IHSG Tertekan dan Rupiah Tembus Rp18.000, Analis Sarankan Investor Terapkan Strategi Defensif
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi jangka pendek.
Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berlanjut pada awal perdagangan Senin (8/6). Di tengah pelemahan pasar saham dan tekanan pada nilai tukar rupiah, investor dinilai perlu lebih selektif dalam menyusun strategi investasi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai kondisi fundamental pasar masih menghadapi tantangan yang cukup berat sepanjang pekan 8–12 Juni 2026. Sejumlah indikator makroekonomi dan pergerakan dana asing menunjukkan sentimen investor belum sepenuhnya pulih.
"Dimana kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi (3,08% yoy), Rupiah yang telah menembus Rp18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp60,8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik," kata Hari kepada Liputan6.com, Senin (8/6).
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi jangka pendek. Prioritas utama saat ini adalah menjaga modal dan mengelola risiko di tengah tren pasar yang masih lemah.
Hari menyarankan investor menerapkan strategi defensif hingga muncul tanda-tanda pemulihan yang lebih kuat. Dalam situasi saat ini, investor disarankan mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah yang memiliki tingkat likuiditas rendah.
Ia juga mengingatkan agar investor tidak terburu-buru melakukan strategi averaging down secara agresif sebelum terdapat sinyal stabilisasi nilai tukar rupiah dan konfirmasi pembentukan level dasar pergerakan pasar.
"Hindari averaging down secara agresif sebelum ada konfirmasi stabilisasi rupiah dan sinyal bottoming yang jelas dari price action," ujarnya.
Sementara itu, bagi investor dengan horizon investasi jangka menengah, Hari melihat peluang pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor perbankan dan consumer staples. Menurutnya, sejumlah saham di sektor tersebut telah diperdagangkan pada valuasi yang relatif menarik secara historis.
Meski demikian, ia menyarankan akumulasi dilakukan secara bertahap dengan porsi yang terukur sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter Bank Indonesia dan perkembangan kondisi pasar keuangan domestik.
Rekomendasi Saham
Di tengah koreksi IHSG yang masih berlangsung, ia merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai memiliki peluang trading dalam jangka pendek.
Pilihan pertama adalah saham PT Timah Tbk (TINS). Saat ini saham TINS berada di level harga Rp 3.150 dengan target harga Rp3.340 atau berpotensi naik sekitar 6,03%. Adapun batas cut loss direkomendasikan pada level Rp3.050.
Hari menjelaskan TINS masih mampu bertahan di atas area support 2.900 dan tetap berada di atas indikator Exponential Moving Average (EMA) 5 hari. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal teknikal yang cukup positif untuk diperdagangkan dalam sepekan ke depan.
Rekomendasi berikutnya adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Saham ini berada pada harga Rp 675 dengan target Rp 715 atau berpotensi memberikan kenaikan sekitar 5,93%. Sementara batas stop loss berada di level Rp 655.
"CUAN berpotensi reversal di level EMA5 dan berpotensi juga membentuk pola uptrend sehingga layak ditradingkan pada pekan ini," ujarnya.
Rekomendasi Lainnya
Sementara itu, saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) juga masuk dalam daftar pilihan. Dengan harga saat ini Rp 560, saham tersebut memiliki target harga Rp 600 atau potensi kenaikan sekitar 7,14%, dengan stop loss di level Rp 540.
Selain saham individu, Hari juga merekomendasikan Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) sebagai alternatif investasi di tengah gejolak pasar.
"Produk ETF XIHD menarik untuk dicermati karena portofolionya diisi oleh saham-saham berdividen yang relevan di tengah mulai maraknya pembagian dividen oleh sejumlah emiten," ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja XIHD, seiring meningkatnya daya tarik saham-saham berdividen sebagai sumber pendapatan sekaligus penopang volatilitas. Dengan sentimen tersebut, Power Fund Series dengan kode XIHD dapat menjadi alternatif investasi defensif yang tetap menawarkan peluang imbal hasil di tengah dinamika pasar.