Fakta Menarik: Pemkot Gandeng Unibos Wujudkan Makassar Bebas Sampah 2029 Lewat Eco Circular Hub
Pemerintah Kota Makassar bersama Unibos meluncurkan Eco Circular Hub, inisiatif ambisius untuk mewujudkan Makassar Bebas Sampah 2029. Bagaimana kolaborasi ini akan mengubah pengelolaan limbah kota?
Pemerintah Kota Makassar, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), secara resmi menggandeng Universitas Bosowa (Unibos) dalam sebuah inisiatif ambisius. Kolaborasi ini ditandai dengan peluncuran Makassar Eco Circular Hub pada 7 Oktober, sebuah langkah strategis untuk mengatasi persoalan sampah di kota tersebut. Program ini secara konkret menargetkan pencapaian Makassar Bebas Sampah 2029.
Inisiatif ini dirancang untuk mentransformasi sistem pengelolaan sampah kota yang selama ini bersifat linear menjadi model sirkular yang jauh lebih berkelanjutan. Dengan demikian, limbah tidak hanya dibuang, melainkan didaur ulang dan dimanfaatkan kembali. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menekankan pentingnya partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dalam program ini.
Munafri Arifuddin pada Selasa, saat peluncuran Eco Circular Hub dan pembekalan KKN Mahasiswa Unibos, menegaskan bahwa keberhasilan program ini memerlukan sinergi kolektif. Semua pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat di tingkat RT/RW, harus berkontribusi. Tidak ada satu pun yang bisa berdiam diri melihat tantangan ini.
Kolaborasi Lintas Sektor Wujudkan Makassar Bebas Sampah 2029
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara tegas menyatakan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mewujudkan Makassar Bebas Sampah 2029. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis pengelolaan sampah, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. Pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah yang efektif juga menjadi prioritas.
Munafri menyoroti peran sentral para akademisi dan mahasiswa dalam inisiatif ini. Mereka diharapkan dapat menjembatani antara teori dan praktik di lapangan. "Ini adalah tantangan kita bersama, dan semua orang yang ada di dalamnya harus ikut berpartisipasi," kata Munafri. Ia menambahkan, "Dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat di tingkat RT/RW. Tidak ada yang bisa berpangku tangan."
Peluncuran Makassar Eco Circular Hub ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen Pemerintah Kota Makassar. Mereka berupaya menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Model sirkular ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA serta meningkatkan nilai ekonomi dari limbah.
Peran Vital Mahasiswa dan Akademisi dalam Gerakan Lingkungan
Dalam kesempatan pembekalan KKN Mahasiswa Unibos, Munafri Arifuddin secara khusus memberikan pesan penting kepada para mahasiswa. Ia berharap mahasiswa dapat menjadi solusi nyata bagi persoalan kota, khususnya dalam isu lingkungan. Mereka diminta untuk menunjukkan bahwa kaum intelektual memiliki kemampuan untuk membawa perubahan positif.
"Tunjukkan bahwa kaum intelektual mampu menjadi solusi nyata bagi persoalan kota," ujar Munafri. Ia melanjutkan, "Berikan transfer pengetahuan terbaik, dan jadilah role model perubahan." Pesan ini menggarisbawahi harapan besar pemerintah terhadap kontribusi pemikiran dan aksi nyata dari generasi muda terdidik.
Rektor Unibos, Prof Batara Surya ST, menyambut baik ajakan kolaborasi ini dan menyatakan kesiapan kampusnya. Beliau menyoroti peran strategis mahasiswa sebagai duta perubahan di tengah masyarakat. "Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan keilmuan," kata Prof Batara. Ia menambahkan, "Berada di tengah masyarakat itu adalah ujian yang sesungguhnya."
Selain fokus pada pengelolaan sampah, Wali Kota Makassar juga mengajak Unibos untuk berpartisipasi dalam gerakan satu mahasiswa satu pohon. Inisiatif ini merupakan bentuk dukungan terhadap program penghijauan kota. Hal ini menunjukkan bahwa visi Makassar Bebas Sampah 2029 tidak hanya tentang limbah, tetapi juga tentang ekosistem kota yang lebih hijau dan sehat secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews