sering kali terlalu tergantung pada orangtua mereka. Mereka mungkin sulit tidur tanpa kehadiran orangtua, menolak ditinggalkan dengan orang lain, dan mengamuk saat harus pergi ke sekolah atau tempat penitipan anak.
Dr. Elkind mengingatkan bahwa meskipun anak memang membutuhkan perhatian orangtua, mereka juga perlu belajar merasa nyaman dengan orang lain dan merasa mandiri. Terlalu tergantung dengan keberadaan orangtua bisa membuat anak kesulitan di masa mendatang.
5 Cara bagi Orangtua agar Anak Tidak Manja
Agar seorang anak tidak tumbuh besar sebagai anak yang manja, penting untuk melakukan sejumlah hal. Hal ini bisa diterapkan oleh orangtua seiring pertumbuhan anak.
Tetapkan Batasan yang Sesuai dengan Usia
Dr. Peter A. Gorski menyarankan agar orangtua menetapkan batasan yang sesuai dengan usia anak. Hal ini akan membantu anak mengerti batasan-batasan yang ada dalam kehidupan mereka, serta mengembangkan rasa tanggung jawab dan kemandirian.
Perkuat Perilaku Positif
Daripada terlalu fokus pada perilaku negatif, lebih baik orangtua memperkuat perilaku positif anak. Mengapresiasi ketika anak berkata "tolong" atau "terima kasih," serta bermain dengan lembut bersama teman-teman, dapat membantu mengembangkan sikap positif yang tidak manja.
Bicarakan dengan Anak tentang Tindakan Mereka
Ketika anak semakin besar, melibatkan mereka dalam percakapan tentang perilaku mereka dapat membantu mereka mengembangkan pemahaman tentang konsekuensi dari tindakan mereka. Menggunakan pertanyaan terbuka seperti "Kenapa sih hal ini terus terjadi" dapat merangsang refleksi pada anak.
Tetap Tenang
Merespons perilaku buruk anak dengan kemarahan hanya akan memperburuk situasi. Tetap tenang dan komunikatif ketika menghadapi perilaku negatif akan membantu anak memahami akibat dari tindakan mereka.
Konsistensi
Penting bagi orangtua untuk konsisten dalam penerapan aturan dan konsekuensi. Jika ada konsekuensi yang telah disebutkan sebelumnya, pastikan untuk mengikutinya dengan konsisten. Ini akan membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat.