UIN Walisongo Jadi Tuan Rumah Indonesian Interfaith Scholarship 2025: Harmonisasi Budaya dan Agama
UIN Walisongo Semarang menjadi tuan rumah Indonesian Interfaith Scholarship 2025, ajang internasional yang mengusung tema harmonisasi budaya dan agama. Simak detailnya!
UIN Walisongo Semarang baru-baru ini menjadi pusat perhatian internasional dengan menjadi tuan rumah Indonesian Interfaith Scholarship 2025. Acara bergengsi ini merupakan forum dan pameran internasional yang berfokus pada tema "Harmonizing Culture and Religion in Indonesia." Kegiatan ini sukses digelar di halaman Galeri Nusantara ISAI, Semarang, pada hari Sabtu lalu.
Inisiatif penting ini terselenggara berkat kerja sama erat antara UIN Walisongo, Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Jawa Tengah, dan Kedutaan Besar Austria. Kolaborasi ini bertujuan untuk meneguhkan nilai-nilai kerukunan antarumat beragama melalui ekspresi seni dan budaya. Para delegasi dari berbagai latar belakang turut memeriahkan acara ini.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Walisongo, Prof Dr M Mukhsin Jamil, menyambut hangat seluruh peserta yang hadir. Ia menekankan bahwa Semarang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia, menjadikannya lokasi ideal untuk kegiatan semacam ini. Acara Indonesian Interfaith Scholarship UIN Walisongo ini diharapkan dapat menjadi ajang penting dalam memperkuat pemahaman lintas budaya dan agama.
Semarang, Pusat Harmoni Keberagaman
Prof Dr M Mukhsin Jamil menegaskan bahwa Semarang merupakan salah satu kota paling toleran di Indonesia. Ia menilai kegiatan Indonesian Interfaith Scholarship 2025 ini menjadi ajang penting dalam meneguhkan kerukunan melalui seni dan budaya. "Selamat datang di UIN Walisongo dan selamat datang di Semarang. Kami menyambut baik kedatangan para delegasi dengan menampilkan berbagai pertunjukan sebagai representasi perbedaan dan kerukunan di Indonesia," katanya.
Perwakilan PKUB Jawa Tengah, Dr Paulus Tasik Galle, turut menyampaikan bahwa provinsi ini memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Menurutnya, keberadaan beragam rumah ibadah menjadi bukti nyata harmoni keberagaman yang terjaga. Mulai dari Kelenteng Sam Poo Kong hingga Candi Borobudur, semuanya merefleksikan kerukunan yang telah lama terpelihara.
Kehadiran Indonesian Interfaith Scholarship UIN Walisongo di Semarang memperkuat citra kota ini sebagai model kerukunan. UIN Walisongo secara konsisten berperan aktif dalam mempromosikan dialog antariman dan pemahaman budaya. Hal ini sejalan dengan visi universitas untuk menjadi lembaga pendidikan yang inklusif dan berwawasan global.
Apresiasi Internasional untuk Kekayaan Budaya Indonesia
Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh perwakilan Kedutaan Besar Austria, Alexander Rieger, yang mengaku terkesan dengan penampilan budaya yang disajikan. "Terima kasih atas performance tarian dan budaya. Kami sangat menikmati," ujarnya. Rieger, yang juga seorang pelukis, mengungkapkan bahwa momentum tersebut menjadi pengalaman artistik yang sangat berkesan baginya.
Ia menambahkan, "Saya biasanya tidak nyaman melihat orang menggambar tanpa ikut serta. Namun, hari ini menjadi pengalaman luar biasa dalam perjalanan hidup saya. Musik dan gambar membuat saya ingin mengambil peran dalam melukis ini." Pengalaman ini menunjukkan dampak mendalam dari pertukaran budaya yang terjadi.
Kegiatan Indonesian Interfaith Scholarship UIN Walisongo kemudian dilanjutkan dengan sesi live painting yang melibatkan seluruh tamu undangan. Para peserta berkesempatan melukis bersama di atas kanvas besar, menciptakan simbol kolaborasi dan kebersamaan lintas budaya. Setelah itu, para peserta diajak mengunjungi pameran karya mahasiswa yang dipamerkan di Galeri Nusantara, menampilkan kreativitas dan perspektif generasi muda.
Sumber: AntaraNews