Misteri Dua Jenazah di Ujung Pandaran Terungkap: Dipastikan Korban Tugboat Tenggelam di Perairan Pegatan
Dua jenazah yang ditemukan di perairan Ujung Pandaran, Kotawaringin Timur, akhirnya teridentifikasi sebagai korban tugboat tenggelam di Pegatan. Penemuan ini membuka tabir kronologi tragis yang menimpa empat kru kapal tersebut.
Dua jenazah yang ditemukan di perairan Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada Jumat (10/10) telah dipastikan sebagai korban insiden tugboat tenggelam. Peristiwa tragis ini sebelumnya terjadi di perairan Pegatan, Kabupaten Katingan, pada Selasa (7/10) dini hari. Identifikasi ini menguak identitas Pujianto dan Agus Sugianto, dua dari empat kru kapal yang mengalami musibah.
Kepastian identitas korban disampaikan oleh Kabagbinopsnal Polda Kalteng, Kompol Masharsono, di Sampit pada Sabtu (11/10). Kedua jenazah tersebut langsung dibawa ke RSUD dr. Murjani Sampit untuk proses visum dan verifikasi data lebih lanjut. Penemuan ini menjadi titik terang dalam upaya pencarian korban yang hilang setelah kapal tugboat tanpa muatan itu karam.
Insiden ini bermula ketika kapal tugboat bertolak dari Sampit menuju Banjarmasin pada Senin (6/10) dengan empat awak. Namun, kebocoran tak terduga menyebabkan kapal tersebut tenggelam di tengah perjalanan. Hanya nakhoda yang berhasil diselamatkan, sementara tiga kru lainnya menjadi korban dalam peristiwa nahas tersebut.
Identifikasi dan Lokasi Penemuan Jenazah Korban Tugboat Tenggelam
Jenazah pertama, Pujianto, ditemukan pada Jumat pagi sekitar 2,3 mil dari bibir pantai Ujung Pandaran. Lokasi penemuan ini berjarak sekitar 28,65 mil dari titik tenggelamnya kapal di perairan Pegatan. Penemuan ini memberikan harapan baru bagi tim pencari dalam menemukan korban lainnya.
Kemudian, pada Jumat sore, jenazah kedua yang diidentifikasi sebagai Agus Sugianto (54) berhasil ditemukan. Lokasinya sekitar 28,54 mil laut ke arah barat laut dari titik awal, atau sekitar 447 meter dari lokasi ditemukannya Pujianto. Kedua penemuan ini menegaskan bahwa arus laut membawa korban cukup jauh dari lokasi kejadian awal.
Kompol Masharsono menegaskan, "Jenazah sudah dibawa ke RSUD dr Murjani Sampit untuk visum dan mengetahui identitasnya." Proses visum ini penting untuk memastikan identitas dan penyebab kematian, serta melengkapi data penyelidikan terkait insiden korban tugboat tenggelam ini. Pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan tim SAR dan keluarga korban.
Kronologi Tragis Tenggelamnya Tugboat di Perairan Pegatan
Kisah tragis ini bermula pada Senin (6/10) saat sebuah kapal tugboat kayu tanpa muatan berlayar dari Sampit menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kapal tersebut diawaki oleh nakhoda Ode Zulfikar, serta tiga kru lainnya yaitu Pujianto, Sugianto, dan Cahyo. Perjalanan yang seharusnya rutin berubah menjadi bencana.
Pada Selasa (7/10) sekitar pukul 01.00 WIB, nakhoda merasakan keanehan pada kapal dan segera memerintahkan kru untuk memeriksa ruang mesin. Dugaan awal terbukti, ruang mesin sudah dipenuhi air. Upaya penyedotan air menggunakan mesin alkon tidak membuahkan hasil, menandakan kebocoran yang parah pada kapal.
Melihat kondisi kritis, nakhoda memutuskan untuk mengubah haluan kapal menuju Pegatan, Kabupaten Katingan, yang dianggap sebagai daratan terdekat. Namun, nasib berkata lain. Sekitar pukul 02.00 WIB, sekitar 3 mil laut dari muara Pegatan, tugboat tersebut akhirnya tenggelam sebelum mencapai pantai. Nakhoda sempat memerintahkan kru menggunakan alat keselamatan dan naik ke liferaft, namun hanya dua orang yang sempat naik. Dua lainnya tidak sempat, dan mereka semua terpisah akibat gelombang.
Beruntung, nakhoda Ode Zulfikar berhasil ditemukan selamat oleh nelayan sekitar pukul 08.00 WIB. Ia kemudian dibawa ke Pegatan dan melaporkan insiden tersebut ke Markas Unit Ditpolairud setempat. "Yang berhasil ditemukan hanya satu orang yaitu nakhoda. Dia ditemukan dalam kondisi selamat oleh nelayan sekitar pukul 08.00 WIB, kemudian dibawa ke Pegatan dan dilaporkan ke Markas Unit Ditpolairud yang ada di Pegatan dan dibawa ke puskesmas untuk diberikan pengobatan," ujar Masharsono, menjelaskan penyelamatan nakhoda.
Tindak Lanjut Penyelidikan dan Upaya Pencarian Korban Tugboat Tenggelam
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa indikasi utama penyebab tenggelamnya kapal adalah kebocoran yang menyebabkan air masuk ke dalam lambung kapal. Nakhoda kapal saat ini sedang dimintai keterangan lebih lanjut oleh pihak kepolisian untuk menggali informasi detail mengenai kejadian tersebut. Informasi dari nakhoda sangat krusial dalam memahami kronologi dan penyebab pasti insiden korban tugboat tenggelam ini.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sampit juga turut berkoordinasi dengan kepolisian. Meskipun tidak ada laporan resmi keberangkatan kapal dari Sampit, KSOP tetap mengambil langkah proaktif. "Perairan Pegatan itu memang masih masuk wilayah kerja KSOP Sampit. Kami juga membantu melakukan pencarian korban dan kami membantu SAR. Ada satu mobil diberangkatkan," kata Baharudin dari Humas KSOP Sampit.
Selain membantu pencarian, KSOP Sampit juga mengambil langkah keselamatan penting dengan memberi tanda di lokasi tenggelamnya kapal. Penandaan ini bertujuan agar bangkai kapal tidak membahayakan kapal lain yang melintas di perairan tersebut. Upaya pencarian terhadap satu orang kru yang masih hilang terus dilakukan oleh tim gabungan. Koordinasi antar instansi menjadi kunci dalam penanganan insiden ini.
Sumber: AntaraNews