Video Call Terakhir Sebelum Naik KMP Tunu Pratama Jaya
Seperti layaknya suami istri. Saling mengabarkan. Lewat sambungan telepon. Meski dipisah jarak karena tuntutan mencari nafkah.
Tak ada firasat buruk apapun. Hanya rasa rindu yang membalut di pikiran Kadek Sudiartini (38). Lewat video call, dia berbincang dengan sang suami tercinta, Putu Mertayasa (43).
Seperti layaknya suami istri. Saling mengabarkan. Lewat sambungan telepon. Meski dipisah jarak karena tuntutan mencari nafkah. Mertayasa adalah sopir truk material bangunan yang menumpang KMP Tunu Pratama Jaya.
Kapal itu tenggelam saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk, Rabu (2/7) tengah malam.Mertayasa dan istri tinggal di Desa Anturan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Pria tersebut menjadi tulang punggung keluarga dan bekerja menafkahi istri dan empat orang anaknya.Sudiartini menceritakan, suaminya telah bekerja sebagai sopir selama 20 tahun lebih. Sebelum menjadi sopir truk, suaminya bekerja sebagai sopir angkutan kota di Bali.
Beberapa Jam Sebelum Tragedi
Dalam perjalanan menuju Kota Denpasar, Mertayasa membawa truk berisi material bangunan dan besi. Pukul 20.30 WIB, sang suami telepon dari Situbondo, Jawa Timur.
"Dia bilang masih di Situbondo, dan menanyakan apakah anak-anak sudah makan," ungkap Kadek.
Korban punya empat orang anak. Tiga di antaranya, masih remaja dan yang paling besar berusia 19 tahun. Anak bungsunya, berusia satu tahun lima bulan.Beberapa menit saling mengabarkan, telepon genggam pun ditutup. Antara Kadek dan Mertayasa melakukan aktivitasnya masing-masing.
Esok harinya, Kamis (3/7), Sudiartini mendapat informasi tentang tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya dari adik iparnya sekitar pukul 08.00 WITA.
Tak lama setelah mendengar kabar itu, dia langsung mengambil telepon genggamnya. Mencari nomor sang suami. Lalu menelponnya. Sayang, tak berbalas.
Sudiartini akhirnya mendapat kabar. Bak tersambar petir di siang bolong. Suaminya benar berada di kapal tersebut. Kabar itu datang dari rekan Mertayasa sesama sopir.
Tak lama, dia langsung bergegas berangkat menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk mencari informasi mengenai keberadaan suaminya.
Kabar Buruk Datang
Ia menunggu seharian di pelabuhan ditemani sejumlah keluarganya. Karena tak kunjung mendapatkan kepastian, ia akhirnya pulang ke Buleleng. Selama satu minggu, Sudiartini diliputi rasa gelisah setiap mendengar informasi penemuan jenazah korban.
"Setiap ada kabar penemuan jenazah, saya deg-degan. Benar-benar was-was kalau itu suami saya," tuturnya lirih.
Pada Selasa (8/7) malam, ia mengaku mengalami mimpi dan suaminya datang dalam keadaan hanya mengenakan celana, tanpa baju, dan berkata padanya jika akan segera pulang.
Sepekan menanti, ia akhirnya mendapat kabar tentang suaminya. Namun nahas, suaminya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah Mertayasa ditemukan oleh nelayan di Pantai Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, Rabu (9/7) malam.
Sudiartini menyampaikan, dirinya mengetahui kabar suaminya meninggal dunia dari kepala lingkungan di tempat tinggalnya Desa Anturan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali.
Jenazah Mertayasa kini telah dibawa ke rumah duka. Pihak keluarga akan melakukan upacara pemulasaraan jenazah sesuai agama Hindu.
”Masih nunggu hari baik. Rencana mau dikremasi," ujarnya.