Senior PPP Bongkar Biang Kerok Partai Gagal ke Senayan: Bukan Mardiono
PPP tidak kekurangan kader internal yang layak menjadi ketua umum. Ia mengimbau agar tidak terburu-buru melirik eksternal.
Ketua Majelis Pertimbangan PPP Nusa Tenggara Timur (NTT), Yahidin Umar menegaskan, kegagalan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) lolos ke Senayan dalam Pemilu 2024 bukan sepenuhnya kesalahan Plt Ketua Umum Muhamad Mardiono.
Menurut Yahidin, kegagalan itu adalah hasil dari akumulasi kelemahan dalam kepemimpinan PPP selama empat periode terakhir.
“Gagalnya PPP ke Senayan itu bukan kesalahan Plt Ketum Mardiono semata, tapi ini akumulasi dari periode kepemimpinan yang dipimpin oleh empat ketua umum. Pak Surya, diambil alih Rommy, digantikan Suharso, kemudian Pak Mardiono,” kata Yahidin kepada wartawan, Rabu (3/6).
Soroti Manuver Romahurmuziy
Yahidin juga menyoroti manuver mantan Ketum PPP, M. Romahurmuziy (Romy), yang disebutnya tengah sibuk mencari calon ketua umum dari luar partai, seolah menjual partai.
“Kalau setiap kader beranggapan Rommy jualan partai sah-sah saja, karena di partai ada mekanisme untuk jadi ketua ada tahapan-tatapannya,” ujar dia.
Meski Romy menyebut AD/ART bukan kitab suci yang tak bisa diubah, Yahidin mengingatkan tetap ada mekanisme resmi dalam partai.
“Dan benarkah orang yang dipinang si Rommy itu mau menerima, atau hanya Rommy saja yang menjual-jual?” tanyanya.
Menurut Yahidin, PPP tidak kekurangan kader internal yang layak menjadi ketua umum. Ia mengimbau agar tidak terburu-buru melirik eksternal.
“Figur-figur itu masih layak untuk dijual dan meyakinkan umat. Karena kekuatan itu bukan hanya di figur, kekuatan tanda gambar juga ada, kekuatan cinta umat pada sejarah partai masa lalu itu masih kuat,” ucapnya.
“Terkecuali, di internal partai menyatakan kami tidak ada yang bersedia maka marilah kita sama-sama melamar figur luar,” tambahnya.
Yahidin menegaskan, pencarian ketum PPP seharusnya dilakukan secara kolektif, bukan one man show.
“Itu kerja kolaboratif dari seluruh unsur pimpinan partai, jangan one man show, terus merasa mewakili partai (Rommy). Tapi kalau tiap orang mendatangi orang di luar itu tidak etis,” tegasnya.
Ia menilai publik sudah bisa membaca Rommy punya kepentingan terselubung di balik manuvernya.
“Orang membaca jadi ada kesan memaksakan kehendak sendiri si Rommy. Beliau sudah mantan ketum, mantan sekjen, nah mengabdi di partai itu tidak harus menjadi ketum lagi,” sambung Yahidin.
Lebih lanjut, Yahidin meminta semua pihak, terutama Rommy dan pendukungnya, untuk tidak menyalahkan Mardiono secara sepihak.
“Pak Mardiono itu Plt sudah berapa lama? Toh itu kan baru. Dia menerima jabatan itu saat proses pemilu. Jadi janganlah masalah itu dibesar-besarkan,” pungkasnya.