Perintah Prabowo Aparat Tegas Lindungi Aset Negara dan Pejabat, Koleksi Iron Man Anggota DPR Ikut Dijarah Massa
Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan perintah tegas kepada aparat untuk melindungi aset negara dan pejabat dari penjarahan, menyusul kerusuhan yang meluas di Jakarta dan menargetkan rumah-rumah publik figur.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara tegas memerintahkan seluruh aparat keamanan untuk tidak ragu mengambil tindakan terukur dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman. Perintah ini secara khusus menyasar perlindungan terhadap keselamatan pribadi pejabat dan fasilitas negara yang menjadi target penjarahan. Pernyataan penting ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, yang mengutip pesan langsung dari Presiden saat memimpin Sidang Paripurna Kabinet Merah Putih di Kantor Presiden, Jakarta, pada hari Minggu.
Situasi ini muncul di tengah gelombang kerusuhan yang melanda Jakarta, di mana aksi unjuk rasa yang awalnya damai berubah menjadi tindakan anarkis. Setelah insiden pada 28 Agustus yang menewaskan seorang pengemudi ojek online akibat tindakan aparat, kemarahan massa semakin meluas. Kondisi ini menyebabkan kerusakan signifikan pada berbagai fasilitas umum dan penjarahan terhadap properti pribadi, termasuk kediaman para pejabat dan publik figur.
Beberapa nama besar turut menjadi korban penjarahan ini, di antaranya anggota DPR Ahmad Sahroni, yang kediamannya di Jakarta Utara dijebol massa. Tidak hanya itu, rumah anggota DPR Surya Utama alias Uya Kuya di Duren Sawit dan kediaman Eko Patrio di Kuningan, Jakarta Selatan, juga tak luput dari amukan massa. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun menjadi sasaran penjarahan sebanyak dua kali pada Minggu dini hari, menunjukkan betapa parahnya situasi keamanan yang terjadi.
Tindakan Tegas Aparat dalam Menjaga Ketertiban
Dalam arahannya, Presiden Prabowo Subianto dengan jelas menugaskan Kapolri dan Panglima TNI untuk tidak ragu dalam mengambil langkah-langkah tegas dan terukur terhadap para pelaku kerusuhan. Perintah ini berlaku bagi setiap individu yang terlibat dalam penjarahan, baik di wilayah pribadi maupun institusi negara. Penekanan pada tindakan tegas ini bertujuan untuk memastikan keamanan dan ketertiban dapat segera dipulihkan di tengah situasi yang memanas.
Selain perlindungan terhadap pejabat dan fasilitas negara, Presiden juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas nasional secara keseluruhan. Untuk mencapai tujuan ini, Prabowo meminta TNI-Polri untuk meningkatkan koordinasi. Kolaborasi ini harus terjalin erat dengan berbagai lembaga strategis lainnya, seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Kejaksaan Agung, hingga pemerintah daerah. Sinergi antarlembaga ini diharapkan dapat menciptakan respons yang lebih efektif dan komprehensif terhadap ancaman keamanan.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan bahwa soliditas seluruh aparat keamanan menjadi kunci utama dalam menjaga ketertiban. Kekompakan dan kerja sama yang baik di antara para penegak hukum sangat krusial untuk mendukung agenda kebangkitan ekonomi nasional. Dengan adanya stabilitas yang terjaga, diharapkan roda perekonomian dapat bergerak kembali tanpa hambatan yang berarti, sehingga pemulihan pasca-kerusuhan dapat berjalan lancar.
Meluasnya Kerusuhan dan Penjarahan di Ibu Kota
Gelombang aksi unjuk rasa yang bermula di DPR RI pada 25 Agustus 2025 dengan cepat berubah menjadi kerusuhan yang tidak terkendali. Insiden tragis pada 28 Agustus, yang menewaskan seorang pengemudi ojek online akibat tindakan aparat, memicu kemarahan massa yang semakin meluas. Situasi ini memperparah kondisi keamanan di Jakarta, menyebabkan aksi-aksi anarkis yang menargetkan berbagai fasilitas umum dan properti pribadi.
Para perusuh melakukan pembakaran dan perusakan sejumlah kantor kepolisian serta halte bus, menunjukkan tingkat vandalisme yang tinggi. Selain itu, penyerangan juga terjadi di Mako Brimob, yang merupakan fasilitas vital aparat keamanan. Puncak dari kerusuhan ini adalah penjarahan yang menyasar rumah-rumah anggota DPR RI, menandai eskalasi serius dalam tingkat kekerasan dan pelanggaran hukum yang terjadi di ibu kota.
Kerusuhan yang meluas di Jakarta pada 30–31 Agustus 2025 secara spesifik menyasar rumah sejumlah pejabat dan publik figur. Kediaman anggota DPR Ahmad Sahroni di Jakarta Utara menjadi salah satu korban penjarahan, di mana barang-barang berharga seperti televisi, kulkas, pendingin ruangan, hingga koleksi action figure Iron Man miliknya turut dijarah. Kerusakan juga terjadi pada mobil, gerbang, dan kaca rumah, menunjukkan tingkat kerusakan yang parah.
Tidak hanya itu, rumah anggota DPR Surya Utama alias Uya Kuya di Duren Sawit dan kediaman Eko Patrio di Kuningan, Jakarta Selatan, juga tak luput dari penjarahan. Massa yang tak terbendung menggasak hampir semua isi rumah, bahkan bahan dapur, meninggalkan kerugian besar bagi para pemilik. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun menjadi korban, rumahnya dijarah dua kali pada Minggu dini hari, menambah daftar panjang korban penjarahan. Beberapa rumah publik figur lain, termasuk yang disewa Nafa Urbach, ikut menjadi target amukan massa, menyoroti urgensi penanganan situasi keamanan ini.
Sumber: AntaraNews