Waspada Letusan Sekunder Semeru, BPBD Lumajang Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
BPBD Lumajang mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi letusan sekunder Semeru saat hujan deras mengguyur lereng gunung, mengingat bahaya yang ditimbulkan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat. Warga diminta mewaspadai potensi letusan sekunder Gunung Semeru.
Imbauan ini disampaikan menyusul hujan deras yang mengguyur lereng Gunung Semeru pada Minggu sore. Kondisi ini berpotensi memicu fenomena berbahaya tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa letusan sekunder terjadi di sepanjang Kali Wedok Daerah Aliran Sungai (DAS) Besuk Kobokan. Meskipun demikian, dampaknya di hilir tidak mengganggu aktivitas warga secara langsung.
Mengenal Letusan Sekunder Gunung Semeru
Letusan sekunder merupakan fenomena alam yang terjadi ketika air hujan bertemu dengan material vulkanik panas. Material ini adalah sisa erupsi yang masih berada di sepanjang aliran Sungai Besuk Kobokan.
Interaksi antara air dan material panas tersebut menghasilkan semburan asap putih tebal. Akibatnya, jarak pandang di area tersebut menjadi sangat terbatas dan membahayakan.
Isnugroho menambahkan bahwa letusan sekunder di selatan pos pantau mengarah ke timur Jembatan Gladak Perak. Ini menunjukkan area terdampak yang spesifik.
Fenomena ini biasanya muncul di luar pusat aktivitas gunung api. Aliran Sungai Kobokan kini menampung tumpukan material awan panas dengan suhu yang masih tinggi.
Imbauan Kewaspadaan dari BPBD dan BMKG
BPBD Lumajang secara tegas mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal ini sangat krusial saat terjadi banjir lahar hujan dari Gunung Semeru.
Para penambang pasir juga diminta untuk segera menghentikan aktivitas mereka demi keselamatan. Banjir lahar hujan dari hulu mengalir ke Sungai Besuk Kobokan dan Kali Lanang.
Sungai-sungai ini berada di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Catatan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru menunjukkan adanya getaran banjir lahar.
Sebanyak satu kali gempa getaran banjir terekam di seismograf. Amplitudo tercatat 35 milimeter dengan durasi gempa 6120 detik.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mengeluarkan peringatan dini. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di kawasan Gunung Semeru.
Kepala Stasiun BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, melaporkan bahwa hujan terjadi di wilayah Pronojiwo, Lumajang, dan Ampelgading, Malang. Potensi dampak yang perlu diwaspadai meliputi banjir lahar hujan, banjir bandang, serta longsor.
Status Siaga dan Zona Terlarang Gunung Semeru
Isnugroho menegaskan bahwa status Gunung Semeru masih dalam kondisi siaga. Oleh karena itu, masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara.
Larangan ini berlaku di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Ini adalah zona yang sangat berbahaya.
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Area ini berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru. Zona ini rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang mematikan.
Masyarakat juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar. Bahaya ini mengancam di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
Terutama, kewaspadaan tinggi diperlukan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga ada pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Sumber: AntaraNews