Wali Kota Makassar Ingatkan 153 Lurah: Garda Terdepan Kawal Kebersihan dan UMKM
Wali Kota Makassar instruksikan 153 Lurah Makassar menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan kota dan memberdayakan UMKM. Apa saja instruksi pentingnya?
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara tegas menginstruksikan seluruh lurah untuk mengawal kebersihan lingkungan dan memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayahnya. Instruksi ini disampaikan saat penutupan retret di Kawasan Puncak Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 12 Oktober. Penekanan ini menunjukkan betapa pentingnya peran lurah dalam mewujudkan visi kota.
Dalam arahannya, Munafri Arifuddin menyoroti posisi lurah sebagai garda terdepan pemerintahan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka adalah representasi pemerintah di lapangan, sehingga memiliki tanggung jawab besar dalam implementasi program-program kota. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang tujuh program unggulan Pemkot Makassar menjadi krusial bagi setiap lurah.
Instruksi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap kelurahan dapat menjadi motor penggerak perubahan positif, khususnya dalam pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, dan pengembangan UMKM. Wali Kota menekankan bahwa semua program kota bermuara di tingkat kelurahan, menjadikannya kunci keberhasilan pembangunan kota secara menyeluruh.
Peran Strategis Lurah sebagai Garda Terdepan
Sebanyak 153 lurah di Makassar diingatkan kembali mengenai peran vital mereka sebagai ujung tombak pemerintahan. Wali Kota Munafri Arifuddin menegaskan bahwa lurah adalah pihak yang paling dekat dengan warga, sehingga merekalah yang paling memahami dinamika dan kebutuhan masyarakat. Posisi ini menempatkan Lurah Makassar pada garda terdepan dalam menjalankan visi dan misi Pemerintah Kota Makassar.
Setiap Lurah Makassar diharapkan tidak hanya memahami, tetapi juga mengimplementasikan tujuh program unggulan Pemkot Makassar secara utuh. Program-program ini mencakup berbagai sektor penting, termasuk pengelolaan sampah, menjaga kebersihan lingkungan, dan pengembangan pertanian lahan sempit. Keberhasilan program-program ini sangat bergantung pada dedikasi dan kinerja para lurah di lapangan.
Penekanan pada peran lurah ini juga mencakup kemampuan mereka dalam memperkuat sektor-sektor kebutuhan dasar warga. Dengan demikian, lurah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa pelayanan publik berjalan optimal dan masalah-masalah di tingkat akar rumput dapat diatasi dengan efektif. Ini menjadikan lurah sebagai pilar utama dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.
Fokus Utama: Kebersihan Kota dan Pengelolaan Sampah
Salah satu penekanan khusus yang diberikan Wali Kota Makassar adalah masalah kebersihan kota, terutama menjelang musim penghujan. Musim hujan seringkali menyebabkan genangan air akibat saluran yang tersumbat, sehingga peran Lurah Makassar menjadi sangat krusial dalam menggerakkan warga untuk menjaga lingkungan. Mereka harus menjadi motor penggerak utama dalam upaya kebersihan ini.
Wali Kota meminta setiap lurah untuk memastikan warganya menerapkan pemisahan sampah organik dan non-organik, dengan modal sederhana "dua ember". Strategi ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mempermudah proses daur ulang. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah menjadi tugas utama para lurah.
Munafri juga menegaskan pentingnya pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang terintegrasi di tingkat RT dan RW. Konsep ini bukan hanya soal menjaga kebersihan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat. Implementasi "teba, biopori, maggot, dan eco-enzyme" diharapkan dapat mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Sirkular
Selain kebersihan, pemberdayaan UMKM juga menjadi fokus instruksi Wali Kota kepada para lurah. Lurah memiliki peran penting dalam mengedukasi pelaku UMKM agar turut menjaga kebersihan area usaha mereka. Hal ini sejalan dengan upaya menciptakan lingkungan kota yang bersih dan nyaman, yang pada gilirannya akan mendukung iklim usaha yang lebih baik.
Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang dicanangkan oleh Wali Kota Makassar memiliki korelasi erat dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk UMKM. Dengan mengelola sampah secara benar, masyarakat dapat menciptakan produk bernilai tambah, seperti kompos dari sampah organik atau budidaya maggot. Ini membuka peluang baru bagi UMKM lokal untuk berkembang.
Melalui pendekatan ini, Wali Kota berharap Lurah Makassar dapat menjadi fasilitator bagi UMKM untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan dan memanfaatkan potensi ekonomi dari sampah. "Saya mau di RT dan RW itu sistem pengelolaan sampahnya terintegrasi. Harus ada teba, biopori, maggot, dan eco-enzyme," kata Munafri Arifuddin, menunjukkan komitmennya terhadap program ini.
Sumber: AntaraNews