Dari Jalanan ke Panggung Politik: Bagaimana Ojol, yang Lahir 2010, Kini Jadi Kekuatan Baru di Indonesia?
Subkultur ojek online (ojol) telah bermetamorfosis menjadi kekuatan politik baru yang tak terduga di Indonesia, mampu menggerakkan perubahan di jalanan dan memengaruhi kebijakan publik.
Penghujung Agustus hingga September 2025 menandai sejarah baru dalam dinamika sosial politik Indonesia. Ojek online (ojol), yang sebelumnya identik dengan layanan transportasi, kini tampil sebagai subkultur dengan kekuatan politik signifikan. Pergerakan ini terjadi di berbagai kota, termasuk Jakarta, menunjukkan metamorfosis peran mereka.
Gelombang protes atas kinerja Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi pemicu utama kemunculan kekuatan ini. Puncaknya adalah insiden gugurnya Affan Kurniawan saat bertugas mengantarkan pesanan pelanggan. Tragedi ini memicu solidaritas dan gerakan masif dari pengemudi ojol di seluruh penjuru negeri.
Pengemudi ojol menunjukkan kekuatan mereka pada penghujung Agustus dan awal September 2025, bergerak serentak dan cepat. Mobilitas tinggi mereka melampaui pergerakan subkultur tradisional seperti mahasiswa atau buruh. Fenomena ini mengukuhkan posisi ojol sebagai aktor baru yang patut diperhitungkan dalam lanskap politik nasional.
Metamorfosis Ojol: Dari Korban Menjadi Kekuatan
Ojol pertama kali lahir pada tahun 2010 ketika Nadiem Makarim mendirikan Gojek dengan 20 pengemudi awal. Pada masa itu, pergerakan dan kekuatan ojol belum sebesar yang terlihat saat ini. Banyak pengemudi ojol justru menjadi korban persaingan dengan pengojek pangkalan yang lebih dulu mapan di jalanan.
Namun, dalam lima belas tahun terakhir, ojol telah bermetamorfosis menjadi kekuatan besar yang tidak terbendung. Mereka kini mampu bergerak dengan sangat mobile dan cepat, bahkan melampaui kecepatan mobilitas aparat pemerintah. Transformasi ini mengubah citra ojol dari sekadar penyedia jasa menjadi entitas yang memiliki pengaruh sosial-politik.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa subkultur ojol bukan lagi kelompok marjinal. Sebaliknya, mereka telah menjadi bagian integral dari masyarakat yang mampu menyuarakan aspirasi. Kekuatan ini dibangun melalui solidaritas dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan zaman.
Empat Pilar Kekuatan Subkultur Ojol
Mobilitas dengan kecepatan tinggi yang ditunjukkan oleh ojol bukan tanpa alasan, sebab subkultur ini memiliki sumber daya pendukung yang kuat. Pertama, subkultur ojol memiliki banyak Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdidik. Migrasi besar-besaran kaum terdidik ke profesi ojol terjadi saat pandemi COVID-19. Banyak lulusan sarjana yang dirumahkan memilih menjadi pengemudi ojol sebagai satu-satunya pilihan profesi untuk bertahan hidup.
Sebelumnya, pengemudi ojek umumnya memiliki tingkat pendidikan dasar hingga menengah. Kehadiran kaum terdidik ini membuat ekosistem berpikir ojol menjadi lebih kritis dan sistematis. Mereka kini lebih berani bergerak untuk mengusung perubahan di Indonesia, sebuah potret langka dibandingkan subkultur petani atau buruh yang pemimpinnya seringkali bukan berasal dari kalangan organik.
Kedua, pengemudi ojol merupakan anak kandung transformasi digital di Indonesia, memiliki cara berpikir spasial. Ponsel pintar di genggaman tangan mereka berfungsi seperti pedang bagi samurai Jepang. Pengemudi ojol tidak mengalami gegar budaya saat berhadapan dengan aplikasi baru dan peta digital, berbeda dengan subkultur lain yang masih gagap teknologi.
Ketiga, pengemudi ojol memiliki sumber daya yang memadai untuk bergerak akseleratif, yaitu kendaraan roda dua dengan mobilitas tinggi dan biaya murah. Ketika ada tujuan bersama yang harus diperjuangkan, pengemudi ojol dapat berkumpul di satu titik serentak hanya dengan mengisi penuh tangki bensin. Sumber daya ini tidak dimiliki oleh petani, buruh, atau bahkan sebagian mahasiswa, yang menghadapi hambatan mobilitas.
Keempat, pengemudi ojol memiliki fleksibilitas waktu yang tinggi, layaknya pemilik saham yang merdeka waktu. Ketiadaan jam kerja tetap memungkinkan mereka bebas menentukan waktu bekerja dan beristirahat. Oleh karena itu, meninggalkan pekerjaan sementara untuk berjuang di jalan bukan persoalan sulit bagi mereka, berbeda dengan petani yang terikat musim atau buruh dan mahasiswa yang terikat jam kerja atau jadwal ujian.
Ojol di Panggung Politik dan Perjuangan Sosial
Publik menyaksikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membaca potensi kekuatan subkultur ojol ini dengan bertemu langsung perwakilan mereka, terlepas dari kontroversi di balik pertemuan tersebut. Kepolisian juga menunjukkan apresiasi serupa dengan menemui pengemudi ojol dan melakukan rekonsiliasi, seperti berpelukan dan berbagi bunga, sebagai upaya mendinginkan suasana.
Sebagai subkultur baru yang memiliki kekuatan politik besar, ojol menjelma menjadi organisasi pekerja sektor informal yang berfungsi sebagai alat perjuangan sosial ekonomi. Sudah sepantasnya pemerintah memperhatikan ekosistem ojol agar mereka dapat hidup sejahtera dengan jaminan sosial layaknya pekerja formal.
Pemerintah dapat menyediakan fasilitas asuransi seperti tenaga kerja dan kesehatan melalui kerja sama dengan perusahaan startup. Jika hal ini dilakukan, subkultur ojol dapat menjadi lebih sejahtera dan memberikan sumbangsih lebih besar kepada masyarakat. Ini adalah era baru bagi ojol, selamat datang subkultur baru!
Sumber: AntaraNews