Apakah Sakit Gigi Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Kata Kemenkes
Sakit gigi sering kali dianggap remeh, tetapi dapat berakibat serius jika tidak ditangani.
Banyak orang masih percaya bahwa sakit gigi adalah masalah sepele yang dapat diatasi dengan obat pereda nyeri. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, sakit gigi dapat menimbulkan risiko yang serius bagi kesehatan.
Menurut dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, meskipun sakit gigi bukanlah penyebab langsung kematian, terdapat kasus-kasus jarang yang menunjukkan hubungan tersebut.
"Kalau langsung menyebabkan kematian enggak ya, jarang sekali sebenarnya kasus-kasus gigi ataupun kelainan ataupun permasalahan pada mulut yang kemudian menyebabkan kematian," ungkap Nadia dalam media briefing yang diadakan untuk menyambut Hari Kesehatan Gigi Nasional pada Kamis, (11/9).
Pernyataan Nadia menegaskan bahwa bahaya dari sakit gigi tidak hanya terletak pada rasa nyerinya, tetapi juga pada potensi penyebaran infeksi yang dapat terjadi. Sakit gigi dikenal sebagai gerbang masuk bagi kuman-kuman ke dalam tubuh.
"Kita bisa lihat ya, di bawah gigi itu banyak sekali pembuluh darah. Kalau ada gigi kita berlubang ataupun kemudian ada infeksi itu kan banyak yang mengandung bakteri, virus yang kemudian dengan mudah dia akan masuk ke dalam pembuluh darah," jelas Nadia.
Infeksi yang terjadi di area mulut tersebut dapat menyebar ke organ-organ vital dalam tubuh melalui aliran darah.
Oleh karena itu, meskipun sakit gigi tidak langsung mengancam jiwa, kondisi ini dapat menjadi jalan bagi timbulnya penyakit yang lebih serius.
Infeksi dapat menyebar hingga ke jantung
Nadia menegaskan bahwa kesehatan gigi tidak boleh diabaikan karena berhubungan erat dengan kesehatan organ lainnya. Aliran darah yang mengedarkan ke seluruh tubuh dapat membawa bakteri atau virus ke organ-organ vital, yang berpotensi menyebabkan infeksi pada jantung.
"Jadi, banyak sekali infeksi jantung itu disebabkan karena awalnya adalah infeksi pada mulut ataupun gigi yang menyebabkan bakteri tersebut sampai," ungkap Nadia.
Ia juga memberikan contoh mengenai penyakit jantung bawaan. Nadia menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir tidak mungkin terpapar bakteri atau virus. Namun, infeksi gigi yang dialami oleh ibu hamil dapat meningkatkan risiko penyakit jantung bawaan pada anak.
"Nah, mungkin pada saat ibunya mengandung atau kehamilannya ini gigi ibunya mungkin ada yang infeksi, ini yang bisa menyebabkan potensi tersebut, jadi itu menyebabkan kematian secara langsung tidak, tapi kemudian bisa menimbulkan penyakit-penyakit lainnya," jelas Nadia.
Mengapa banyak orang tetap tidak peduli?
Risiko sakit gigi yang mengancam kesehatan sering kali diabaikan oleh masyarakat. Nadia menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah masih adanya anggapan 'kalau tidak sakit, tidak berobat'.
"Kenapa masyarakat kita tidak langsung mendapatkan pengobatan, karena tadi kalau sakit gigi kan biasanya saat dia infeksi itu atau meradang itu sakitnya yang baru terasa. Nah, tapi kalau proses meradangnya sudah selesai biasanya juga ditambah dengan minum-minuman anti nyeri dan sebagainya itu sudah tidak merasa sakit lagi," ungkapnya.
Kebiasaan menunda perawatan ini justru dapat memperburuk kondisi gigi. Nadia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap masalah kesehatan gigi.
Banyak orang baru berkunjung ke puskesmas atau dokter gigi ketika kondisi gigi sudah parah dan tidak dapat diselamatkan. Akibatnya, pencabutan gigi menjadi solusi terakhir.
Padahal, jika masalah gigi ditangani sejak dini, hal ini dapat mengurangi beban biaya yang lebih besar di kemudian hari.
"Kalau kita lihat ini datanya, masalah gigi dan mulut yang mencari pengobatan di 2023 hanya 11,2 persen, walaupun kalau kita lihat permasalahan gigi dan mulut itu tidak berkurang," kata Nadia.
Apakah berkumur dengan campuran garam dan bawang putih benar-benar efektif?
Selain menunda kunjungan ke dokter gigi, banyak orang yang lebih memilih pengobatan tradisional saat mengalami sakit gigi. Ketua Umum PB PDGI, Usman Sumantri, menyatakan, "Di masyarakat kita masih ada yang menggunakan berbagai macam tradisional medicine ya, tentunya ada yang menggunakan air garam, ada juga yang menggunyah bunga cangkeh, ada juga yang menggunakan bawang putih."
Meskipun cara-cara ini telah digunakan secara turun-temurun, efektivitasnya tidak sepenuhnya terjamin. Namun, metode tersebut masih dapat membantu meredakan rasa nyeri. Sifat antiseptik yang terkandung dalam garam dapat mengurangi pertumbuhan bakteri.
Usman menambahkan, "Karies gigi yang berperan terbesar itu kan bakteri streptococcus. Streptococcus itu yang mutans, itu bisa dikurangi dengan kebiasaan-kebiasaan ini."
Selain itu, Nadia juga menjelaskan bahwa garam dapat mengurangi rasa sakit karena mengandung larutan NaCl yang memiliki sifat antiseptik.
"Tapi itu bukan antiseptik yang betul-betul untuk pengobatan, tapi itu hanya sebenarnya mungkin seperti kumur-kumur ya, tapi kemudian memang tidak betul-betul menyembuhkan penyakit," ujar Nadia.
Dengan demikian, penggunaan garam atau bawang putih hanya memberikan rasa lega sementara, bukan solusi jangka panjang. Infeksi gigi tetap perlu ditangani melalui perawatan medis yang tepat.
Pencegahan penyakit gigi sebaiknya dilakukan dengan cara menyikat gigi dengan benar, mengurangi asupan gula, dan melakukan pemeriksaan rutin.
Langkah-langkah ini merupakan cara terbaik untuk menjaga kesehatan gigi dan mencegah masalah yang lebih serius di kemudian hari.