Warga Golantepus Kudus Gotong Royong Tangani Tanggul Jebol, Ribuan Rumah Terdampak Banjir
Tanggul jebol di Desa Golantepus, Kudus, memicu banjir meluas dan berdampak pada ribuan warga. Warga bergotong royong tangani tanggul jebol, namun debit air sungai yang tinggi terus menjadi tantangan.
Warga Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, bergerak cepat melakukan gotong royong untuk menangani tanggul sungai yang jebol dan melimpas di sejumlah titik. Aksi ini dilakukan guna mencegah meluasnya genangan banjir yang telah merendam permukiman mereka.
Kejadian tanggul jebol ini pertama kali terdeteksi pada Kamis (15/1) sekitar pukul 09.00 WIB, dipicu oleh tingginya debit air sungai akibat curah hujan ekstrem. Kondisi ini menyebabkan air melimpas di sejumlah titik dan menggenangi area permukiman warga.
Meskipun upaya penanganan darurat telah dilakukan, debit air sungai kembali meningkat pada Jumat (16/1), menyebabkan limpasan susulan dan genangan banjir yang belum surut. Kepala Desa Golantepus, Nuur Taufiq, mengapresiasi kesigapan warganya dalam menghadapi bencana ini.
Upaya Penanganan Awal dan Dampak Kerusakan Tanggul
Nuur Taufiq menjelaskan bahwa total ada delapan titik tanggul yang jebol, baik berukuran kecil maupun sedang, di berbagai aliran sungai yang melintasi Desa Golantepus. Aliran sungai tersebut di antaranya Sungai Piji, Sungai Dawe, Sungai Poceho, Sungai Prisen, dan Sungai Mrisi.
Berkat dukungan warga yang langsung bergerak cepat, tanggul-tanggul yang jebol tersebut sempat berhasil ditangani secara gotong royong. "Alhamdulillah, berkat dukungan warga yang langsung bergerak cepat bergotong royong, tanggul-tanggul yang jebol bisa ditangani," ujar Nuur Taufiq. Namun, penanganan ini bersifat sementara dan belum mampu menahan peningkatan debit air yang berkelanjutan.
Lokasi tanggul jebol tersebar di beberapa wilayah RT dan RW, termasuk RT 1 RW 2, RT 2 RW 1, RT 4 RW 1, dan RT 5 RW 1. Kondisi ini menunjukkan kerentanan infrastruktur tanggul di Desa Golantepus terhadap perubahan debit air.
Ribuan Warga Terdampak dan Ketinggian Air Banjir
Akibat kejadian tanggul jebol dan limpasan air, sekitar 30 rukun tetangga (RT) di Desa Golantepus terdampak banjir. Diperkirakan lebih dari 4.500 warga menghadapi kesulitan akibat bencana ini.
Jumlah rumah yang tergenang mencapai sekitar 2.500 unit, dengan ketinggian air bervariasi. Rata-rata genangan mencapai sekitar 50 sentimeter (Cm), namun di beberapa ruas jalan, air bahkan mencapai hampir satu meter sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Kondisi jalan yang terendam hampir satu meter ini menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan. "Hari ini debit air sungai kembali naik dan menyebabkan limpasan di beberapa titik. Warga kembali bergotong royong memperkuat tanggul agar tidak terjadi jebol maupun limpasan susulan," tambah Nuur Taufiq.
Tantangan Jangka Panjang dan Harapan Penanganan Permanen
Nuur Taufiq menyoroti bahwa kondisi sungai saat ini diperparah oleh pendangkalan serta belum optimalnya tinggi tanggul di sejumlah lokasi. Sebagian tanggul memang sudah permanen, tetapi tingginya masih kurang memadai.
Ketika debit air naik sedikit saja, air langsung melimpas dan berdampak ke permukiman warga. "Sebagian tanggul memang sudah permanen, tetapi tingginya masih kurang. Ketika debit air naik sedikit saja, langsung melimpas dan berdampak ke permukiman," jelasnya. Penanganan yang dilakukan warga saat ini masih bersifat sementara dan belum menjadi solusi jangka panjang.
Pemerintah Desa Golantepus berharap adanya penanganan permanen dari pemerintah daerah, terutama peninggian dan perbaikan tanggul sungai. Sebelumnya, Bupati Kudus bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah menjanjikan penyelesaian infrastruktur tanggul dan saluran air di wilayah RW 2 pada tahun 2027.
Nuur Taufiq berharap janji tersebut dapat direalisasikan mengingat wilayah Golantepus cukup rawan banjir jika curah hujan tinggi. "Harapan kami janji tersebut bisa direalisasikan, karena wilayah Golantepus cukup rawan banjir jika curah hujan tinggi," pungkasnya. Penanganan komprehensif diperlukan untuk mengatasi masalah tanggul jebol ini secara berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews