4 Kebiasaan yang Bisa Membuat Kita Kelelahan secara Mental
Empat kebiasaan yang diam-diam menguras energi mental: meja berantakan, tanpa jadwal, kerja nonstop, dan pikiran penuh tugas. Hindari untuk lebih produktif!
Ilustrasi lelah mental, emosional, letih. (Image by nakaridore on Freepik)
(@ 2023 merdeka.com)Pernahkah Anda merasa lelah secara mental meskipun secara fisik tidak banyak beraktivitas? Tanpa disadari, energi mental kita terus terkuras sepanjang hari akibat berbagai kebiasaan kecil yang tampaknya sepele. Layaknya baterai yang digunakan tanpa henti, pikiran kita juga membutuhkan waktu untuk mengisi ulang daya agar tetap optimal. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan justru mempercepat pengurasan energi mental, membuat kita mudah stres, sulit fokus, dan kehilangan motivasi.
Dilansir dari Your Tango, empat kebiasaan yang tanpa disadari bisa membuat kita kelelahan secara mental, serta bagaimana cara menghindarinya agar pikiran tetap segar dan produktif.
1. Meja Kerja yang Berantakan
Pernahkah Anda merasa malas atau tidak bersemangat untuk mulai bekerja hanya karena melihat meja kerja yang berantakan? Tanpa disadari, kondisi meja kerja yang tidak rapi bisa menjadi hambatan psikologis yang membuat kita menunda-nunda pekerjaan. Sebelum mulai bekerja, kita merasa harus membereskan meja terlebih dahulu, yang pada akhirnya bisa menjadi alasan untuk terus menunda pekerjaan utama.
Menurut penelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association, sekitar 20–25% orang dewasa di seluruh dunia adalah penunda kronis. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap hal ini adalah lingkungan kerja yang tidak kondusif.
Solusi: Cara mengatasinya cukup sederhana. Cobalah untuk mengatur meja kerja dengan membagi area menjadi dua bagian. Bagian kiri bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi seperti buku, kunci, dan dompet, sementara bagian kanan dikhususkan untuk bekerja. Dengan cara ini, setiap kali Anda ingin mulai bekerja, Anda tidak perlu repot mencari tempat untuk barang-barang lain. Meja yang bersih dan rapi dapat menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman dan meningkatkan fokus.
2. Tidak Membuat Jadwal Harian
Sering kali, kita merasa kebingungan tentang apa yang harus dilakukan, kapan harus melakukannya, dan di mana harus mulai. Ketika semua keputusan ini harus dibuat secara real-time, kita justru membuang banyak energi mental hanya untuk berpikir dan merencanakan, alih-alih langsung bertindak.
Tanpa jadwal yang jelas, kita cenderung kehilangan arah dan menghabiskan waktu untuk menentukan tugas mana yang lebih prioritas. Hal ini juga dapat membuat kita terjebak dalam siklus overthinking yang melelahkan.
Solusi: Atasi masalah ini dengan membuat jadwal harian sebelum tidur. Misalnya, tentukan bahwa esok hari Anda akan mulai menulis artikel pada pukul 11:00 pagi di kamar dengan topik tertentu. Dengan begitu, ketika waktu kerja tiba, Anda tidak perlu lagi membuang waktu dan energi untuk menentukan langkah selanjutnya. Semua sudah terencana dengan baik, dan yang perlu Anda lakukan hanyalah mulai bekerja.
3. Terus Berada dalam Mode Kerja
Di era digital seperti sekarang, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Bekerja secara daring atau memiliki pekerjaan sampingan membuat kita cenderung terus berada dalam mode kerja, bahkan di luar jam kerja. Akibatnya, otak tidak pernah benar-benar beristirahat dan tingkat stres meningkat.
Terlalu sering berada dalam mode kerja juga berdampak negatif pada kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa bekerja tanpa jeda yang cukup dapat meningkatkan kadar kortisol dalam tubuh. Kortisol adalah hormon stres yang seharusnya berada pada level minimal di malam hari. Jika kadarnya tetap tinggi, kualitas tidur bisa terganggu, yang pada akhirnya memperburuk kondisi fisik dan mental.
Solusi: Terapkan ritual untuk menandai akhir dari jam kerja. Anda bisa meniru kebiasaan tokoh Andy Bernard dari serial The Office yang selalu menyanyikan lagu "Closing Time" setiap kali pulang kerja. Atau mengikuti metode Cal Newport, seorang profesor dan penulis produktivitas, yang selalu mengatakan pada dirinya sendiri, "Penjadwalan kerja selesai." Dengan melakukan ritual ini, otak akan mengenali bahwa pekerjaan telah selesai dan siap untuk beristirahat.
Tentukan waktu pasti untuk berhenti bekerja, misalnya pukul 19:00, dan patuhi aturan ini. Setelahnya, berikan waktu bagi diri sendiri untuk bersantai dan menikmati aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
4. Terus Memikirkan Daftar Tugas
Setiap orang memiliki daftar tugas yang harus diselesaikan. Namun, banyak orang tidak mencatat tugas-tugas ini, sehingga pikiran mereka terus dibebani dengan berbagai hal yang harus dilakukan. Akibatnya, otak terus bekerja tanpa henti untuk mengingat hal-hal yang perlu diselesaikan, bahkan saat sedang tidak bekerja.
Jika Anda memiliki tugas yang harus dilakukan tiga hari lagi tetapi tidak mencatatnya, Anda justru membebani pikiran Anda selama tiga hari penuh. Hal ini secara tidak sadar menguras energi mental yang seharusnya bisa digunakan untuk tugas lain yang lebih penting.
Solusi: Catat semua tugas yang harus diselesaikan. Anda bisa membuat daftar tugas harian atau mingguan agar pikiran tidak perlu terus-menerus mengingat pekerjaan yang belum selesai. Seperti yang dikatakan oleh aktor Matthew McConaughey, "Saya menulis sesuatu bukan untuk mengingatnya, tetapi agar saya bisa melupakannya." Dengan menuliskan tugas-tugas, Anda bisa melupakannya sementara dan fokus pada hal lain.
Sebagai contoh, Anda bisa menentukan waktu khusus, misalnya setiap Kamis pukul 16:00, untuk menyelesaikan semua tugas kecil yang menumpuk selama seminggu. Dengan cara ini, Anda tidak perlu merasa terbebani sepanjang minggu dan dapat lebih fokus pada pekerjaan utama Anda.
Kebiasaan kecil yang tampak sepele ternyata dapat memberikan dampak besar pada kesehatan mental kita. Meja kerja yang berantakan, kurangnya jadwal yang jelas, terus-menerus berada dalam mode kerja, dan membiarkan daftar tugas memenuhi pikiran bisa menguras energi mental kita tanpa disadari.
Untuk menjaga kesehatan mental, kita perlu menciptakan lingkungan yang mendukung, memiliki sistem kerja yang terstruktur, serta memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat. Dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan ini, kita dapat menjaga daya baterai mental kita tetap penuh dan menjalani hidup dengan lebih produktif serta lebih bahagia.